TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Apa Jadinya Jika Ibu Dilanda Depresi Sosial



Penganiayaan ibu terhadap anak terjadi lagi di negara yang berfollower ini. Kali ini terjadi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Diperoleh kabar dari laman kalbar.inews.id (16/9) bahwa seorang ibu berinisial NT (47) warga Sungai Pinyuh ditangkap Tim Bravo Jatantras Satreskrim Polres Mempawah karena diduga telah menganiaya anak kandungnya yang berusia empat tahun hingga patah kaki dan mengalami memar di bagian kepala. Pelaku pun dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman 20 tahun penjara.

Kekerasan yang terjadi bisa disebabkan stres dan depresi sosial yang rentan dialami kaum ibu. Dari laman liputan6.com (10/2) menyebutkan bahwa pada 2013, TODAY melakukan survei online tentang tingkat stres ibu dan alasannya, ada 7.164 ibu yang berpartisipasi. Ternyata, rata-rata, pada skala 1-10, seorang ibu mengevaluasi tingkat stresnya 8,5 dan ada alasan di balik itu semua.

Masih dari sumber yang sama, bahwa alasannya adalah 5% para ibu mengatakan bahwa mereka merasakan penilaian dan tekanan untuk menjadi ibu yang sempurna dalam keluarga. Alasan lain termasuk kurangnya waktu untuk melakukan segala sesuatu yang diperlukan (60%), tetap bugar dan menarik (90%), dan stres yang disebabkan oleh pasangan mereka (46% melaporkan bahwa pasangan mereka penyebab lebih banyak stres daripada anak-anak mereka).

Tidak jarang ibu berlaku kasar pada anak sebagai pelampiasan kemarahannya. Tak terkecuali disaat pandemi covid-19 ini, hal tersebut kian meningkat. Dari laman suara.com (24/8) memberitakan bahwa Deputi Perlindungan Anak Kemen PPPA, Nahar menyampaikan bahwa berdasarkan laporan dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) yang dikumpulkan sejak 1 Januari hingga 31 Juli 2020, ada 4.116 kasus kekerasan pada anak di Indonesia. Beberapa kasus merupakan 979 korban kekerasan psikis dan 1.111 korban kekerasan fisik. Bahkan ia menyebut total angka kasus yang menimpa anak kian meningkat per 18 Agustus 2020 menjadi 4.833 kasus.

Demikianlah, kekerasan pada anak bagaikan gunung es, pasti yang belum terungkap masih banyak. Karena anak-anak paling sering menjadi objek kemarahan orang tua terutama para ibu, karena anak-anak termasuk kelompok yang lemah dan tidak berdaya ketika diperlakukan buruk oleh orang tuanya. Sementara ibu merupakan orang yang paling sering bersama mereka serta termasuk kelompok yang paling rentan mengalami stres hingga depresi.

Terkadang, suami yang kurang peka juga menambah stres istri. Seperti Ayah yang fokus pada pekerjaan, sementara tanggung jawab mengurus anak dan rumah diserahkan semua kepada ibu. Apalagi jika suami kerja seharian, pulang hanya membawa sedikit uang atau tidak membawa sepeserpun. Selain itu, kewajiban seorang ibu juga tidak sebatas pada anak, namun kewajiban melayani suami turut menambah tekanan psikis pada ibu.

Hubungan rumah tangga yang seharusnya dibangun dengan landasan persahabatan kerap seperti hubungan antara atasan dan bawahan. Ada juga yang seperti antara blok barat dan blok timur, tak pernah akur. Terkadang siapa yang mencari uang, dia yang merasa berkuasa, tidak menutup kemungkinan itu adalah istri karena merasa yang mencari uang atau penghasilannya lebih besar dari suami. Tekanan pekerjaan yang dialami ibu yang bekerja juga menambah beban pikiran, padahal ibu perlu teman berkeluh kesah di rumah. Namun, sepasang suami istri hanya saling memunggungi di malam hari dan saling sibuk sendiri di siang hari.

Kehidupan hedonis yang memaksakan diri pada sesuatu yang tidak mampu dijangkau, juga menjadi gaya hidup keluarga dalam sistem kapitalisme. Sistem ini memunculkan kehidupan yang serba materialistis juga turut mewarnai keluarga yang sudah berupaya hidup sederhana. Sistem tersebut juga menjauhkan para keluarga dari aturan agama. Wajar jika kaum ibu semakin tersekulerkan, sehingga tidak mampu menyelesaikan persoalan hidup dengan pikiran jernih dan depresi sosial pun merambat cepat di tengah masyarakat.

Di masa lalu, keluarga muslim menjadi madrasah pertama bagi putra-putrinya, membentuk generasi tangguh dan berkepribadian Islam. Sosok Abdullah bin Zubair misalnya yang terkenal sebagai ksatria pemberani tidak lepas dari didikan orangtuanya Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu bakar. Abdullah bin zubair diajak berperang oleh ayahnya saat usianya masih 8 tahun. Dia di bonceng dibelakang ayahnya diatas kuda yang sama.

Begitulah peran orang tua terhadap peradaban dan generasi. Maka, sepatutnya kita bercermin sejenak pada Negara Khilafah, dimana Islam menjadi aturan baku bagi Negara selama 1400 tahun lamanya. Kehidupan masyarakat bersih dari berbagai tayangan, tontonan atau acara yang bisa menyibukan masyarakat dalam kebathilan. Masyarakat didorong untuk menyibukan diri dalam ketaatan.

Setiap keluarga memiliki visi misi yang jelas. Sehinga, sebagai ibu paham bahwa dirinya memiliki peran strategis terhadap generasi penerus peradaban dunia. Sementara, ayah merupakan qowwam (pemimpin) yang bertanggung jawab penuh terhadap anggota keluarganya dan siap mengarahkan nahkodanya menuju puncak peradaban. Di sisi lain, anak adalah aset untuk peradaban gemilang. Oleh sebab itu, Islam memberikan perhatian besar pada mereka. Semua ini memang membutuhkan Negara dengan sistemnya yang luar biasa berasal dari Allah SWT pencipta (Al-Khaliq) seluruh makhluk. Wallahua'lam.[]


Oleh: Sri Wahyu Indawati, M.Pd (Inspirator Smart Parents, Founder Smart Islamic Parenting Indonesia)

Posting Komentar

0 Komentar