Di Balik Kisruh "Good Looking"




Menteri Agama kembali membuat pernyataan yang menggegarkan masyarakat Indonesia. Khususnya umat Islam. Dalam acara webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara', yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB, Rabu (2/9).  Awalnya membicarakan tentang rawannya lingkungan ASN kemasukan paham  radikal. Kemudian terlontar lah pernyataan bahwa ide radikal itu sebarluaskan oleh umat Islam dengan mengutus seorang anak yang "good looking". Yakni mereka-mereka yang hafal Al-Qur'an dan pandai berbahasa Arab. Jelas pernyataan ini melukai hati umat Islam.

Banyak kalangan khususnya para tokoh yang menyatakan tidak terima dan mengecam pernyataan Menag tersebut. Salah satunya Wakil Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) atas nama MUI meminta Menag menarik ucapannya terkait paham radikal masuk melalui orang berpenampilan menarik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang baik. (detiknews.com, 04/08/2020)

Namun Menag tampaknya bergeming. Dalam channel YouTube Tribunnews.com yang dipublish 8/9/2020 beliau hanya minta maaf karena tidak tahu kalau acara saat itu akan menjadi konsumsi publik. "Saya kira itu (hanya untuk) internal ASN." Kalau saja tahu untuk konsumsi publik maka beliau katakan akan bicara menggunakan bahasa yang berbeda dengan substansi yang sama.

Beliau juga menyatakan bahwa dalam acara tersebut juga ada menyampaikan bahwa belum ada undang-undang yang melarang Khilafah sehingga sah-sah saja orang mau bicara Khilafah. "Tapi karena Indonesia negara berdaulat, memang kalau ada pemikiran yang berpikiran Indonesia ini bisa diatur dengan pemerintah lain di luar Indonesia, berarti itu menyalahi negara berdaulat. Dan tidak boleh ada ASN yang berpikiran seperti itu." (https://youtu.be/qZg60JMxXsQ)

Dari pernyataan Menag ini setidaknya terdapat tiga perkara penting. Pertama beliau tetap merasa tidak ada yang salah dengan pernyataannya karena hanya dianggap salah pilih kata. Padahal justru substansinya lah yang jadi masalah. Ketika sifat-sifat mulia seorang muslim yang dicita-citakan oleh setiap orang tua pada anaknya, dianggap sebagai sesuatu yang negatif dan patut dicurigai. 

Apakah negeri ini menginginkan generasi "got" (comberan) looking yang dipelihara? Genarasi yang tak kenal Al-Qur'an, tak mengerti bahasa Arab sehingga meskipun rajin baca Al-Qur'an mereka tak paham apa isinya. Tak paham apa yang Tuhannya kehendaki sehingga hidup hanya sesuka hati. Yang tahunya hanya foya-foya dan bersenang-senang dengan dunia. Generasi yang justru sangat membahayakan eksistensi negeri ini.

Generasi 'got' looking ini jika menjadi rakyat akan menyusahkan penguasa. Jika jadi penguasa akan menyusahkan rakyat. Jika penguasa dan rakyat keduanya sama, negara akan tinggal nama.  Menjadi kue empuk yang bisa ditelan bulat-bulat oleh musuh.

Kedua, Menag mewakili penguasa menunjukan sikap plin plan yang semakin nyata. Menyatakan sah-sah saja bicara Khilafah tetapi menutup semua ruang bagi para pendakwahnya. Bahkan hingga pada penciptaan suasana deskriminatif pada siapa saja yang bicara khilafah. Khilafah selalu diidentikan dengan radikalisme. Wajib dicurigai.

Bahkan sudah banyak para penyampai Khilafah yang dipersekusi. Tak hanya ASN tapi juga dai dan rakyat biasa.  Mulai dari dimutasi hingga dimasukan jeruji besi. Padahal negeri ini juga mengklaim sebagai negara demokrasi yang mengusung kebebasan. Namun kebebasan itu hanya ada untuk selain Islam dan kaum muslimin. Jelas ini adalah bukti plin plannya penguasa dan sistem yang diusungnya.

Ketiga, dalam kesempatan itu Pak Menag menyampaikan bahwa khilafah tidak sesuai dengan Indonesia sebagai negara berdaulat. Hal ini adalah sebuah gagal paham memaknai Khilafah. Menurut Menag jika Khilafah tegak Indonesia akan dipimpin oleh pemerintahan luar dan kehilangan kedaulatan. Padahal justru kondisi sekarang lah negeri ini berada dalam kepemimpinan negara luar. Setidaknya oleh Amerika dan Cina di bawah tekanan utang negara. Terbukti dari banyaknya kebijakan yang pro Asing dan Aseng.

Sedangkan Khilafah, jika tegak kelak, justru ia akan menghapuskan segala ketergantungan dan ketidakberdayaan negeri ini terhadap kebijakan negara lain. Sebab Khilafah mengharamkan hutang riba apalagi yang mensyaratkan ketundukan pada kebijakan negara lain. Khilafah dengan sistem keuangan dan ekonominya akan menjadikan negeri ini mampu berdiri sendiri.

Satu hal lagi, Khilafah akan menyatukan seluruh negeri-negeri muslim untuk saling dukung dan sokong. Baik segi ekonomi maupun militer. Karenanya akan kuat secara ekonomi dan militer dan ditakuti negara-negara kafir penjajah. Dalam kondisi seperti itulah negara berdaulat akan benar-benar terwujud.

Hanya saja jika yang ditakutkan adalah terjadinya perubahan formasi kekuasaan, jelas itu adalah sebuah keniscayaan. Sistem mulia hanya akan dijalankan oleh orang-orang mulia. Tidak ada tempat untuk para pelaku maksiat yang hobi menipu rakyat. Karenanya wajar jika ada pihak-pihak yang gencar memutarbalikkan fakta. Dengan berbagai cara. 

Salah satu yang paling getol mereka lakukan saat ini adalah menuduh khilafah sebagai ajaran yang membahayakan. Sejatinya merekalah yang dalam bahaya. Sebab Khilafah dengan aturan Islamnya akan bekerja totalitas untuk umat manusia. Mengembalikan milik umat kepada umat, yakni seluruh aset negara dan sumber daya alam yang ada. Sekaligus mengusir para penjajah dan kakinya tangannya.

Dari sini sangat mudah dipahami bahwa narasi Khilafah ajaran radikal adalah milik penjajah dan kaki tangannya yang tidak akan pernah ridha kehilangan sumber eksploitasi kekayaan di negeri-negeri muslim. Termasuk Indonesia kita tercinta. Dengan demikian akankah kita biarkan akal kita disesatkan oleh narasi jahat musuh-musuh Islam tersebut?

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 120)

Oleh: Umi Diwanti

Posting Komentar

0 Komentar