TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Bahasa Arab dan Keterpurukan Kaum Muslimin


Posisi Bahasa Arab hari ini kurang menjadi prioritas di kalangan kaum muslimin. Banyak kaum muslimin menganggap belajar Bahasa Arab hanya sekedar kebutuhan dan hak personal, artinya masing-masing individu bebas memilih antara mempelajari dan tidak mempelajari Bahasa Arab. Kondisi demikian tentu berimplikasi pada pemahaman kaum muslimin akan syariat islam melalui Al Quran dan As Sunnah yang sepenuhnya diturunkan dengan Bahasa Arab. 

Kurikulum pendidikan menyelenggarakan mata pelajaran Bahasa Arab hanya di bangku madrasah-madrasah, sedangkan di sekolah umum tidak menyelenggarakan materi Bahasa Arab secara khusus melainkan dirangkum dalam satu mata pelajaran Agama. Mata pelajaran agama diajarkan 2 jam dalam sepekan atau 2 SKS (Satuan Kredit Semester) di bangku kuliah. 

Jauhnya kaum muslimin dari Bahasa Arab menjadi indikasi dan penyebab awal keterpurukan kaum muslimin. Kaum muslimin sudah tidak lagi memahami potensi Bahasa Arab sebagai potensi tsaqofah islam dalam memahami Al Quran dan As Sunnah. 

Fenomena ini juga telah diindera oleh Syeikh Taqiyuddin an Nabhani, seorang ulama alumnus Al Azhar Kairo Mesir melalui kitab-kitabnya yang menulis terkait faktor kemunduran ummat islam. Salah satunya adalah ditinggalkannya Bahasa Arab sebagai Bahasa al Quran dan Bahasa pemersatu serta tidak dipahaminya Bahasa Arab sebagaimana yang telah dipahami oleh para sahabat Rasululllah dan generasi setelahnya. 

Makna mundur dalam diksi diatas adalah suatu kondisi dimana ummat muslim semakin jauh dari agamanya. Jauh dalam artian tidak memahami syariat islam dengan baik. Dampak daripada hal tersebut adalah ummat islam tidak menjalankan peraturan agama secara benar. Tidak sedikit ummat islam hari ini yang salah dalam menerjemahkan syariat islam dalam realita kehidupan. Mengambil nash-nash syar’I hanya pada ranah yang dikehendaki saja. Syariat islam sudah tidak dilihat berdasarkan 5 hukum syara’ (wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram) melainkan syariat diterapkan ketika mampu mendatangkan manfaat. Padahal hukum mempelajari Bahasa Arab adalah wajib bagi setiap muslim sebagaimana Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ العَرَبِ مَا يَبْلُغُ جُهْدَهُ فِي أَدَاءِ فَرْضِهِ

“Wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab dengan sekuat tenaga agar bisa menjalankan yang wajib.”

Urgensitas mempelajari Bahasa Arab karena Bahasa Arab merupakan Bahasa Al Quran yang menjadi sumber hukum dan pedoman baku ummat islam. Apabila ummat islam tidak memahami Bahasa Arab dengan baik dan benar maka tidak akan mampu memahami perintah syariat yang tertuang dalam Al Quran secara baik dan benar. Pengetahuan seseorang untuk beragumentasi dengan nas Syariah (Al Quran dan Hadis) bergantung pada penguasaan dan pemahammnya terhadap bahasa Arab. Dalam hal ini al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan: “Ber-istidlâl dengan al-Kitab dan as-Sunnah bergantung pada pengetahuan bahasa Arab dan pengetahuan klasifikasi al-Kitab dan as-Sunnah. Sebab keduanya, yakni al-Kitab dan as-Sunnah, menggunakan bahasa Arab. 

Bahasa Arab disini mencakup cabang-cabang ilmu yang merupakan satu kesatuan yang berkaitan erat dengan potensi tsaqofah islam. Cabang-cabang ilmu tersebut yang menjadi dasar dalam mempelajari Bahasa Arab adalah Nahwu, Sharaf, Adab dan Balaghah. 

Dalam pembahasan ushul fikih terkait berdalil dengan Al Quran dan As Sunnah, harus dibahas mengenai Bahasa dan bagian-bagiannya. Bagian-bagian dari ucapan, yakni Bahasa Arab yang harus dibahas yang berkaitan dengan penggalian (istinbath) hukum Syariah atau pemahaman hukum Syariah. 

Potensi inilah yang telah memisahkan ummat islam dari tsaqofahnya. Kendati demikiran, banyak muslim Arab yang gagap dalam memahami Al Quran tersebab mereka hanya menggunakan Bahasa Arab sebagai Bahasa komunikasi saja tanpa berkeinginan kuat untuk menggali potensinya dalam memahami tsaqofah islam. 

Meskipun negara hari ini tidak mewajibkan ummat muslim untuk mempelajari Bahasa Arab, bukan berarti kita terlepas dari hukum wajibnya mempelajari Bahasa Arab. Negara tidak menerapkan aturam wajibnya memepelajari al Quran karena negara tidak menerapkan aturan Syariah sebagai sumber hukum dalam mengatur tata pemerintahan. Hal ini bukanlah dasar bagi kita sebagai bagian dari ummat muslim untuk meninggalkan Bahasa Arab. Kita tetap memiliki kewajiban untuk mempelajarinya meskipun negara tidak mewajibkan. Karena pertanggungjawaban kita hayalah kepada Allah, bukan kepada manusia maupun pemerintah. 

Kewajiban mempelajari Bahasa Arab seharusnya menjadi kesadaran bagi kita sebagai ummat islam. Kesadaran yang berhenti pada kewajiban mempelejari Bahasa Arab saja, melainkan ikhtiar menuju mempelejarai syariat Islam melalui Al Quran. Tentu upaya ini adalah supaya kita mampu memahami Syariah dengan benar sehingga dapat menerapkannya dalam kehidupan secara benar. Jika kita mengikuti tuntunan Syariah dan melaksanakannya dengan benar, maka akan kita dapatkan ridlo Allah. Begitupula sebaliknya jika kita melaksanakan suatu amal perbuatan tanpa tuntunan Syariah maka akan menjadi amal yang tertolak sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh  Muslim disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” 

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim mari kita ikhtiarkan untuk mempelajari Bahasa Arab sebagaimana kita berikhtiar untuk mempelajari ilmu-ilmu lain karena Bahasa Arab adalah Bahasa yang paling Mulia, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: 

فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه

“Karena Al-Qur’an adalah kitab yang paling mulia, diturunkan dengan bahasa yang paling mulia, diajarkan pada Rasul yang paling mulia, disampaikan oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan di tempat yang paling mulia di muka bumi, diturunkan pula di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadhan. Dari berbagai sisi itu, kita bisa menilai bagaimanakah mulianya kitab suci Al-Qur’an.” Wallahu’alam.[]

Oleh: Tri Handayani

Posting Komentar

0 Komentar