Blokir Film Khilafah: Kekalahan Intelektual dan Penguburan Sejarah


Siapa yang tak terhenyak dengan fakta sejarah yang disuguhkan dalam film Jejak Khilafah di Nusantara, pertama kali tayang 20 Agustus lalu? Film besutan Komunitas Literasi Islam, Media Umat dan Khilafah Chanel itu elah berhasil membuat gaduh jagat Nusantara itu sendiri.

Bagaimana tidak, film tersebut dengan berani membongkar fakta sejarah Indonesia (Nusantara) dari akar-akarnya yang terdalam ditengah narasi pengaburan dan penguburan sejarah yang terus digulirkan oleh rezim seluleris.

Dikaburkan bermakna, suatu peristiwa yang terjadi di masa lalu ditulis dalam ‘frame’ yang jauh dari realitas yang terjadi. Sedangkan dikuburkan, bermakna peristiwa yang terjadi dimasa lalu tersebut, sengaja tidak di tulis dan dijauhkan dari pemahaman umat.

Kekalahan intelektual dikalangan rezin itu terwujud nyata dalam tuduhan, film JKDN terselip propaganda, kepentingan HTI. Tuduhan yang sama sekali tidak berdasar, terlebih para penuduh belum pernah menonton filmnya. Maka jika kita saksikan dengan seksama film yang berdurasi 58 menit itu benar-benar menghadirkan fakta sejarah berdasarkan bukti-bukti yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tuduhan-tuduhan itu diperluas dengan berbagai stigma negatif, ‘Khilafah akan memecah NKRI’ nyatanya, sejak sebelum Indonesia merdeka, Nusantara ini berbentuk sebuah kesultanan yang berkuasa penuh walaupun berada di bawah Negara Islam (Khilafah). Sepanjang masa yang membentah itu, Nusantara tidak pernah dianggap sebagai negara jajahan bahkan adat, budayanya (selama tidak bertentangan dengan Syariat Islam), nama wilayahnya pun tidak musti berganti. Sebagaimana kesultanan Pasai, kesultanan Aceh, dll. Itu tetap menjadi bagian Negara Islam dengan keragaman yang ada di wilayahnya.

Kekalahan intelektual lainya, yaitu menganggap bahwa sumber-sumber pebentuk Negara haruslah bersumber dari lokal, kesepakatan bersama dengan paham Nasionalisme, Sekularisme, sedangkan Khilafah adalah ide yang transnasional dan bertentangan dengan kearifan lokal. Padahal nyatanya, Nasionalisme dan Sekularisme juga bukan merupakan pemikiran lokal Nusantara akan tetapi merupakan ide penjajah, Barat. Didalamnya mengandung pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan kelokalan Nusantara. Sekularisme menjadikan agama sebagai musuh, membuat pelakunya tidak kritis terhadap Barat yang jelas-jelas bervisi menjajah dan mereka benar-benar menjauhkan Islam sebagai sebuah sistem yang dapat diperhitungkan dalam membangun Negeri.

Sesungguhnya kegaduhan ini bermula dari kaum sekularis itu sendiri, yang terus berupaya menjauhkan agama dari kehidupan, dalam makna jika bisa agama tidak hadir dalam kehidupan. Akhirnya persautuan umat Islam di Nusantara dipecah belah dengan mengangkat sebagian golongan yang pro terhadap mereka dan mengubur golongan yang lain, yang kontra terhadap kepentingan mereka. Secara masif muslim dipaksa untuk meninggalkan ajaran agamanya, dijauhkan dari sejarah Islamnya.

Mereka tidak mampu bersaing dengan adil ditengah kebebasan berpendapat yang mereka buat sendiri. Kekalahan demi kekalahan belum juga cukup untuk memahami kebenaran kecuali dengan kesewenang-wenangan. Baik dulu berupa persekusi dan pembubaran, hingga hari ini saat dakwah terus menggeliat melalui sosial media, pembungkaman terjadi, berupa pemblokiran.

Merupakan suatu kewajaran bagi ia yang beragama Islam jika menginginkan Khilafah, sebab itulah ajaran agamanya, sebab mereka memahami misi penciptaannya di muka bumi ini, menjadi ‘khalifah pengurus bumi’. Namun sekulerisme ini terlanjur membutakan mata hati dan pikiran penganutnya sehingga mereka tidak mampu lagi untuk kritis dan mendudukan perkara dengan nalar yang logis.

Sekulerisme dan Nasionalisme adalah pemahaman milik penjajah. Kehadirannya dalam dunia Islam telah berhasil memecah belah umat, mengacaukan tatanan kehidupan, menjauhkan manusia dari misi hidupnya di bumi.

Kerinduan terhadap Khilafah adalah kerinduan umat Islam terhadap persatuan, kehormatan dan kemuliaan umat dan agamanya. Khilafah adalah kebutuhan umat yang pasti akan terus di perjuangkan dan faktanya Khilafah adalah institusi kerinduan yang pernah ada.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain yang turut memberikan cuitannya atas pemblokiran yang terjadi.

“Dengan ini saya meminta jawaban resmi dari pak @jokowi sebagai Presiden RI, Yai Ma’ruf Amin dan pak @mohmahfudmd:”Apa alasan Keluhan Pemerintah atas Video Jejak Khilafah sebagai Sejarah?”Apakah ada hukum negara yang dilanggar? NKRI negara hukum, tidak oleh sewenang wenang…!”

Sejauh ini umat ini terus di sempitkan oleh narasi sejarah dengan sudut pandang kebangsaan, nasionalisme bukan bukan sudut pandang keumatan, yaitu persatuan (ukhuwah) Islam. Film JKDN menghadirkan fakta sejarah secara jujur, yang menjungjung persatuan umat.

Saatnya umat kritis bahwa paham sekuler ini tidak pernah memberikan sedikitpun pengaruh terhadap perbaikan bangsa, untuk apa masih dipertahankan?
Sebagai muslim sejati, Khilafah hendaknya menjadi perjuangan bersama, diterapkan bersama hingga keberkahan hidup, bisa kita rasakan bersama.[]

Oleh: Muthi Nidaul Fitriyah

Posting Komentar

0 Komentar