TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Dominasi Investasi Asing dalam Layanan Publik


Hutang menjadi masalah serius pemerintah saat ini. Mengingat Indonesia saat ini diambang resesi ekonomi yang kian mengkhawatirkan.

Di tengah polemik negeri ini Menko Luhut telah mengkaji investasi rumah sakit berkelas Internasional dan pendatangan untuk dokter asing.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan memerintahkan BKPM yang dikepalai oleh Bahlil Lahadalia mendatangkan rumah sakit asing ke Indonesia.

Permintaan Luhut diiringi dengan rencana pemerintah untuk memperbolehkan dan mengizinkan dokter asing lebih banyak di Indonesia.

"Beberapa waktu yang lalu saya diberitahu soal analisa dari PwC di tahun 2015 yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara asal wisatawan medis dengan jumlah 600.000 orang, terbesar di dunia mengalahkan Amerika Serikat dengan 500.000 orang wisatawan medis di tahun yang sama. Melihat potensi ini, saya bersama jajaran K/L terkait hari ini berkoordinasi tentang rencana pengembangan wisata medis di Indonesia," papar Luhut. (cnbcindonesia.com 29/08)

Jika karena alasan rakyat lebih suka berobat di luar negeri, harusnya menjadi koreksi bagi pemerintah RI untuk memperbaiki layanan kesehatan, apakah  fasilitas kesehatan kita  sudahkah terbaik dan terjangkau untuk rakyat?

Investasi kesehatan dengan membangun rumah sakit berkelas Internasional dan mengundang dokter asing lebih banyak dirasa hanya alasan keuntungan bagi pemerintah saja.

Jika melihat fakta dimasyarakat , pelayanan kesehatan di setiap daerah masih jauh dari memuaskan. 

Misalkan jika datang kerumah sakit dengan kondisi antrian yang panjang, fasilitas juga tidak lengkap harus pergi ke kota jika rumah sakit daerah tidak sanggup mengobati, kurangnya tenaga medis, mahalnya berobat dirumah sakit dan masih banyak hal lain kekurangan disana-sini semua itu mengkonfirmasi bahwa fasilitas kesehatan Indonesia masih buruk.

Menjamurnya investasi di negeri ini tak khayal hanyalah menambah beban utang negara. Mau sampai kapan RI terlilit hutang luar neger? Bagaimana negeri ini berdikari jika urusan kesehatan saja masih kocar-kacir?

Harusnya pemerintah menyediakan secara cuma-cuma layanan kesehatan, akan tetapi sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945 sampai sekarang masih tergantung pada pihak asing.

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia hingga akhir April 2020 mencapai US$ q400,2 miliar atau setara  Rp 6.065 truliun jika mengacu kurs Jisdor Rp 15.157 per dolar AS. Posisi utang tersebut naik 2,9% dibanding periode yang sama tahun lalu terutama didorong peningkatan utang pemerintah.  Secara perinci, ULN tersebut terdiri dari ULN pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 192,4 miliar dan ULN sektor swasta termasuk BUMN sebesar US$ 207,8 miliar. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menuturkan, ULN Indonesia pada Mei tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan Maret 2020 yang hanya sebesar 0,6%. "Hal itu disebabkan oleh peningkatan ULN publik ditengah perlambatan pertumbuhan ULN swasta," tulis Onny dalam  keterangan resminya.( katadata.co.id, 15/06/2020 )

Sangat disayangkan jika pemerintah tetap saja ngotot menginginkan program bangun wisata medis akan tetapi modal dari hutang. Rakyat semakin terbebani dengan membayar pajak untuk melunasi hutang yang menggunung.

Seharusnya pemerintah saat ini lebih fokus dalam menyelesaikan problem kesehatan dan fasilitas kesehatan dalam negeri . Kesehatan  bukan ajang bisnis, akan tetapi pemerintah seharusnya memberikan kemudahan akses kesehatan untuk rakyat, dan harusnya gratis.

Agar masyarakat puas dan terjamin kesehatannya dan tidak perlu khawatir dengan mahalnya biaya berobat. Alasan pemerintah mencari dokter asing juga bukan solusi dari carut-marutnya layanan kesehatan, kenapa tidak memaksimalkan dokter yang ada didalam negeri saja?

Solusi Islam dalam mengatasi kekurangan modal dan layanannya publik.

Pertama, Islam menyediakan fasilitas kesehatan terbaik dan tenaga medis terbaik. Seperti pada masa kejayaan Islam terdahulu dalam rumah sakit tersedia taman, musik untuk terapi kesehatan, di berikan uang, pakaian dan sebagainya sehingga kondisi psikologis pasien lebih baik. 

Kedua, berdikari dalam permodal untuk pembangunan infrastruktur publik,  karena sumber daya alam diperuntukkan untuk kepentingan umat,  seperti membangun rumah sakit, membeli alat kesehatan, memberi upah yang layak bagi tenaga medis dan lain sebagainya.

Ketiga, Biaya kesehatan ditanggung negara (Khilafah) jadi tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya mahal yang justru semakin memperparah kondisi pasien.

Solusi terbaik Islam dalam pelayanan publik tidak diragukan lagi,  dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, kebutuhan hidup yang bersifat strategis dalam hal ini  fasilitas kesehatan akan mudah terealisasikan. Wallahu'alam.[]


Oleh: Amahmuna
Sahabat Muslimah Kendal

Posting Komentar

0 Komentar