TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Begini Lho Cara Rezim Melakukan Penyesatan Opini “Radikal” dan “Radikalisme”


TintaSiyasi.com-- Aslinya kata “radikal” dan “radikalisme” merupakan kata atau istilah yang netral saja. Jadi negatif karena memang kafir penjajah, dan ---sayangnya juga--- rezim ini membangun opininya dengan konotasi negatif. Bagaimana caranya? Mengapa itu dilakukan?

Untuk menemukan jawabannya Host Follback Dakwah Kholid Mawardi mewawancarai Jurnalis Tabloid Media Umat Joko Prasetyo dalam Bincang Tabloid Media Umat Edisi 8: Narasi Radikalisme Makin Ngawur (Membedah Rubrik Media Utama Tabloid Media Umat edisi 273 'Narasi Radikalisme Makin Ngawur')Sabtu 19 September 2020 pukul 16.00 WIB di kanal Youtube Follback Dakwah. Berikut petikannya.   

 

Beberapa waktu yang lalu itu istilah good looking mencuat ketika Menteri Agama mengidentikannya dengan paham radikal. Nah kalau menurut Mas Joy bagaimana?

Good looking itu artinya enak dilihat atau ganteng/cantik. Maksud Menteri Agama kan radikalisme masuk ke masjid melalui orang yang good looking, menguasai bahasa Arab dan hafidz. Jadi Menag itu sedang menyebutkan modus penyebaran ---yang diistilahkan oleh rezim sebagai--- paham radikal.  

Tentu saja pernyataan itu menuai kecaman dari banyak kalangan Islam ya, karena selama ini kata “radikal” ataupun “radikalisme” dibangun oleh rezim dengan konotasi yang sangat-sangat negatif.

Lalu hal-hal yang dalam Islam itu baik dikaitkan dengan radikal dalam konotasi negatif tadi.  Good looking kalau kita terjemahkan bebas dalam konteks Islam kan bisa bermakna penampilannya rapi, bersih alias tidak acak-acakan, tidak kotor.

Islami banget kan? Lalu menguasai bahasa Arab dan hafidz juga merupakan kemampuan yang mulia di Islam. Tetiba itu semua dikaitkan dengan suatu istilah yang dikonotasikan sangat-sangat negatif oleh rezim yakni istilah “radikal”. Tentu kalangan Islam sangat tersinggung.

 

Kita termasuk good looking kah? Ha...ha…ha… 

Dalam artian ganteng begitu ya? Insya Allah sudahlah, setidaknya oleh istri kita masing-masing ha..ha…

Tapi silakanlah pemirsa Follback Dakwah menilai sendiri kami ini good looking enggak ha…ha…

 

Nyambung enggak sih good looking dengan radikal? 

Kalau radikal ini dikonotasikan dengan negatif maka itu itu sih sama saja dengan pertanyaaan, nyambung enggak sih antara lulusan perguruan tinggi tertentu dengan koruptor? Karena para pejabat yang jadi koruptor itu dulu kuliahnya di perguruan tinggi tertentu.

 

Dari tadi Mas Joy kok bilangnya radikal konotasi negatif, emang ada korupsi konotasi positif? 

Kalau korupsi jelas negatif. Enggak ada korupsi berkonotasi netral apalagi positif. Kalau radikal memang aslinya itu netral.

 

Nah, menarik nih. Bagaimana maksudnya…? 

Memang ada upaya penyesatan opini oleh rezim untuk menyerang Islam. Saya pakai contoh yang enggak disebut dalam Tabloid Media Umat 274, edisi terbaru ya. Sengaja, agar pemirsa Follback Dakwah membaca sendiri tabloidnya. Kalau saya sampaikan di sini entar enggak jadi baca he…he…

Pertama, ada kelompok Islam yang secara konsisten berdakwah agar kaum Muslimin taat syariat Islam secara kaffah, oleh rezim dicitrakan sebagai kelompok radikal. Bolak-balik kan dicitrakan begitu oleh rezim.  Gencar-gencarnya dimulai sejak 2016.  

