Etika Kepemimpinan di Tengah Pandemi



Anggota Komisi VIII DPR, Bukhori Yusuf, meminta kepada pemerintah untuk menyertakan hati nurani, dan secara khusus kepada Presiden, supaya berpihak pada keselamatan nyawa tenaga medis dalam mengatasi COVID-19.

Bukhori menyesalkan angka kematian tenaga medis yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurutnya, bertambahnya angka kematian tenaga medis tersebut merupakan konsekuensi dari model penanganan Covid-19 oleh pemerintah yang lemah dalam memprioritaskan aspek kesehatan. (SuaraIslam. id, 31/9/2020)

Dilansir dari Kompas. com , epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan terus bertambahnya dokter yang meninggal dunia akibat Covid-19 adalah kerugian besar bagi Indonesia.

Dia mengungkapkan, berdasarkan data Bank Dunia, jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara, yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk.

"Artinya, Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang melayani 10.000 penduduknya. Sehingga, kehilangan 100 dokter sama dengan 250.000 penduduk tidak punya dokter," kata Dicky saat dihubungi Kompas. com, Senin (31/8/2020).

Angka tersebut menunjukkan  perbandingan sedikitnya jumlah dokter dengan penduduk yang musti diberikan pelayanan. Sementara jumlah kasus covid-19 sedang melonjak naik. Hal ini musti menjadi acuan bagi pemerintah dalam bertindak, agar tidak ada lagi penambahan kasus-kasus baru.

Namun amat disayangkan pemerintah sepertinya sudah mati rasa. Diawali sikap keukeh  pemerintah menerapkan new normal dengan membuka pasar dan tempat-tempat pariwisata, menyusul  dengan rencana membuka bioskop dan konser musik ditengah pandemi covid-19. Hal ini jelas sangat kebablasan dan tidak manusiawi lagi.

Ditambah buruknya persepsi masyarakat, seolah persoalan covid-19 bukanlah hal yang perlu diseriusi. Padahal tindakan preventif lebih utama dilakukan untuk mencegah kenaikan kasus dan mengurangi tingkat kematian. Apalagi terkait dengan keselamatan  tenaga kesehatan sebagai garda belakang.

Dengan banyaknya korban meninggal dari kalangan tenaga kesehatan ini harus jadi evaluasi diri bagi pemerintah. Bahwasanya kebijakan yang  selama ini diterapkan  hanya sifatnya bongkar pasang,  tidak ada solusi jitu yang benar-benar kongkrit bisa diterapkan disemua elemen masyarakat. 

Saatnyalah sekarang pemerintah  dan pihak terkait mendukung  upaya pencegahan  dan meminimalisir tingkat kematian tenaga medis dengan cara;

Pertama, melakukan  tindakan preventif dari pihak rumah sakit dengan mengevaluasi manajemen pengelolaan pasiein covid. Khususnya melengkapi ketersediaan APD  dan juga istirahat yang cukup bagi tenaga kesehatan.

Kedua, pemerintah musti mendukung secara penuh upaya penanggulangan covid-19 dari segi pembiayaan. Seperti ketersediaan peralatan, obat-obatan dan pembayaran langsung kerumah sakit agar rumah sakit memiliki cash flow untuk pelayanan.

Ketiga, pemerintah juga harus gencar mengkampanyekan pencegahan covid-19  dengan memberdayakan para influencer untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Seperti  memberikan edukasi juga kesadaran kepada  masyarakat  akan bahaya pandemi covid-19.

Keempat, dari beberapa bulan berjalan kasus covid-19 bukannya tambah menurun, malah semakin meroket. Oleh karena itu upaya lockdown pun rasanya pantas untuk diterapkan secara total sampai nol kasus.  Tanpa hitung-hitungan lagi soal kerugian akan dampak berhentinya aktifitas perekonomian untuk beberapa saat.

Dengan disadari beratnya beban pemimpin dalam hal ini adalah pemerintah. Maka tidak salah  Islam mengajarkan  etika paling pokok dalam kepemimpinan adalah tanggung jawab. Akan tetapi tanggung jawab disini bukan semata-mata bermakna melaksanakan tugas lalu selesai. Tetapi adalah mewujudkan pelayanan dan  kesejahteraan bagi pihak yang dipimpin. 

Ibn Umar r.a berkata; saya telah mendengar rasulullah bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala  negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. 

Maka oleh karena itu tidak ada yang sia-sia dilakukan jika semua yang dilakukan hanya mencari keridaan Allah SWT semata. Karena kerugian materi bukanlah hal yang besar dibanding ganjaran diakherat kelak. Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Maidah:32)

Wallahu alam.[]

Oleh: Zenia Rumaisya
(Institut Kajian Politik dan Perempuan) 


Posting Komentar

0 Komentar