TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Antara Pujian dan Amanah


Dipuji tidak terbang, dihina tidak tumbang. Setelah Sumbar mendapatkan pujian dari Presiden atas keberhasilannya menekan kasus covid 19 ternyata berbuah pahit. Bagaimana tidak, saat ini angka kematian pasien Covid-19 di Sumatera Barat meningkat signifikan beberapa pekan terakhir seiring peningkatan kasus. Tingginya angka kematian ini menjadi alarm kewaspadaan bagi seluruh kalangan dalam upaya mengendalikan penularan Covid-19. (Kompas. com, 17/09/2020)

Peningkatan angka kematian di Sumbar sepekan terakhir bahkan menjadi yang tertinggi di Indonesia. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Nasional Wiku Adisasmito, Selasa (15/9/2020), mengatakan itu dalam konferensi pers yang disiarkan melalui akun YouTube Sekretariat Presiden.

Hal tersebut disebabkan oleh faktor terlambatnya pasien dibawa ke rumah sakit. Kebanyakan pasien dibawa ke rumah sakit dalam kondisi berat karena sebelumnya gejala yang diderita dianggap sebagai penyakit biasa. Akhirnya, karena terlambat diketahui positif Covid-19, pasien pun terlambat ditangani.

Secara terpisah, epidemiolog Universitas Andalas Defriman Djafri mengatakan, peningkatan angka kematian pasien positif Covid-19 di Sumbar beberapa pekan terakhir menjadi alarm bagi pemerintah. Kondisi ini mesti menjadi konsentrasi pemerintah untuk mengendalikan penularan Covid-19 secara baik.

Menurut Defriman, penyebab pasti tingginya angka kematian memang perlu diurai berdasarkan data yang lebih detail. Namun, secara garis besar, tingginya angka kematian dapat disebabkan beberapa faktor.

Faktor itu antara lain semakin banyaknya kasus positif Covid-19, virusnya semakin ganas, terlambatnya penanganan baik karena terlambat ditemukan maupun keterlambatan di laboratorium karena penumpukan sampel, dan penanganan tidak optimal karena fasilitas kesehatan kelebihan beban.

Defriman sejak sebulan lalu sudah mengingatkan, laju kematian pasien positif Covid-19 di Sumbar sangat cepat sejak terjadinya lonjakan kasus pada akhir Juli 2020. Pengendalian penularan Covid-19 dengan mendisiplinkan masyarakat menerapkan protokol kesehatan tidak cukup dengan penegakan perda.Pemerintah mesti melakukan pembatasan kegiatan masyarakat, misalnya dengan menerapkan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sumbar Pom Harry Satria mengatakan, tingginya angka kematian pasien Covid-19 di Sumbar memang turut dipengaruhi jumlah kasus yang meningkat. 
Upaya menyamakan persepsi masyarakat terhadap bahaya Covid-19 perlu dilakukan agar terbangun kesedaran untuk menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, kata Pom, panutan dari para pejabat daerah dalam penerapan protokol kesehatan dan pembatasan kegiatan keramaian, termasuk dalam kegiatan pilkada, juga dibutuhkan agar masyarakat juga tergerak untuk berpartisipasi mencegah penularan Covid-19.

Pemerintah daerah musti berkaca diri, ternyata banyak hal yang musti dibenahi. Lonjakan kasus covid-19 di Sumbar tak terelakkan lagi. Apalagi setelah adanya himbaun dari Gubernur Sumbar bagi para perantau untuk kembali ke kampung halaman pada hari raya Idul Fitri kemaren. Para perantau pun berhamburan datang tanpa melalui test covid-19.

Para perantau juga  diajak untuk berwisata menikmati kampung halaman dengan diskon hotel dan tempat-tempat rekreasi. Hal ini seolah menepis, pandemi covid-19 bukanlah hal yang menakutkan. Sehingga tak heran kunjungan di daerah Sumbar melonjak, sama seperti halnya hari-hari liburan.

Untuk kedepannya ada hal lebih berat bagi Sumbar adalah untuk menghadapi pilkada serentak. Mulai dari pendaftaran di KPU kemaren, calon kepala daerah pun mulai gencar melakukan kampanye dan mengumpulkan konstituen sebagai bukti banyaknya dukungan terhadap mereka. Apakah ada jaminan dalam proses Pilkada kedepan akan tetap menjalankan protokol kesehatan?

Serta dengan banyaknya  kepala daerah yang saat ini menjabat mencalonkan diri kembali. Ini adalah juga ujian berat bagi mereka, masyarakat sudah mampu menilai langkah-langkah apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Apakah murni untuk menyelamatkan nyawa masyarakat (kemanusiaan) atau hanya bersifat politis dan pencitraan belaka.

Jabatan Bukan Beban Tapi Amanah

Satu hal yang musti disadari oleh pemimpin negeri ini, tak perlulah berkeluh kesah. Jabatan yang mereka pangku adalah sesuatu yang mereka kejar dulunya, apapun motifnya. Saat ini setiap kebijakan dan langkah-langlah yang mereka ambil taruhannya adalah nyawa dan keselamatan rakyat.

Penilaian atau pujian itu adalah bonus bukan satu-satunya tujuan. Dimana pun posisi kita baik sebagai rakyat atau pemimpin apapun yang dilakukan hanyalah untuk mengharapkan  keridho-an dari Maha Kuasa. Jadi, kuncinya adalah niat dan caranya sesuai dengan syariat. 

Saat ini masyarakat Sumbar  bersyukur memiliki tenaga kesehatan dan para ahli  yang begitu gencarnya melakukan tracking dan mediagnosa tes sample yang menumpuk tiap hari. Perlu ditekankan bahwa  penanganan covid-19 bersifat parsial. Kita tidak bisa bergantung kepada tenaga medis tapi peran utamanya adalah pemerintah pusat juga daerah.

Yang namanya pemimpin amanah yang mereka emban tidak selesai begitu saja. Karena apapun yang mereka lakukan pertanggungjawabannya tidak selesai pada satu atau dua kali periode jabatan, tapi sampai akherat nanti.

Tentunya ganjarannya sangat besar bagi yang mampu amanah, namun bagi mereka yang lalai ancamannya juga sangat keras.

''Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.''(QS Asysyura [42]: 42).''Barang siapa yang menipu kami, bukanlah dia dari golongan kami.'' (HR Muslim).

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah saw bersabda:

 “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi) 

Wallahu’alam bis’shawab.[]

Posting Komentar

0 Komentar