Kedua, tahun lalu, tepatnya 10 Oktober 2019. Menkopolhukam Wiranto ditusuk seseorang. Lalu penusuk Wiranto diopinikan terpapar radikalisme. Padahal faktanya, kelompok Islam ini dan penusuk Wiranto tidak ada kaitan sama sekali.

Ketiga, penusuk Wiranto terus menerus digoreng sebagai orang radikal sehingga tertanam di benak orang awam bahwa radikal itu terkait erat dengan memaksakan kehendak bahkan dengan menggunakan kekerasan fisik. Bahkan presiden di hari yang sama langsung menyerukan perang lawan radikalisme.

Target yang diinginkan: kelompok Islam yang secara konsisten berdakwah agar kaum Muslimin taat syariat Islam secara kaffah harus dijauhi karena memaksakan kehendak bahkan dengan kekerasan fisik.

Faktanya: kelompok Islam tersebut mendakwahkan Islam secara kaffah tetapi tidak memaksakan kehendak apalagi dengan kekerasan fisik.

 

Oke Mas Joy, berarti makna radikal atau radikalisme itu sebenarnya apa sih?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikal itu 100 persen netral.  Ada tiga makna “radikal” dalam KBBI. Pertama, secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Kedua, amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Ketiga, maju dalam berpikir atau bertindak.

 

Contoh penggunaan kalimat dari ketiga makna tersebut? 

Pemerintah pada Kamis, 2 Juli 2020 menyatakan telah “resmi menghapus konten-konten terkait ajaran radikal dalam 155 buku pelajaran agama Islam.”

Timbul pertanyaan, apa sih arti kata "radikal" tersebut sehingga pemerintah repot-repot menghapusnya dari 155 buku pelajaran Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Al-Qur’an dan Hadis, serta Bahasa Arab? 

Karena konteksnya adalah buku pelajaran agama Islam dan dikaitkan dengan makna radikal dalam KBBI, maka penghapusan itu bisa bermakna:

Menghapus konten yang “secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip)” dalam Islam. Hal yang prinsip dalam Islam itu jelas sumbernya dari Al-Qur’an, Hadits, Ijma Shahabat dan Qiyas Syar’i.  

Salah satu contoh hal yang prinsip: Islam mengharamkan riba (salah satu variannya: bunga bank). Jadi, pengharaman riba itu juga termasuk kata radikal. Apakah pemerintah sudah menghapus konten pengharaman riba? Karena itu termasuk radikal juga lho!

Tetapi dengan diamnya Kemenag atas praktik riba, kita pahamlah ya…

 

Kalau radikal dalam makna “amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan)”?

Islam itu selain mengatur individu dan kelompok, juga mengatur negara serta hubungan luar negeri. Jadi bila negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim ini menerapkan “undang-undang dan pemerintahan” yang tidak islami, tentu saja Islam “amat keras menuntut perubahan.”

Salah satu contoh hal yang menunjukkan amat keras menuntut perubahan: Islam mewajibkan umatnya melakukan muhasabah lil hukkam (mengoreksi kepada penguasa). Nah, apakah pemerintah sudah menghapus konten muhasabah lil hukkam, amar makruf nahi mungkar, dakwah dan semisalnya? Karena itu termasuk radikal juga lho!

Mungkin sertifikasi penceramah adalah jawabannya dari Kemenag.

  

Bisa, bisa, bisa. Kalau radikal dalam makna “maju dalam berpikir atau bertindak”?

Siapa saja yang meyakini Islam satu-satunya agama dan ideologi yang benar, serta mempelajari dan memahami Islam dengan benar, tentu saja akan “maju dalam berpikir dan bertindak”.  

Mengapa dikatakan maju dalam berpikir dan bertindak? Karena sangat paham bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta ini asalnya tidak ada, jadi ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Manusia, kehidupan dan alam semesta pasti akan berakhir (Qiamat). Lalu manusia akan dihisab di Akhirat (kehidupan setelah kiamat).

Manusia yang selama di dunianya beriman dan taat akan semua perintah Allah SWT akan dimasukkan ke Surga. Sebaliknya, bila tidak beriman atau mengaku beriman tetapi perintah Allah SWT malah dilalaikan malah dihapus dalam buku pelajaran tentu saja Neraka adalah tempat kembalinya. 

