TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Dari Ekonomi Fokus pada Kesehatan Wujud Sikap Pragmatis Tangani Covid - 19



Pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum berakhir. Bahkan kecenderungannya mengalami peningkatan kasus positif Covid-19. Per 9 September 2020, jumlah kasus adalah 203 ribu orang, sembuh 145 ribu dan meninggal dunia 8.336 orang. Tentunya hal demikian sangat mengkhawatirkan. 

Jumlah kasus Covid-19 yang besar ini wajar saja memberikan dampak yang serius pada Indonesia. Dilansir berita bahwa ada 59 negara yang menutup negaranya dari Indonesia (www.tempo.co, 7 September 2020). Ironis sekali. 

Sedangkan di dalam negeri, Presiden Jokowi menyerukan kepada menterinya agar fokus pada masalah kesehatan (www.detiknews.com, 7 September 2020).Menurutnya, bila kesehatan bisa ditangani, ekonomi akan mengikuti.

Selama ini memang Indonesia fokusnya teralihkan. Semasa epidemi Covid-19, pemerintah Indonesia meremehkannya, hingga saat kasus Covid-19 terjadi di Indonesia, penanganannya gagap. Dari PSBB lalu menjadi New Normal. Artinya selama pandemi ini, fokus pemerintah adalah ekonomi. Padahal masalah pandemi Covid-19 ini adalah masalah kesehatan.

Sekarang tatkala kasus Covid-19 semakin besar, bukan malah bisa menjadikan ekonomi pulih. Yang ada kondisi kesehatan menjadi parah. Dampaknya, ekonomi semakin berat.

Terbelalak mata saat 59 negara melockdown Indonesia. Yang dikuatirkan adalah orang Indonesia akan membawa Covid-19. Jadi masalah kesehatan itu yang utama.

Demikianlah berbahayanya sikap pragmatis dalam menyelenggarakan negara. Tentu saja rakyat yang jadi korban. Sudah 6 bulan rakyat harus berjuang menghadapi Covid-19.

Sikap pragmatis merupakan sebuah sikap yang menjadikan fakta sebagai patokan dalam menyikapi sesuatu. Sikap pragmatis menjadikan orang yang memilikinya akan mudah terombang - ambing oleh keadaan. Ia mudah berubah. Tidak memiliki standar baku dalam menghukumi sesuatu.

Sistem demokrasi sekuler yang menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan telah menyuburkan sikap pragmatis. Pemerintah diliputi kegamangan ekonomi. Bayang - bayang kemiskinan menghantuinya. Ketika PSBB dilakukan dalam waktu agak lama, sementara negara tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka, tentunya akan memicu kerusuhan. Bukankah kemiskinan mendekatkan pada kekufuran, minimal kejahatan. Oleh karenanya kebijakan New Normal dicanangkan. Rakyat biar bisa bekerja. Beban APBN biar tidak terlalu berat. Di sisi yang lain, pemerintah harus menambah utang untuk segera memulihkan ekonomi. Yang terjadi sebaliknya, resesi ekonomi mendera.

Fokus kesehatan yang terlambat dicanangkan Jokowi hanya akan menemui jalan buntu, bila tidak dilakukan dengan mengubah cara pandang terhadap wabah. Apalagi kalau pernyataan tersebut hanya pencitraan. 

Tentunya cara pandang terhadap wabah ini akan mempengaruhi strategi penanggulangannya yang akan dilakukan. Tidak cukup hanya memandang wabah sebagai masalah kesehatan. Lebih dari itu, pandangannya terhadap wadah harus menggunakan cara pandang Islam. Harus disadari bahwa terjadinya wabah ini adalah qadha Allah SWT.  Dengan kata lain, solusi Islam dalam menangani wabah mutlak untuk diadopsi.

Dengan cara pandang Islam, tidak akan timbul sikap pragmatis. Secara medis, Islam mengajarkan agar melakukan lock down wilayah yang terkena wabah. Orang yang akan masuk daerah wabah juga dilarang. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi klaster - klaster baru bagi Covid-19.

Memisahkan yang terkena wabah dari orang - orang yang sehat. Mereka yang menderita penyakit wabah segera ditangani dengan sebaik - baiknya di rumah sakit yang khusus penanganan wabah. 

Penanganan medis tersebut harus ditopang dengan penanganan secara ideologis. Kesadaran akan lemahnya manusia menghadapi virus, harusnya mengantarkan manusia untuk ta'at kepada Allah. Ketaatan pada Allah adalah dengan menerapkan Syariat Islam secara paripurna. 

Penanganan medis terhadap kondisi pandemi ini tentunya membutuhkan pembiayaan yang besar. Penerapan sistem ekonomi Islam yang akan mengembalikan komoditas SDA, tambang dan lainnya menjadi milik umat. Dengan begitu akan tersedia pembiayaan yang mencukupi guna menanggulangi wabah. 

Ini adalah sekelumit potret dari maslahat dari penerapan sistem ekonomi Islam. Bagaimana pula bila seluruh syariat Islam diterapkan, tentunya keberkahan dari Alloh akan dibukakan buat seluruh umat manusia.[]


Oleh: Ainul Mizan
Peneliti LANSKAP

Posting Komentar

0 Komentar