TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Corona yang Terlupakan


Sudah enam bulan lebih negeri ini hidup dalam kondisi pandemi. Hingga sampai saat ini belum tampak tanda-tanda akan berakhir. Berbagai upaya telah dilakukan tapi kenapa tak memberikan titik terang? Kehidupan sudah berjalan sebagaimana biasanya. Ada yang masih patuh pada protokol kesehatan. Tapi, juga tak sedikit yang mengabaikan. Seolah corona telah terlupakan bahkan dilupakan kehadirannya.

Dilansir dari web kawalcovid19 jumlah kasus di Indonesia per tanggal 14 September 2020 mencapai angka 221523 terkonfirmasi, 54277 dalam perawatan, 158405 sembuh, dan 8841 meninggal. Hal ini juga ditegaskan oleh Presiden bahwa kasus positif di Indonesia rata-rata 25,02 persen atau sedikit lebih tinggi dari rata-rata kasus aktif dunia yang mencapai 24,78 persen. Sedangkan kasus sembuh sebanyak 155.010 kasus dengan recovery rate atau tingkat kesembuhan 71 persen (Viva.co.id, 14/9/2020).

Tentu ini bukan sekadar angka tanpa makna, sebab ini berkaitan dengan nyawa manusia. Jika ditelisik lebih dalam, maka ada beberapa hal yang bisa diperhatikan, antara lain:

1. Kebijakan yang berganti-ganti dari awal pandemi hingga detik ini terbukti membuat penyebaran virus tak terkendali. Penanganan pandemi harusnya seragam dan tidak ada beda antara pusat dan daerah. Padahal berbagai peringatan sudah disampaikan para ahli, namun sayang itu hanya masuk telinga kiri kemudian keluar dari telinga kanan. Jika sudah seperti ini bukannya segera introspeksi dan mengambil langkah tepat tapi justru berfokus pada ekonomi seolah nyawa manusia tak ada harganya.

2. Begitu banyak masyarakat yang mulai abai dan bersikap seolah virus sudah tidak ada. Sehingga tak sedikit dari mereka tidak menerapkan protokol kesehatan sebagaimana seharusnya. Hingga klaster-klaster baru pun bermunculan. Masyarakat telah kembali hidup normal sebagaimana saat virus corona belum masuk ke negeri ini. 

3. Di sisi lain juga nyatanya edukasi yang diberikan belumlah optimal. Penggambaran bahayanya virus tak benar-benar ditangkap oleh masyarakat, sehingga hal tersebut juga menjadi faktor mereka abai.

4. Pemberian sanksi yang terbukti tidak membuat jera. Sekalipun ada sanksi yang diberlakukan tapi sama sekali tak memberikan efek apapun bagi masyarakat dan kesalahan yang sama seperti tidak memakai masker, tidak menjaga jarak terus berulang.

5. Butuh solusi solutif untuk mengakhiri pandemi dan karut-marut akibat salah urus. Solusi yang tidak ada kepentingan di dalamnya. Solusi yang terlahir dari Pencipta dan Pengatur manusia, yaitu dengan penerapan Islam kafah. Sebab, Islam telah terbukti mampu menangani pandemi dan juga tetap bisa menjaga stabilitas ekonomi. Hal ini tentu bisa dilihat dan dicontoh ketika pada masa Rasulullah dan Umar bin Khaththab menghadapi wabah. Sebagaimana pula disabdakan oleh Rasulullah, “Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian-kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim). Tentu jika ini yang dilakukan niscaya pandemi bisa diatasi dan ekonomi pun tetap bisa dijalankan.

Pertanyaannya, mau kah penguasa mengambil solusi ini untuk segera diterapkan?[]

Oleh: Nila Indarwati
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Posting Komentar

0 Komentar