Jadi sangat terbayang jelas bahwa dalam memenuhi kebutuhan fisik dan keinginan naluri manusia, baik dalam kesendirian, berkelompok, bernegara maupun berhubungan luar negeri hanya disandarkan pada perintah dan larangan Allah SWT saja. Karena hanya itulah misi hidup manusia di planet Bumi ini.

Pemahaman yang benar seperti itu tentu saja akan membuat seseorang, kelompok, maupun negara akan “maju dalam berpikir dan bertindak”.  

 

Contoh perbuatan “maju dalam berpikir dan bertindak”?  

Berjuang menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah.

Khilafah adalah sistem pemerintah yang menerapkan syariat Islam secara kaffah di dalam negeri sedangkan hubungan luar negerinya berporos pada dakwah dan jihad. Kepala negara yang menerapkan sistem ini disebut khalifah.  

Apakah pemerintah sudah menghapus konten khalifah dan atau khilafah? Karena itu termasuk radikal juga lho!

Terkait pertanyaan ini, pemerintah sudah menjawabnya. Bab Khilafah atau Sistem Pemerintahan Islam di buku mata pelajaran Fikih Madrasah Aliyah Kelas 12 dihapus. Sedangkan di mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tetap ada.  

Namun kata Menag, “Meski demikian, (di) buku (yang direvisi) itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia.”

Itu menunjukkan apa? Pemerintah sebenarnya tahu bahwa khilafah adalah ajaran Islam di bidang pemerintahan. Sebelum dihapus, juga jelas di buku mapel Fikih menegakkan khilafah itu fardhu kifayah. Dan di buku mapel Sejarah Kebudayaan Islam juga ditunjukkan bukti sejarah penegakkan khilafahnya. Jadi pemerintah sangat kesulitan menghapusnya. Maka yang paling mungkin dilakukan ya memfitnahnya dengan kata, “Tak lagi relevan.”  

Pernyataan “tak lagi relevan” itu, meski ditulis di 155 buku pelajaran agama Islam di madrasah tetap tidak menggugurkan kewajiban menegakkan khilafah. Bahkan, meskipun dilarang atas nama apa pun oleh siapa pun, tetap saja khilafah adalah ajaran Islam yang wajib ditegakkan.

Allah SWT berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan/totalitas), dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS al-Baqarah [2]: 208). 

Dalam ayat tersebut secara gamblang Allah SWT mewajibkan kaum Muslimin menerima seluruh syariat Islam secara totalitas, serta keharaman untuk pilih-pilih dalam syariat. Orang yang menghalalkan yang haram (termasuk riba/bunga bank) dan meninggalkan kewajiban (termasuk kewajiban menegakkan khilafah), berarti telah mengikuti langkah-langkah setan (makhluk durhaka yang mengajak maksiat kepada Allah SWT), padahal setan adalah musuh yang nyata bagi kaum Muslimin.

 

Sedangkan radikalisme?

Ada tiga pula makna “radikalisme” dalam KBBI. Pertama, paham atau aliran yang radikal dalam politik. Kedua, paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Ketiga, sikap ekstrem dalam aliran politik. 

Ingat “ekstrem” juga konotasinya netral lho. Dalam KBBI ekstrem diartikan sebagai paling ujung (paling tinggi, paling keras dan sebagainya)” dan “sangat keras dan teguh; fanatik. Contoh kalimatnya: mereka termasuk golongan ekstrem dalam pendirian mereka.

Kembali lagi ke radikalisme. Dari makna di KBBI tersebut kita bisa menyimpulkan radikalisme ada dua makna. Yang satu netral. Yang kedua ada opsi kekerasan. Tapi bukan dalam bentuk penunjukkan “pasti melakukan kekerasan” karena kalimatnya “dengan cara kekerasan atau drastis.”

 

Drastis itu apa? 

Ya, kita tinggal cek lagi saja ke KBBI drastis itu apa. Dalam KBBI  seperti yang tercantum dalam KBBI, sebagai “tegas dan cepat”; “menyeluruh” kaffah ya; “hebat” dan “luar biasa”.

