+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Dr. Ahmad Sastra, M.M.: sebagai Masyarakat Indonesia, Saya tidak Merasa Menjadi Korban Dakwah Ustaz Ismail Yusanto


 
Perkenalkan nama saya Ahmad Sastra, lahir di Semarang, 42 tahun yang lalu. Saya adalah resmi sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, dengan Kartu Tanda Penduduk warga Indonesia. Saya adalah masyarakat Indonesia yang mencintai negeri ini karena Allah. Saya begitu yakin akan kebenaran firman Allah, saya juga sangat percaya bahwa Indonesia dan seluruh jagad raya ini adalah milik Allah, makhluk ciptaan Allah.

Saya begitu yakin bahwa seluruh makhluk seperti manusia, malaikat, hewan, setan hingga virus dan bakteri adalah ciptaan Allah. Tidak ada satupun makhluk di alam raya ini yang terlepas dari pengawasan Allah. Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah telah menjadi keyakinan vinal dalam hidup saya. Rasulullah Muhammad SAW sebagai utusan adalah harga mati bagi saya. 

Saya begitu yakin bahwa asal mula alam semesta dan manusia itu diciptakan oleh Allah. Saya begitu sadar bahwa tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk mengabdi dan menyembah kepada Allah. Yakin sadar ternyata apa yang harus saya lakukan di dunia ini harus bernilai ibadah, artinya harus selalu terikat dengan hukum-hukum syariat.

Saya paham dan sadar bahwa hukum perbuatan itu ada lima : wajib, Sunnah, mubah, makruh dan haram. Kelima hukum perbuatan dalam Islam ini adalah timbangan akurat apakah perbuatan saya kelak dinilai sebagai ibadah atau sebagai kemaksiatan. Sebab saya juga sadar bahwa ujung dari kehidupan dunia ini adalah kembali kepada Allah di akhirat.

Di akhirat, seluruh perbuatan akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Disinilah kehidupan hakiki dimulai, apakah manusia akan dimasukkan surga oleh Allah atau akan disiksa dalam panasnya api neraka. Karena itu saya meyakini bahwa hidup harus senantiasa berorientasi kepada keselamatan akhirat, yakni mendapatkan ridha dari Allah SWT.

Tugas ibadah sebagai fungsi kehambaan mengantarkan saya kepada sebuah perenungan yang mendalam tentang hakikat hidup ini. sejauh mana sebenarnya saya telah melakukan perjalanan hidup di dunia ini ?. Sudahkah perjalanan saya melewati jalan yang benar ?. Sudah sejalankah seluruh perilaku hidup saya, baik dalam bermuamalah, beribadah, berperilaku, berumah tangga, berinteraksi sosial, berdakwah dengan hukum dan aturan Allah ?.

Perenungan ini saya lakukan ketika saya mendapatkan sebuah pemahaman akan kesempurnaan Islam. Islam sebagai agama sempurna ternyata mengatur seluruh aspek kehidupan pribadi manusia, sosial hingga urusan-urusan kenegaraan. Islam sebagai agama sempurna ternyata mengatur bidang ekonomi, politik, budaya, pendidikan, sosial, dan bahkan hubungan luar negeri.

Dalam bidang ekonomi misalnya, ternyata Islam memiliki mata uang sendiri yang terbuat dari perak dan emas yang secara intrinsik memiliki nilai, sehingga tidak akan mengalami krisis. Mata uang Islam tidak sama dengan mata uang yang kita kenal sekarang yang terbuat dari kertas, dimana tidak memiliki nilai intrinsic, sehingga akan sangat mudah terpapar krisis. Itulah mengapa di dunia ini sering terjadi krisis ekonomi, salah satunya karena penggunaan mata uang kertas.

Nah, pemahaman soal mata uang dirham dalam masalah ekonomi Islam inilah saya dapatkan dari seorang ustadz Muda yang ngisi pengajian pagi di sebuah masjid kampus di Bogor, di kemudian hari saya baru tahu ustadz itu bernama Muhammad Ismail Yusanto. Peristiwa bersejarah bagi saya ini terjadi sekitar tahun 1998, saat itu saya baru memasuki bangku kuliah semester satu.

Sejak itu saya mencoba memahami Islam secara lebih intensif. Sayangnya, saya tidak bertemu lagi dengan ustadz Ismail Yusanto. Saya hanya bertemu dua kali dalam pengajian di tahun 1998 itu, setelahnya tidak lagi bertemu. Saya masih ingat betul saat Ustadz Islamil Yusanto mengisi pengajian : penjelasannya terang benderang, bahasanya santun dan penuh argumen intelektual, sama sekali tidak doktriner.

