TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Corona Masuk Istana, Bukti Allah Cinta



Allah hanya menghendaki yang terbaik buat hambaNya. Allah ingin hamba tercinta kembali ke jalanNya. Ketika paparan corona menyerbu istana, bisa saja itu bentuk cinta Allah kepada manusia.

*****

Hari ini umat dihentakkan dengan berita yang cukup mengagetkan. Menteri Agama yang mereka kenal dengan ucapan dan kebijakan uniknya akhir-akhir ini diberitakan positip virus corona Covid-19. Ada apa gerangan? Padahal tak nampak dari fisiknya jika terinfeksi virus yang tak nampak mata telanjang, namun efeknya sangat luar biasa itu. 

Seperti yang dilansir CNN Indonesia -- Menteri Agama Fachrul Razi dikabarkan terkonfirmasi positif virus corona (Covid-19). Meski demikian, kata Staf Khusus Menteri Agama Kevin Haikal, saat ini kondisi fisik Fachrul dalam keadaan baik.
"Pada 17 September, Menag melakukan tes swab dan hasilnya positif. Namun, alhamdulillah kondisi fisik beliau hingga saat ini terpantau baik, tidak ada gejala-gejala mengkhawatirkan," kata Kevin di dalam keterangan resminya, Senin (21/09).

Kevin menjelaskan saat ini Fachrul tengah menjalani proses isolasi dan istirahat. Hal itu merupakan bagian dari wujud komitmen Fachrul dalam menaati peraturan protokol kesehatan dan memutus mata rantai kemungkinan penyebaran.

Beberapa bulan sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga diberitakan terkena serangan Covid-19, bahkan hingga dua kali.

Seperti yang dilansir Bisnis.com, - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berbagi cerita saat menjalani pemulihan usai terinfeksi virus corona atau Covid-19.

Ternyata setelah dinyatakan negatif dan menjalani perawatan dan pemulihan mandiri di rumah dinasnya di Widya Chandra, Jakarta, ia menyebut kembali sempat terpapar virus corona yang kedua kalinya, Sabtu(16/05).

Setelah itu, belum lama ini
dikabarkan terkena Corona Covid-19 adalah Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo.

"Iya (positif Covid-19). Saya mendapat kabar dari staf KKP. Dan info yang saya dapat kondisinya sehat. Saya dapat infonya 3 September, tapi tanggal pastinya harus tanya langsung," ujar Wakil Ketua Komisi IV Daniel Johan kepada Liputan6.com, Selasa, 8 September 2020.

Melihat fakta yang terjadi, siapa sangka jika corona juga pergi menyasar ke istana? Beberapa menteri yang notabene sebagai pembantu presiden, tak lepas dari serangan corona. Padahal kalau diperhatikan, mereka tinggal di tempat bagus, bersih, dan tetap menjaga protokol kesehatan.

Mereka sangat taat pada aturan dan kebijakan bapak Presiden untuk mematuhi protokol kesehatan seperti cuci tangan dengan sabun, jaga jarak ( physical distancing), selalu mengenakan masker. Namun ternyata paparan virus corona masuk istana juga. 

Hal ini membuktikan bahwa virus corona bisa menyerang siapa saja tanpa melihat latar belakang, baik itu jabatan, pangkat, pendidikan, kekayaan, status sosial, agama, atau apapun juga. Semua berpeluang terinfeksi virus corona.

Selain upaya untuk mengatasi masalah secara fisik, seperti protokol kesehatan di atas. Yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah muhasabah diri masing-masing. Apakah ini ujian dari Allah? Mengapa ujian pandemi ini sangat lama belum ada tanda-tanda usai? Adakah ini sebuah peringatan dari Allah kepada  hamba-Nya agar kembali ke jalanNya?

Tidak ada sekecil apapun kejadian di muka bumi ini tanpa ijin Allah. Maka ketika kita memperhatikan bahwa ujian pandemi tak kunjung usai, hendaklah setiap diri melakukan evaluasi. Adakah yang salah dengan negeri ini hingga satu demi satu korban berjatuhan karena paparan Covid-19. Bahkan banyak nyawa melayang, termasuk ratusan dokter yang gugur setelah berjuang melawan paparan corona.

Yang pasti, sebagai orang beriman hendaklah yakin dan tetap husnudzon bahwa Allah tidak pernah menganiaya hambaNya. Ketika paparan Corona hingga menyayar ke tempat mewah semacam istana. Jangan pernah membiarkan pikiran dan hati kita untuk saling mencurigai dan berprasangka macam-macam terhadap ujian ini.

Jika mau berfikir jernih menggunakan hati nurani, maka ujian pandemi ini adalah bentuk cinta dari Allah kepada hamba-hambaNya. Jika bukan karena cinta, banyaknya dosa yang ada di negeri ini, teramat mudah untuk dihancurkan. Tak ada yang menyalahkan, jika Allah hendak meluluhlantakkan karya ciptaNya sendiri.

Bumi dibalik, manusia yang ingkar, zalim, tidak taat aturan, dengan mudahnya terkubur ke dalam bumi. Sebagaimana azab yang Allah berikan kepada umat-umat tedahulu. Namun untuk negeri tercinta ini, seolah Allah memberi kesempatan agar hamba-hambaNya yang ingkar dan tidak taat itu sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Ya, Allah begitu cinta pada negeri ini. Hingga Allah masih berkenan menunggu kesadarannya. Peringatan demi peringatan diberikan. Gempa bumi, gunung berapi, tsunami, tanah terbalik, banjir bandang, dan banyak peringatan lain tak membuat penghuni negeri ini sadar. Maka Allah mengirimkan pasukan tak nampak mata telanjang yaitu virus corona.

Bukan sebulan dua bulan, kini sudah mencapai tujuh bulan. Namun belum ada tanda kalau virus corona akan berpamitan pergi. Mengapa demikian? Karena umat negeri ini belum taat. Meski korban akibat paparan corona semakin bertambah banyak, namun belum ada tanda bahwa negri ini mau bertaubat.

Negeri yang mayoritas muslim, mengapa hatinya begitu keras. Hingga serangan corona sudah menyebar ke seluruh pelosok dunia tak membuat jera. 

Kini, serangan virus corona mulai menyasar ke istana. Tanda apakah ini? Sekali lagi, tetap berhusnudzon pada Allah. Jangan menganggap ini sebagai ancaman mengerikan, namun anggaplah ini sebagai bukti bahwa Allah sangat mencintai hambaNya.

Jika sudah menyadari Allah begitu cinta. Lantas sikap apa yang bisa kita berikan kepada Allah? Bentuk syukur dan terimakasih atas segala nikmat dan karunia Allah yang tak terhitung jumlahnya. 

Sungguh, Allah tak menginginkan balasan apapun dari kita. Allah Maha Kaya dan pemilik seluruh langit dan bumi. Allah hanya mau kita kembali ke jalanNya. Jalan keselamatan yang ditempuh dengan ketaatan pada aturan Allah.

Rasanya simpel, namun sungguh
terasa berat bagi hamba yang dipenuhi hawa nafsu dunia. Tentu saja ketaatan itu akan sulit dijalankan jika hanya melalui pribadi. Karena sistem yang berjalan sekarang tidak mendukung untuk menjalankan ketaatan. Sistem sekarang hanya menginginkan kebebasan.

Pertanyaannya, masihkah mau bertahan dalam kondisi sekarang? Negeri dalam keadaan carut marut, jeritan rakyat semakin tak tertahankan, juga adanya ujian pandemi yang tak tahu batas akhirnya. Akankah kondisi ini semakin parah, korban semakin banyak, dokter, nakes, juga pejabat-pejabat banyak berguguran?

Allah hanya membutuhkan ketaatan kita. Mari tundukkan ego dan hawa nafsu. Segera taubat mumpung masih ada kesempatan. Mohon ampunan atas semua kesalahan yang sudah mengurat saraf. Kemudian kita jalankan ketaatan dengan menerapkan aturan Allah. Dalam hal ini perlu institisi dan pemimpin adil peduli umat untuk menetapkan seluruh aturan. 

Ya, tugas kita hanyalah taat aturan Allah. Jika hal itu sudah dijalankan, betapa mudah bagi Allah untuk mengangkat ujian dan menghilangkan wabah. Ini semua karena Allah teramat cinta kepada hambaNya. 

Wallahu a'lam bish shawwab.[]

Oleh : Lilik Yani 
(Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)


Posting Komentar

0 Komentar