Sekali lagi, karena masih ada opsi “drastis” maka radikalisme “tidak mesti melakukan tindakan kekerasan”. Dan tentu saja “drastis” tidak identik dengan “kekerasan”.  

Dan kelompok Islam yang konsisten mendakwahkan Islam dari A-Z tersebut menginginkan terjadinya perubahan mendasar dalam kehidupan bernegara. Dari yang tadinya berdasarkan sekularisme dengan sistem pemerintahan demokrasinya, menjadi berdasarkan Islam/tauhid dengan sistem pemerintahan khilafahnya.

Apakah tidak boleh? Anda setuju tidak punya anak beragama Islam dan taat pada aturan Islam? Mengapa punya negara yang taat aturan Islam tidak setuju? Anda setuju tidak ada bank berdasarkan syariah? Mengapa tidak setuju kalau negara berdasarkan syariah? 

Dan jangan lupa, kelompok Islam tersebut anti kekerasan dalam perjuangan politik mengganti sistem kufur demokrasi menjadi khilafah karena itu bertentangan dengan Islam!

 

Apakah Rasulullah SAW mencontohkan begitu?

Rasulullah SAW dan para sahabatnya memberikan contoh yang sangat jelas bagaimana bertindak radikal, merubah masyarakat kufur jahiliah hingga berubah menjadi negara Islam/khilafah. Dalam perjuangannya yang penuh dengan paparan radikalisme itu tak sekali pun dijumpai Rasulullah SAW, walau sekali saja, melakukan atau pun menyuruh para sahabatnya melakukan tindakan kekerasan/fisik. 

Ketika Bilal disiksa pun, tidak ada sahabat Rasulullah SAW yang melawan secara fisik. Tidak ada seruan dari Rasulullah SAW untuk melawan secara fisik. Yang ada malah Bilal pun tetap menyuarakan kebenaran, “Ahad, Ahad, Ahad,” sehingga membuat geram kafir Quraisy dan semakin menambah siksaannya kepada Bilal.

Begitu juga ketika keluarga Yasir disiksa tuannya. Rasulullah SAW tidak pernah menyuruh melawan secara fisik. Rasulullah SAW bersabda, “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.” Sumayyah mendengar seruan Rasulullah SAW. Maka ia pun semakin tegar menghadapi berbagai macam siksaan. 

Ia bahkan dengan berani terus mengulang sebuah kalimat, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Bayangkan, apa enggak bertambah marah itu kafir Qurasy mendengar jawaban Sumayah.  

Jadi Islam, seperti yang ditunjukkan Bilal atau melalui percakapan Rasulullah SAW dengan Sumayah itu mengajarkan kepada kita, meski kita ditekan sedemikian rupa tetap harus lantang menyuarakan kebenaran!

Jadi sekali lagi, radikal atau radikalisme tidak identik dengan pemaksaan kehendak apalagi dengan kekerasan.

 

Lantas mengapa rezim menggunakan istilah “radikal” dan “radikalisme” untuk memerangi kaum Muslimin yang menginginkan syariat Islam diterapkan secara kaffah?  

Karena dua hal. Pertama, radikal dan radikalisme adalah istilah yang sengaja dipropagandakan Amerika untuk memerangi dakwah penerapan syariat Islam secara kaffah. Kalau kafir penjajah seperti itu, kita bisa memahami ya, namanya juga kafir penjajah. Tapi sayangnya, rezim di negeri mayoritas berpenduduk Islam ini malah manut saja dengan propaganda Amerika.

Kedua, radikal dan radikalisme adalah kata ganti dari “Islam dan penerapan Islam secara kaffah” untuk mengelabui umat Islam yang masih awam. Kalau rezim berkata “Ayo perang lawan Islam” tentu saja akan mendapatkan penolakan keras, bukan saja dari para aktivis Islam, tetapi juga termasuk dari mayoritas kaum Muslimin yang masih awam.  

Tapi kalau berkata “Ayo perang lawan radikalisme”, tentu saja banyak kaum Muslimin awam yang akan tertipu, seperti yang terjadi sekarang ini.

