TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Daring Pemicu Stres pada Ibu?

Kasus kekerasan terhadap anak yang berujung pada hilangnya nyawa, belum lama ini terjadi di Lebak, Banten. Jasad bocah delapan tahun ditemukan terkubur dengan pakaian lengkap di TPU Gunung Kendeng, Kecamatan Cijaku, Lebak.

Setelah ditelusuri, rupanya anak yang masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar itu dianiaya sang ibu berinisial LH (26). Konon, LH tega membunuh anaknya karena kesal lantaran korban susah diajari saat belajar online.(Kompas.com, 15/9/2020)

Apakah benar pemicu dari kejadian ini hanya soal masalah anak yang susah diajari saat belajar online? 

Stres karena masa pandemi dan faktor lain bisa juga menjadi latar belakang kekerasan tersebut. Di sisi lain, tak semua orang mampu mengatasi stres yang mendera.

Beratnya beban menjadi ibu pada kondisi serba sulit seperti sekarang ini. Di satu sisi, para ibu harus tetap memastikan tugas strategis dan politisnya mendidik generasi cemerlang berjalan dengan baik. Sementara disisi lain ibu jugalah yang memutar anggaran belanja keluarga agar bisa lebih berhemat lagi disaat pandemi karena bisa jadi sang tulang punggung keluarga terkena dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau bisnis sedang lesu yang berimbas kepada menurunnya pendapatan. 

Tak jarang banyak dari para ibu ini terpaksa ikut bekerja membantu suami demi menambah pemasukan pendapatan. Alhasil kelelahan yang dirasakan ibu berlipat-lipat (lelah fisik dan lelah pikiran) mengingat pandemi bukannya semakin terselesaikan tetapi semakin mengganas. Kapan berakhir? Sama sekali tak kelihatan ujungnya.

Stres bertambah saat anak-anak tumbuh membesar tak sebagaimana harapan. Tak menurut, banyak maunya, suka membantah, nakal, tidak mau mengerjakan soal-soal yang dikirimkan gurunya via Whatsapp membuat sang ibu seperti dikejar-kejar dateline tugas sekolah.

Saat tugas sekolah terbengkalai seolah semua telunjuk seakan terarah kepadanya. Dia adalah ibu yang gagal. Dan semua kenakalan anaknya seolah menjadi tanggungjawabnya, sendirian! 

Tanpa penanaman akidah yang benar dan tanpa pemenuhan nafkah dari suami, kerabat ataupun negara, maka inilah sebenarnya akar masalah dari stres yang diderita sang ibu.

Khilafah Menjamin Kesejahteraan Perempuan

Islam mengangkat status penting perempuan sebagai istri dan ibu. Hal ini akan mencakup jaminan penyediaan nafkah bagi perempuan sehingga mereka tidak ditekan untuk mencari nafkah dan mengganggu tugas-tugas penting mereka terhadap anak-anak dan keluarga mereka. 

Sebagai contoh, jika seorang perempuan tidak memiliki suami ataupun kerabat laki-laki yang mendukungnya, maka di bawah Islam, negara berkewajiban menyediakannya. 

Oleh karena itu hukum Islam yang dilaksanakan di bawah Khilafah mendukung para ibu dalam memenuhi kewajiban vital mereka yaitu merawat dan membesarkan anak-anak mereka serta menjaga rumah mereka.

Negara juga menjamin keamanan finansial bagi perempuan dan memastikan bahwa mereka tidak pernah ditinggalkan untuk mengurus diri mereka sendiri dan anak-anak mereka, atau dibiarkan menderita kesulitan keuangan.

«مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأِهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ وَعَلَيَّ» (رواه مسلم)

Nabi Saw bersabda, “Jika seseorang meninggal (di antara kaum Muslim) meninggalkan beberapa harta, harta tersebut akan diserahkan kepada ahli warisnya; dan jika dia meninggalkan hutang atau tanggungan, kami akan mengurusnya.” (HR Muslim)

Dimasa normal saja Islam benar-benar memperhatikan kesejahteraan perempuan apalagi di masa pandemi. 

Oleh karena itu, hanya Khilafah, yang menerapkan Islam secara komprehensif, yang akan mengembalikan status besar yang layak dimiliki ibu dalam suatu masyarakat, akan memastikan hak dan pengasuhan efektif anak-anak terjamin, dan akan melindungi kesucian dan keharmonisan kehidupan keluarga.[]

Oleh: Nabila Zidane, Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar