TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Blusukan dan Sifat Hipokrit Buah Demokrasi Kapitalis

Upaya mendapat dukungan dari masyarakat sudah mulai dilakukan bakal calon Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Seperti ayahnya, putra sulung Presiden Joko Widodo ini blusukan ke rumah-rumah warga untuk memberikan bantuan kepada warga. Aksi blusukan ini dipilih Gibran untuk menghindari terjadinya kerumunan dalam acara pembagian bantuan ini. Menurut Gibran, blusukan secara dari pintu ke pintu ini yang belakangan jadi tren terbilang melelahkan. Tapi jadi opsi paling aman karena kecil risikonya terjadi kerumunan.

Agenda pembagian sembako ini juga disertai pembagian kursi roda dan cukur gratis bersama dengan Lion Club, juga dari Solidaritas Merah Putih. Bahkan Gibran juga ikut berpartisipasi program cukur rambut kali ini. Gibran melakukan potong rambut di Pasar Gede. Dan hasilnya menurut Gibran sama saja dengan salon. Meskipun mengaku pertama kali melakukan hal ini di pasar, yang penting adalah kegiatannya bermanfaat untuk warga, tambahnya. (Idnewstoday. 11/09/2020) 

Euforia menjelang Pilkada semakin terasa. Ditengah pandemi yang belum diumumkan berakhir, tetapi pelaksanaan pesta demokrasi menuju Desember ini terlihat sudah sangat matang. Hal tersebut dibuktikan dengan kegiatan kampanye para calon kandidat yang akan bertarung. Segenap upaya dikerahkan, seluruh pikiran dicurahkan, demi memenangkan kompetisi bergengsi di daerah. 

Meskipun tidak semua daerah akan menyelenggarakan Pilkada Desember tahun ini, masing-masing di 34 provinsi, ada yang mengadakan di kabupaten atau kotamadya. Sehingga semarak dan gaung Pilkada tahun ini tetap meriah. Apalagi pada periode ini, dikabarkan beberapa kandidat daerah bakal dimeriahkan oleh para anak-anak pejabat dan konglomerat. Tentunya dengan tidak mengabaikan barisan para petahana yang masih punya kesempatan berkompetisi. 

Calon kandidat yang berasal dari keluarga Presiden seperti Gibran, pastinya akan jadi sorotan utama. Anak sulung dari Presiden Jokowi tersebut telah resmi menjadi calon walikota Solo. Setiap gerakan dan gebrakan yang ia lakukan menjelang Pilkada akan terus menjadi pemberitaan media. Alasannya sederhana saja, Gibran dikenal hampir seluruh rakyat di negeri ini. Tentu sangat menarik jika diberitakan terus menerus. 

Pasalnya, Gibran mengikuti jejak dan gaya sangat ayah dalam kegiatan kampanye, yaitu  blusukan. Sejak Jokowi melakukannya ketika menjadi kandidat calon Gubernur DKI Jakarta, blusukan menjadi kata yang identik dengan Jokowi. Aktifitas blusukan menjadi jurus andalan  hingga pencalonan kedua kali dalam Pilpres. 

Kegiatan blusukan dianggap telah berhasil menarik simpati masyarakat. Khususnya kalangan masyarakat menengah ke bawah. Kunjungan ke rusunawa, ke pasar tradisional dan berbelanja disana, mendatangi warung-warung sederhana dengan mencicipi makanannya, hingga masuk ke got adalah beberapa aktifitas blusukan yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi. 

Kini, Gibran kelihatannya juga tertarik melakukan hal yang sama dengan sang ayah. Terlepas apakah itu murni karena keinginannya atau arahan dari penasehat politiknya. Faktanya, Gibran telah blusukan dengan membagi bantuan kepada rakyat. Alasan Gibran melakukan blusukan sebenarnya tidak salah. Yaitu menghindari kerumunan yang tentu tidak sesuai dengan protokol kesehatan di masa pandemi seperti sekarang. Selain itu, bisa saja agar lebih terkesan menguras tenaga dan terlihat pengorbanannya. Meskipun ia sendiri mengakui sangat melelahkan. Belum apa-apa sudah mengeluh, gimana to mas Gibran? 

Selain membagi bantuan, ia juga menyelenggarakan cukur gratis. Dan menurutnya sangat bermanfaat.  Ditambah pembagian kursi roda yang disponsori oleh Lion club. Wow! Ternyata  Gibran disponsori oleh elit kapitalis. Bukankah hal tersebut menunjukkan bahwa calon pemimpin daerah saja bekerja sama dengan para cukong kapitalis? Tentu keterlibatan mereka bukanlah cuma-cuma alias sedekah. Melainkan ada tujuan terselubung dibalik pemberian dukungan mereka terhadap calon pemimpin daerah. 

Oleh karena itu, sebaiknya msyarakat dihimbau agar tidak lagi tertipu dengan trik-trik pencitraan seperti blusukan. Sebab dengan kegiatan blusukan, rakyat telah tertipu dengan tujuan kepentingan politik kapitalis dibelakangnya. Bukan lagi rahasia jika setiap calon pemimpin daerah maupun negara dalam sistem demokrasi kapitalis melakukan perkawinan politik oportunistik antara calon pejabat dengan elit kapitalis.

Para elit kapitalis akan menjadi donatur calon pemimpin yang akan maju. Dalam kapitalisme, bantuan itu adalah utang bukan percuma begitu saja. Dan setelah calon pemimpin terpilih, maka hal pertama yang akan dilakukan tentu mencari cara mengembalikan modal kampanye kepada donatur. Setelah itu, meraup keuntungan bersama dengan para pendukungnya. Pertanyaannya, lalu kapan mereka berfikir untuk rakyat? 

Apalagi sekarang kepala daerah seperti dikebiri kekuasaannya dalam hal pengelolaan SDA. Izin pengelolaan SDA daerah bukanlah bergantung sepenuhnya kepada kepala daerah. Melainkan urusan pusat. Jika kepala daerah yang akan didukung para cukong tidak loyal kepada pemimpin pusat, tentu mereka akan kesulitan dalam merampok dan menjarah potensi alam di daerah. Dengan alasan itu, calon-calon kepala daerah yang didukung haruslah terbukti memiliki dukungan dan loyalitas kepada pemerintah pusat. 

Jadi, sebenarnya bukanlah suatu kejutan  jika yang jadi kandidat calon kepala daerah semakin didominasi oleh keluarga pejabat-pejabat hari ini. Meskipun rezim dan orang-orang sekitarnya menolak dikatakan bahwa mereka telah membangun sistem pemerintahan oligarki dan dinasti kepentingan, tetapi itulah fakta yang sebenarnya. 

Semua itu terjadi sebagai dampak dari penerapan sistem deomkrasi kapitalis. Sistem ini tidak akan berjalan tanpa kepentingan. Apapun akan dilakukan demi meraih keuntungan bagi elit pemilik modal. Meskipun dengan cara yang diharamkan, seperti bersifat hipokrit. Disatu sisi, blublusukan terlihat olah-olah peduli kepada rakyat. Namun hakikatnya, mereka hanya bermanis muka demi meraih dukungan dan suara. Setelah itu, " just say good bye ".

Ketulusan dan kejujuran sangatlah mahal dalam sistem demokrasi kapitalis. Bahkan hampir mendekati impossible. Karena karakter yang dihasilkan oleh sistem tersebut adalah lain dimulut, lain dihati, lain diperbuatan. Bukankah sikap ini berbahaya? Karena dalam Islam sikap seperti itu dikatakan hipokrit (munafik). 

Allah SWT dan juga Nabi Muhammad SAW sangat membenci sikap hipokrit. Bahkan Beliau tidak mau menyolatkan jenazah orang-orang yang hipokrit (munafik). Karena perbuatan mereka mampu menipu manusia dan juga menghancurkannya. Bagaimana mungkin daerah akan selamat dan bangkit jika pemimpinnya adalah para hipokrit? Apalagi loyal kepala pemerintahan pusat yang jelas - jelas nyata menerapkan ideologi kapitalis? 

Pilkada demi pilkada telah dilalui. Tetap saja daerah-daerah di negeri ini tidak memberikan sumbangan perubahan yang signifikan dan revolusioner. Karena hampir semua kepala daerah tidak lepas dari dukungan para cukong dan juga tekanan  pemerintah pusat. Dengan demikian, harapan satau-satunya agar daerah bisa bangkit dan membantu perubahan yang hakiki bagi negeri adalah dengan mendukung perjuangan menegakkan syariat Islam dan melepaskan diri dari jeratan ideologi kapitalis.
 
Sudah seharusnya para calon pemimpin negeri ini berikut semua kepala daerah menghindari sifat hipokrit. Caranya tentu saja dengan menolak kapitalisme dan menyuarakan Islam. Lahirnya calon pemimpin dan pejabat yang hipokrit adalah buah penerapan demokrasi kapitalis. Maka hanya dengan mendukung penerapan syariat Islam, negeri ini dan seluruh daerah yang ada akan dipimpin oleh para pemimpin daerah yang amanah. Wallau a'lam bissawab.[]

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam, Dosen dan Pengamat Politik

Posting Komentar

0 Komentar