 

Wah culas ya… seperti musang berbulu domba saja…

Iya. Maka mulai dari sekarang, pahamilah bila rezim dan followers-nya mengatakan “perang melawan radikalisme” itu sejatinya bukan benar-benar perang melawan kekerasan fisik! Karena banyak kekerasan fisik yang dilakukan banyak orang tetapi tidak pernah disebut sebagai radikal atau radikalisme!

 

Contohnya? 

Pernahkah Anda mendengar pengusiran, membakaran rumah, penyiksaan dan pembunuhan para pendatang Muslim di Wamena pada September 2019 lalu oleh rezim disebut sebagai orang radikal?  Tidaaak! Sekali pun, tidak!

Pernahkah Anda mendengar para oknum aparat yang menyiksa bahkan menembak mati para demonstran pada 26 September 2019 di Kendari oleh rezim disebut terpapar radikalisme? Tidaaak! Sekali pun, tidak! 

Jadi mulai dari sekarang, pahamilah bila rezim dan followers-nya mengatakan “perang melawan radikalisme” itu sejatinya memerangi dakwah penerapan syariat Islam secara kaffah!

Artinya apa??? Mereka memusuhi agama yang dipeluknya sendiri (Islam) karena lebih tunduk kepada kafir penjajah Amerika dan negara Cina ketimbang kepada Allah SWT! 

 

Baik Mas Joy, sekarang kita masuk ke cover tabloid Media Umat edisi 274. Di headline dituliskan “Narasi Radikalisme Makin Ngawur”. Ngawur bagaimana? 

Ngawurnya, seperti yang saya jelaskan tadi, rezim mengaitkan kata radikalisme dengan pemaksaan kehendak bahkan sampai dengan kekerasan fisik. Tetapi pada aktivitas yang semacam itu yakni “pemaksaan kehendak bahkan sampai melakukan kekerasan fisik” rezim cenderung diam bahkan malah membela.

Tetapi dengan sigap terus-menerus menyerang aktivitas-aktivitas keislaman dan istilah-istilah Islam. Seperti good looking, menguasai bahasa Arab, hafidz. Apa tidak ngawur? Dulu yang diserang, celana cingkrang dan cadar. Dan yang konsisten terus diserang khilafah. Padahal jelas-jelas khilafah ajaran Islam. Apa tidak ngawur? 

 

Contohnya “pemaksaan kehendak bahkan sampai melakukan kekerasan fisik” yang dibiarkan malah dibela rezim seperti apa? 

Contohnya, aktivitas persekusi oleh sekelompok massa kepada seorang ulama di Pasuruan, oleh aparat dibiarkan itu. Malah oleh Menag dipuji sebagai aktivitas tabayun. Padahal tabayun dan persekusi adalah dua perbuatan yang berbeda. Hukumnya juga beda.

Contoh lainnya, Kemenag tetap saja memaksakan kehendak dengan membuat program sertifikasi peneceramah dengan mencatut logo MUI. Padahal jauh-jauh hari MUI sudah menolaknya dengan tegas.  

Siapa tuh yang memaksakan kehendak bahkan sampai mencatut logo MUI segala? Kok enggak dibilang radikal (dalam konotasi negatif) ya?

 

Kenapa MUI menolak terlibat dalam sertifikasi itu? 

Nah, itu juga saya tanyakan kepada Wakil Ketua MUI KH Muhyiddin Junaidi. Jawabannya dimuat tuh di MU terbaru. Kata beliau begini pas saya tanya.

“Kalau bersertifikat, bisa saja itu dijadikan alat untuk menggebuk penceramah-penceramah dan ustaz-ustaz, kiai-kiai yang berbeda sikap politiknya. Bahaya! Kalau saya mau berceramah lalu ditanya mana sertifikatnya? Saya jawab tidak ada. Lalu bisa dikatakan, “Kalau begitu tidak boleh berceramah.”

 

Lalu mengapa Kemenag mencatut logo MUI? 

Karena Kemenag memang radikal! Maksud saya radikal dalam konotasi negatif ya, yakni memaksakan kehendak malah sampai menghalalkan cara yang haram.  

Masalah ini juga saya tanyakan kepada pengamat sosial Iwan Januar. Tapi ini dimuatnya di Mediaumat.news ya bukan di Tabloid Media Umat.   

Kata Kang Iwan, pas saya tanya seperti itu, “Pertama, ini menandakan Kemenag ada niat tidak baik dengan mencatut institusi MUI dalam program sertifikasi penceramah. Mereka ingin umat melihat bila program ini tetap melibatkan MUI, padahal MUI justru menentang program ini sejak awal. Artinya, Kemenag ada niat tidak baik bahkan patut diduga ingin memanipulasi program ini.”

“Kedua, menandakan Kemenag tidak percaya diri ketika sudah mendapat banyak penentangan, termasuk dari MUI. Sehingga mencatut logo MUI dalam program tersebut.” 

Begitu.

 

Contoh pemaksaan kehendak sampai melakukan tindakan fisik apa? 

Banyak, dua hari lalu saja OPM tebas wajah prajurit TNI pakai parang! Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Pelaku menebas tepat di bagian wajah depannya. Pelaku menebas wajah Serka Sahlan sebanyak dua kali. Bahkan, salah satu luka sangat parah, karena luka tebasan memanjang dari mulai kening sebelah kanan hingga dagu sebelah kiri. 

Apa tujuannya OPM begitu? Ingin merdeka kan? Ingin lepas dari Indonesia. Jadi OPM ini sudah memaksakan kehendak dengan tindakan fisik! Tapi disebut teroris saja enggak, apalagi sekadar radikal. Radikal dalam kontasi negatif ya, kan sampai sekarang kita enggak mendengar OPM dibilang begitu. Apa karena OPM bukan orang Islam dan tidak ingin menerapkan syariat Islam secara kaffah?

 

Untuk mengakhiri Bincang Media Umat sore ini barangkali ada closing statement yang mau disampaikan?

Aslinya kata radikal dan radikalisme merupakan kata atau istilah yang netral saja. Jadi negatif karena memang kafir penjajah, dan ---sayangnya juga--- rezim ini membangun opininya dengan konotasi negatif yakni dikaitkan dengan pemaksaan kehendak bahkan sampai dengan kekerasan fisik.  

Tetapi pada aktivitas yang semacam itu yakni “pemaksaan kehendak bahkan sampai melakukan kekerasan fisik” rezim cenderung diam bahkan malah membela. Tetapi dengan sigap terus-menerus menyerang aktivitas-aktivitas keislaman dan istilah-istilah Islam. Seperti good looking, menguasai bahasa Arab, hafidz. Apa itu tidak ngawur?

Dulu yang diserang, celana cingkrang dan cadar. Dan yang konsisten terus diserang khilafah. Padahal jelas-jelas khilafah ajaran Islam. Apa ini tidak ngawur? 

Penyerangan terhadap ide khilafah juga tampak pada dibuatnya “aplikasi ASN radikal” serta sikap diskriminatif Menag yang menyatakan orang yang berpemikiran khilafah jangan jadi ASN. Jelas, ini tindakan diskriminatif dan intoleran. Jadi, rupanya rezim ini bukan hanya sekuler radikal tetapi juga diskriminatif dan intoleran.  

Dan sebenarnya sudah terkategori penistaan agama Islam ini. Karena semua yang dinegatifkan oleh rezim, semua yang disudutkan rezim merupakan istilah-istilah dalam terminologi Islam semua. Jadi ini termasuk penistaan agama Islam.

Jadi narasi radikalisme ini benar-benar ngawur! Siapa yang merusak negeri ini? Tetapi malah yang disalahkan kaum Muslimin yang berpikiran Islami, para pendakwah diserang dengan berbagai narasi menyudutkan Islam. Alih-alih menerapkan syariat Islam secara kaffah, rezim di negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim ini malah ikut-ikutan kafir penjajah memerangi pendakwah dan ajaran Islam dengan dalih radikal dan radikalisme.

Padahal Allah SWT sudah mewanti-wanti kepada kita semua, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan/totalitas), dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” (QS al-Baqarah [2]: 208). 

Jadi kafir penjajah ini adalah setannya. Lha, mengapa malah dituruti oleh rezim? Semestinya rezim sadar![]

 

Oleh: Ika Mawarningtyas 

Bila ingin menyimak perbincangan versi videonya, silakan klik https://www.youtube.com/watch?v=rmG2QmgsnFI

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar