TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Berapa Purnama lagi, Generasi Saat Ini Kembali ke Sekolah?

foto: jatimtimes.com


Tidak sedikit cerita yang dialami para ibu yang kini menjadi guru pendamping sang buah hati dimasa pandemi. Ada yang berupa cuitan status media sosial dan ada juga yang membuat meme-meme lucu tentang tidak jelasnya arahn pendidikan di era pandemi ini. Seolah-olah meme-meme tersebut menggambarkan bahwa orangtualah yang sedang bersekolah, bukan anak bangsa yang terjebak dengan kondisi pandemi yang mebuat mereka terpaksa belajar di rumah.

Tidak berhenti sampai sini, tidak semua orangtua yang bisa tetap di rumah karena harus bekerja, lalu bagaimana kondisi anak yang tanpa bimbingan dan harus sekolah daring? Hal ini menjadi tantangan tersendiri, atau bahkan ada orangtua yang cuek dan tidak peduli tentang hal ini, seolah terserah anak sehingga berhenti dulu atau cuti tidak bersekolah. Dan kasus yang beragam lainnya, termasuk kasus ayah yang mencuri handphone di Garut untuk sekolah daring anaknya, ia rela melakukan hal yang salah demi anak yang harus tetap menempuh jalan pendidikan dengan kondisi online karena masih dalam kondisi pandemi yang tak kunjung reda. (liputan6.com 06/08/2020)

Rasa khawatir dengan berbagai kasus yang terjadi ditengah kondisi pendidikan daring sebenarnya sudah ada sejak awal, karena arah penanganan covid-19 yang masih jauh dari kata aman. Sudah 7 bulan lamanya pendidikan ini berjalan secara daring dan tentu menjadi sejarah dunia karena bangsa ini masih terbiasa dengan gaya pendidikan belajar dan mengajar tatap muka secara langsung, maka masih terasa sulit kiranya jika harus memunculkan motivasi belajar secara online.

Secara psikologis, anak, bahkan orangtua yang mendampingi anak sebagai tenaga pengajar sehari-hari. Mulai diliputi stress dan jenuh. Penangan pandemi yang masih belum tuntas, membuat masalah pendidikan ini mulai terabaikan, dan terus bermunculan dengan masalah lain seperti pemberitaan kejaksaan agung yang dilalap si jago merah, lebih sibuk memblokir film yang sejatinya mengungkap sejarah dan menebar dakwah, atau berita lainnya yang mengesampingkan kondisi pendidikan yang seharusnya lebih diperhatikan lagi.

Lelah untuk Lillah

Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan. Begitulah perkataan bijak dari Imam Syafi’i, teringat kisah beliau yang berkelana terus menerus untuk mencari ilmu. Dari ulama ke ulama, dari Mekkah ke Madinah kemudian ke Irak, di usia sangat muda. 

Beliau cerdas dalam menyerap ilmu, beliaupun tak kunjung pulang sebelum ibundanya memanggilnya untuk pulang. Sampai pada akhirnya ibundanya mengetahui sendiri bahwa anaknya telah menjadi seorang guru besar. Kembalilah Imam Syafi'i ke Mekkah dari Irak atas panggilan Ibundanya, orang-orang Irak sangat berat hati melepas Imam Syafi'i kembali ke Mekkah, namun mereka tetap harus merelakannya. 

Banyak sekali perbekalan, kekayaan, dan unta yang di berikan penduduk Irak untuk Imam Syafi'i. Berangkatlah Sang Imam dari Irak menuju Mekkah bersama beberapa orang muridnya. Setibanya di Mekkah, salah seorang murid mengabarkan bahwa Imam Syafi'i telah tiba dengan membawa unta dan kekayaan. Namun, bukan disambut dengan hangat, Ibunda Imam Syafii, menyuruh murid Imam Syafii untuk kembali. Akhirnya segala perbekalan, kekayaan, dan unta, beliau bagikan kepada penduduk Mekkah. Sang imam kembali kepada ibunda tercinta dengan hanya membawa kitab. Sungguh kisah yang sangat inspiratif.

Pembelajaran yang hakiki Islam mengajarkan kepada setiap individu untuk berusaha, karena manusia diciptakan untuk menempuh susah payah. Di dalam Qur’an Surat Al Balad ayat 4, Allah berfirman : Laqod kholaqnal insaana fii kabad, yang artinya manusia diciptakan dalam perjuangan, kerja keras, dan kesulitan.

Kesusahan mengajarkan manusia untuk mendapatkan keluhuran serta balasan langsung dari Alllah Subhanahu wata’alaa. Namun susah payah bukan berarti pasrah saja dengan arah kebijakan yang ada, kita pun perlu memuhasabahi para pemimpin agar kebijakan yang diambil adalah yang sesuai dengan apa yang Allah berikan.

Karena Islam memandang pendidikan sangat mulia. Islam hadir untuk seluruh alam. Hanya dengan Islam dan kekuatan Islam lah yang mampu menyelesaikan problematika kehidupan yang ada.
Berapa purnama lagi anak bangsa ini menunggu kembali ke bangku sekolahnya? Harus sampai kapan nasib pendidikan tunas bangsa terombang ambing? Mau dibawa kemana arah pendidikan negara Indonesia tercinta ini?

Maka, sesungguhnya kami hari ini sangat membutuhkan nahkoda yang pasti mengetahu tujuan. Nahkoda yang membawa kenyamanan, keamanan, ketentraman, disetiap lubuk hati umat manusia diseluruh penjuru negeri. Karena ketenangan hanya mampu dirasakan jika Islam diterapkan, mengembalikan fitrah manusia yang sadar akan pentingnya pendidikan dan disejahterakan dengan sistem yang mendukung arah pendidikan. 

Hanya dengan Khilafah, Islam mampu tegak menerapkan syariahnya di segala aspek termasuk pendidikan, sehingga problematika ummat memiliki arah tujuan yang jelas menuju solusi yang pasti yang sesuai dengan fitrah manusia. Semoga syariah Islam segera tegak, karena kami selalu menantikannya. Wallohu’alam bi ash showab.[]

Oleh: Hindun Camelia

Posting Komentar

0 Komentar