TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Antara JKDN dan Drama Korea


DetikNews, 20/09/2020 mewartakan komentar Wakil Presiden Ma'ruf Amin dalam acara peringatan 100 tahun kedatangan Bangsa Korea di wilayah Indonesia sekarang. Ma'ruf Amin melihat hubungan sosial budaya antara Korea dan Indonesia sekarang ini memiliki daya tarik yang tinggi bagi generasi Korea. Menurutnya, budaya Korea yang didiseminasi di Indonesia melalui K-Pop (musik pop Korea) dan K-Drama (film drama Korea) memiliki potensi meningkatkan kreativitas generasi muda Indonesia dalam membawa budaya RI 'go international'. Intinya, beliau sangat mengapresiasi karya Film dan Drama tentang kehidupan bangsa Korea yang diharapkan dapat meng-"inspiring" kreativitas generasi muda Indonesia. Pertanyaan saya: Lalu, bagaimana dengan jejak Islam di Indonesia? Tidak meng-"inspiring" generasi muda ke masa depankah? Indonesia mau dijadikan apakah? Seperti Koreakah?

Aneh bangsa ini, Film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) yang jelas menyajikan data sejarah yang berkorelasi dengan perkembangan nasionalisme hingga kemerdekaan Indonesia dipersoalkan, sedang Film dan Drama Jejak Korea di Indonesia (100 tahun) yang tidak banyak pengaruhnya dalam pembentukan  nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia diagung-agungkan. Coba kita berpikir, mana jejak yang lebih sesuai dengan sejarah dan masa depan Indonesia?

Ingatlah kata Moshe Dayan ahli strategi militer Israel bermata satu. Kelemahan Islam itu tiga hal, yaitu: Pertama, tidak peduli sejarahnya; kedua, spontanitas dan tidak terperinci gerakannya; dan ketiga, literasinya rendah, males baca. Kalau baca tidak mengerti. Kalau mengerti tidak paham dan kalaupun paham, mereka tidak berbuat.

Bangsa ini mayoritas berpenduduk muslim. Hampir mendekati 90%. Namun, aneh sekali ketika penduduk terbesar menginginkan agar hukumnya dijadikan dasar berhukum di negerinya, spontan banyak pihak bahkan dari kalangan muslim sendiri buru-buru menolaknya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Boleh jadi memang mereka belum paham. Banyak orang yang menyatakan bahwa Indonesia itu pluralitasnya tinggi dalam SARA, mana mungkin bisa diterapkan hukum Islam? 

Apakah kita tidak pernah belajar sejarah dimana ketika hukum Islam yang notabene bersumber dari hukum Alloh tidak ada penduduk non muslim yang dianiaya. Semua dilindungi bahkan ketika daulah Islam pertama kali ditegakkan di Madinah, sebagian besar penduduk Madinah itu belum masuk Islam (non muslim). Maka lahirlah Piagam Madinah Tahun 622 Masehi  yang dikenal sebagai konstitusi pertama kali di dunia yang berisi kesepakatan antara Rasulullah dengan penduduk Non Muslim. Sebaliknya, anda mungkin juga sudah membaca bagaimana nasib penduduk muslim ketika Spanyol (Andalusia) dikuasai oleh kelompok non muslim. Penduduk muslim dipaksa untuk memeluk agamanya dan kalau tidak mau maka mereka dibunuh. Mana yang lebih humanis? Jadi, jika kita melek sejarah, maka kita akan memahami, hukum mana yang lebih baik dan hukum serta jejak mana yang seharusnya ditahbiskan di bumi Indonesia ini.

Jejak khilafah dan jejak bangsa Korea memang ada di Indonesia, namun hendaknya kita arif dan bijaksana dalam mendukung serta memanfaatkan jejak itu untuk perkembangan negeri ini menjadi lebih baik. Jika mengagungkan jejak Korea kenapa harus mengaburkan dan menguburkan jejak khilafah? Jika mendukung film dan drama Korea kenapa harus menge-banned film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN). Why?
Tabik...!!! []

Oleh: Prof. Dr. Suteki S. H. M. Hum, Pakar Filsafat Pancasila dan Hukum-Masyarakat

Posting Komentar

0 Komentar