Sejak dulu saya tidak pernah ikut-ikutan, apapun selalu saya pikirkan terlebih dahulu. Saya memahami bahwa apa yang disampikan oleh Ismail Yusanto pada saat pertama saya bertemu adalah sebuah kebaikan yang berasal dari ajaran Islam demi kebaikan negeri ini, lain itu tidak. Bahkan hingga hari ini, sering saya mengikuti kajian-kajian online Ismail Yusanto juga tidak berubah, masih seputar kebaikan Islam untuk negeri ini.

Jika dibangun argumen intelektual, maka pemikiran Ismail Yusanto justru patut dijadikan pertimbangan bagi para pemimpin negeri ini. Bagi saya, apa yang disampaikan Ismail Yusanto tidak ada unsur kejahatan yang merongrong keamanan negeri ini. Justru dengan tegas sering dia sampaikan bahwa ideologi kapitalisme sekuler dan komunisme ateis lah yang telah membahayakan keamanan negeri ini, bukan Islam.

Sebelumnya saya adalah orang yang tidak begitu paham tentang agama Islam secara komprehensif. Bahkan semasa kuliah saya sempat terjerumus ke pemikiran liberal karena saya penggemar filsafat. Namun, lambat laun saya kembali dipertemukan kajian-kajian Islam yang kaffah. Sekarang, saya tidak lagi menjadi seorang liberal yang sesat menyesatkan, namun yakin dengan konsep Islam kaffah yang ditegaskan Allah dalam Al Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (QS Al Baqarah : 208). 

Dari pertemuan saya dengan ustadz Ismail Yusanto di tahun 1998, meski hanya dua kali  itulah saya mendapatkan sebuah kesan mendalam hingga hari ini.  Saya yakin bahwa saat itu Ustadz Ismail Yusanto sama sekali tidak mengenal saya. Sebab saya saat itu tidak pernah sempat berkomunikasi atau ngobrol langsung dengan beliau.

Namun, melalui tulisan ini, saya harus mengucapkan ribuan terima kasih kepada ustadz Ismail Yusanto karena telah memberikan pemantik inspiratif agar saya terus mendalami ajaran Islam secara lebih mendalam melalui proses pemikiran, bukan beragama sekedar karena keturunan. 

Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, terlebih sebagai seorang muslim, saya bersaksi bahwa apa yang disampaikan oleh ustadz Ismail Yusanto adalah ajaran Islam yang jika diterapkan akan menjadikan negeri ini menjadi lebih baik. Memang tidak ada yang sempurna, termasuk ustadz Ismail Yusanto, namun Islam adalah agama sempurna tidak ada bandingannya.

Kelak saya juga memahami dan menyadari bahwa isme-isme yang berkembang dari hasil pemikiran filsafat manusia seperti kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, ateisme dan kolonialisme adalah ajaran-ajaran sesat dan menyesatkan. Meskipun, banyak kaum muslimin yang menganutnya, bahkan hingga ada yang memujanya.

Saya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sangat diuntungkan dengan dakwah yang disamaikan oleh ustadz Ismail Yusanto dan tidak pernah merasa menjadi korban. Sebaliknya justru saya merasa beruntung karena pernah mengenal ustadz Ismail yang telah menjadi pemantik bagi saya untuk memahami Islam lebih serius lagi.

Maka, jika ada orang yang mencatut status saya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia dengan menyatakan sebagai korban dari dakwah ustadz Ismail Yusanto, maka pernyataan itu adalah kesesatan dan kebohongan, serta pembodohan bagi saya atau masyarakat Indonesia yang memiliki pengalaman seperti yang saya alami. Menyebut bahwa masyarakat Indonesia sebagai korban dakwah Ismail Yusanto lebih bernada sentimen dibandingkan argumen.

Maka, jika ada orang yang menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia yang jumlahnya 270 juta ini sebagai korban Ismail Yusanto, saya sebagai salah satu bagian dari masyarakat Indonesia tidak terima dan menolak keras pernyataan itu. Sebaliknya, saya justru merasa beruntung telah bertemu dengan Ismail Yusanto. Pernyataan ngawur itu harus segera dicabut dan yang bersangkutan meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, jika perlu satu persatu keliling Indonesia.[]

Oleh : Dr. Ahmad Sastra, M. M. 
KotaHujan, 31/08/20 : 09.45 WIB

Posting Komentar

0 Komentar