Demokrasi Gagal Atasi Pandemi, Hanya Khilafah Solusinya



Banyaknya kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 hingga  Jumat, 10 September 2020 terjadi penambahan kasus baru yakni 3,861 Kasus. Total kasus terkonfirmasi positif Covid-19
207,203  (kompas.com 10/09 ).

Disisi lain pemerintah telah melakukan upaya PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar) dengan menerapkan kebijakan new normal. Bukanya berkurang akan tetapi jumlah kasus semakin meningkat. 

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut negara dengan pemerintahan otokrasi dan oligarki yang mudah mengatasi pandemi virus Corona (Covid-19).

Tito menyebut negara dengan pemerintahan seperti itu mudah mengendalikan perilaku masyarakat dalam menghadapi pandemi karena kedaulatan negara dipegang oleh satu atau segelintir orang.

"Negara-negara yang menggunakan sistem politik otokrasi tangan satu orang atau oligarki yang dikuasai sekelompok orang, seperti China dan Vietnam, menangani dengan lebih efektif karena mereka menggunakan cara-cara yang keras," kata Tito disiarkan langsung akun Youtube Kemendagri RI, Kamis ( 3/9).

Tito mengatakan penanganan pandemi covid-19 di negara demokrasi akan lebih sulit jika banyak kalangan kelas menengah ke bawah. Menurutnya, masyarakat kalangan itu sulit diminta menerapkan protokol kesehatan. (cnnindonesia.com 3/9/202 )

Baik demokrasi maupun otokrasi bukan solusi dalam atasi pandemi. Pasalnya demokrasi dengan sistem ekonomi Kapitalisnya telah mengorbankan nyawa rakyat ketimbang ekonomi, karena untuk menyelamatkan kekayaan sebagian koorporat.

Jadi kebijakan yang di ambil bukan semata penyelamatan nyawa rakyat akan tetapi ekonomi  sebagai bahan pertimbangan dan alasan. Sangatlah jelas kebijakan ini adalah yang menyebabkan kegagalan atasi pandemi  terkesan tidak tegas dan mencla-mencle (berubah -ubah).

Otokrasi dikenal dengan 
pemerintahan yang kekuasaan politiknya dipegang oleh satu orang sama halnya dengan negara komunis. Kebijakan ini justru lebih membahayakan , karena sangatlah otoriter dengan menganggap Tuhan itu tidak ada akan berakibat penguasa semena-mena terhadap rakyatnya.

Indonesia adalah rakyat yang religius dengan mempercayai adanya pencipta alam semesta  Jika kebijakan ini diterapkan akan berakibat rusak dan hilangnya agama, jelas ini juga akan gagal atasi pandemi.

Dengan adanya pandemi, seharusnya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT kita taat kepada sang pecinta (Khaliq) . Jadi sekali lagi Demokrasi maupun Otokrasi bukan solusi untuk atasi pandemi.

Indonesia dan dunia ini sebenarnya membutuhkan sistem yang benar-benar memberikan solusi tuntas atasi pandemi, Islam telah mengatur solusi segala aspek kehidupan termasuk menangani pandemi. 
Solusi Islam dalam sistem khilafah berasal dari dzat yang Maha Tahu dan menghasilkan kepatuhan permanen masyarakat terhadap aturan karena dorongan iman, bukan takut terhadap sanksi.

Ketaatan kepada Allah SWT inilah yang menjadikan umat menaati Khalifah (pemimpin) jika melegalkan suatu hukum ataupun kebijakan. 

Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Al-Bukhari).

Masyarakat akan disiplin dengan mengikuti upayakan lockdown ataupun karantina dengan landasan ketaatan kepada Allah SWT , maka masalah InsyaAllah akan segera terselesaikan. Disamping itu, negara wajib memenuhi kebutuhan masyarakat ketika karantina berlangsung.

Sistem demokrasi maupun otokrasi, dalam negara tersebut tidak menjamin kebutuhan rakyatnya secara menyeluruh karena rakyat dijadikan objek untuk menghasilkan manfaat saja, tidaklah mungkin negara meriayah (mengurusi) rakyat dengan sepenuh hati.

Sudah saatnya dunia bertakwa dengan semua syariah Allah SWT  menerapkan hukum Islam yakni dalam sistem khilafah untuk atasi pandemi maupun mengatasi rusaknya kehidupan masyarakat saat ini. Wallahu'alam.


Oleh: Amahmuna
Sahabat Muslimah Kendal

Posting Komentar

0 Komentar