TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Belajar Adab sebelum Ilmu

Sumber foto: facebook.adivictoria.com


Teringat sebuah adab. Bagaimana seorang santri sangat memperhatikan kebutuhan gurunya. Memperbaiki letak sandalnya, agar sang guru tidak kerepotan untuk memakainya. Membiarkan lebih dulu berjalan di depan mereka. Tidak berbisik apalagi mengeluarkan suara keras dan menunduk. 

Begitu juga ketika di dalam masjid. Para santri duduk diam. Tidak mau mendahului gurunda. Setelah guru mereka keluar masjid, barulah mereka keluar beramai-ramai dengan hormat. Sungguh adab yang luar biasa. 

Tetapi, fakta lain menunjukkan sebaliknya. Beberapa waktu lalu beredar sebuah video yang tak patut untuk dicontoh.  Seorang ustaz diperlakukan tak beradab. Pelaku  meghardik, berbicara dengan nada tinggi dan melakukan intimidasi. 

Perlakuan terhadap ustaz tersebut sangat disayangkan. Banyak masyarakat yang mengecamnya. Pelaku merupakan wakil rakyat dan ketua dari sebuah organisasi keagamaan. Kiranya tak pantas mengambil peran aparat keamanan untuk menginterogasi seseorang. Bukankah hal ini tidak dapat dibenarkan dalam aturan hukum di negara ini?

Disamping itu, kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, toleransi dan tata krama. Yang bisa kita temui dalam Pancasila dan Undang- Undang Dadar 1945. Dengan inilah nama bangsa ini bisa dikenal. 

Begitu juga dengan Islam. Islam memandang penting mengetahui adab sebelum ilmu, tata krama dan menghormati guru. Hal ini telah banyak ditemukan dalam kitab-kitab fiqh, sehingga dalam proses belajar mengajar, transfer ilmu bisa berlangsung dengan sangat baik. 

Seperti kisah Imam Malik. Kejeniusan Imam Malik tidak lepas dari peran ibunya. Ibunya ingin agar Imam Malik menjadi seorang ulama, maka ia mengirimnya untuk belajar di rumah seorang ulama besar bernama Rabi`ah bin Abdurrahman.

Sebelum berangkat ibunya berpesan "pelajarilah adab Syaikh Rabi`ah sebelum belajar ilmu darinya." Adab memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu , terlihat dari kisah Abdurrahman bin Al-Qasim, salah satu murid Imam Malik. Ia bercerita bahwa "aku mengabdi kepada Imam Malik selama 20 tahun, 2 tahun diantaranya untuk mempelajari ilmu dan 18 tahun untuk mempelajari adab. seandainya saja aku bisa jadikan seluruh waktu tersebut untuk mempelajari adab (tentu aku lakukan)." (Kompasiana, 28/08/2018).  

Imam Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab Fid Din dalam Majmu'ah Rasail Al-Imam Ghazali mengatakan bahwa seorang Murid harus memiliki Adab yang baik di hadapan guru.

Adab menurut bahasa adalah kesopanan, tingkah laku yang baik, kehalusan budi dan tata susila. Adab juga berarti pengajaran dan pendidikan yang baik sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "(Sesungguhnya Allah telah mendidikku dengan adab yang baik dan jadilah pendidikan adabku istimewa)." Islam tak hanya menekan pentingnya ilmu. Akhlak mulia juga sangat penting, bahkan lebih penting lagi.

Adab murid terhadap guru yaitu mendahului memberi salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru, 'Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda', tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya ketika guru di dalam majelis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga guru sampai di rumah, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika guru sedang lelah".

Sabda Rasulullah menegaskan hal itu, 'sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia." Imam Malik bin Anas adalah salah satu ulama besar. Beliau adalah guru dari Imam Syafi`i dan sahabat berdiskusi Imam Abu Hanifa.

Nah, di sinilah pentingnya belajar adab sebelum ilmu. Sehingga tidak akan ditemukan lagi ada murid yang membentak gurunya, melecehkan gurunya bahkan menghilangkan nyawa gurunya. Wallahu 'alam bishowab.[]

Oleh: Rika Suhandini

Posting Komentar

0 Komentar