TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Antara Good Looking, Good Behavior dan Good Nation

Menag bergaduh lagi. Orang good looking dibilang berpotensi jadi agen radikalisme. Lengkapnya, beliau mengatakan bahwa radikalisme di kalangan ASN masuk melalui masjid. Agen-agennya biasanya bertampang good looking, fasih berbahasa Arab, juga bisa jadi hafidz Qur’an. Ciri ini yang katanya menjadi modal agar mendapat kepercayaan para ASN yang waktu luangnya biasa diisi di masjid. Konon setelah dapat kepercayaan, agen good looking ini mulai beraksi mempengaruhi ASN tersebut dengan paham-paham radikal. Begitu kurang lebih kata Menteri Agama Repbulik Indonesia di awal Septermber 2020 ini.

Pernyataan ini sontak membuat mayoritas umat Islam geram. Wajar saja, secara tidak langsung menag memberi stigma negatif pada seorang muslim yang pandai berbahasa Arab dan menghafalkan Al-Qur’an. Padahal ibadahnya kaum muslim yang utama dilakukan dengan bahasa Arab, butuh untuk mengerti maknanya agar optimal. Kitab suci umat Islam juga berbahasa Arab, dijaga dengan dihafalkan, dipahami maknanya untuk diterapkan. Kalau yang begini dibilang radikal, generasi muslim mana yang tidak takut dicap radikal kalau belajar Islam nanti?

Kemenag memang aktif memerangi radikalisme di negeri dengan muslim terbanyak di dunia ini. Sejak tahun 2019 menag fokus menyoroti para ASN yang menurutnya radikal. Kemudian di tengah pandemi tahun 2020 ini kementrian yang dipimpinnya berhasil meluncurkan aplikasi anti radikal bagi ASN. Bahasan khilafah yang merupakan syariat dan bagian dari khasanah fiqih Islam di-downgrade menjadi sekedar sejarah. Topik jihad yang juga bagian dari syariat dihilangkan dari kurikulum sekolah. Kemudian yang terbaru, dicanangkan pula sertifikasi penceramah. Meski katanya tidak mandatory, namun masyarakat khawatir ke depannya malah seseorang yang paham ilmu agama malah tidak boleh ceramah atau jadi tidak punya kesempatan unuk berdakwah melalui ceramah jika tak bersertifikat. Jadi nampaknya banyak ‘prestasi’ kemenag dalam memerangi radikalisme di negeri ini. Sama dengan kemenag di periode sebelumnya.

Namun sangat disayangkan, prestasi kemenag di masalah radikalisme tidak diimbangi dengan keberhasilan di masalah lain yang lebih krusial dan dampak kerusakannya merajalela di negeri ini. Untuk ukuran institusi urusan agama di negeri yang menjunjung tinggi agama dalam kehidupannya, kemenag gagal menjadikan agama di bumi pertiwi menjadi pengiring dan pencetak generasi bangsa yang punya good behavior apalagi good morality. Padahal agama adalah nasihat, petunjuk hidup, yang seharusnya membuat orang menjadi lebih baik. Tapi faktanya belum lama terdengar berita diadakannya gay sex party di Jakarta yang ternyata ada pesertanya yang sudah memiliki istri. Banyak orang saling bunuh hanya karena masalah sepele seperti ejekan atau game online, bahkan pelakunya ada yang masih SD. Predator seks di mana-mana, kini orang tua bukan hanya perlu was-was anak perempuannya jadi korban, tapi juga anak laki-laki tak luput dari ancaman penjahat kelamin. Koruptor merajalela dari level teri hingga kakap, bahkan bercokol di kementerian agama sendiri. Dan banyak kerusakan moral dan perilaku generasi bangsa yang jika dibahas bisa jadi melebihi panjangnya masa penjajahan Belanda di negeri ini.

Di manakah upaya kemenag untuk membantu menyelesaikan tumpukan masalah ini? Dana dengan jumlah tak tanggung-tanggung dikucurkan untuk berbagai program deradikalisasi. Padahal tidak jelas radikalnya yang mana, kerusakan-kerusakan apa yang disebabkannya, di sebelah mana letak urgennya. Tapi untuk peningkatan moralitas generasi, pencetakan penerus bangsa yang punya good behavior tidak diutamakan di tengah krisis moral negeri ini. Dana bos untuk pendidikan madrasah malah disunat untuk hal lain. Sudah tidak membantu mengurangi masalah negeri, malah bikin perpecahan dan kecurigaan di sana-sini, sampai membuat fobia yang menjauhkan generasi dari agamanya. Menjauhkan masyarakat dari penopang moralnya.

Padahal untuk membangun sebuah good nation, generasi yang menyokongnya harus punya good behavior. Jika tidak, maka bangsa tersebut akan dijalankan oleh generasi yang korup, yang melakukan semua hal sesuka hawa nafsunya sendiri. Nanti bukannya fokus bergerak menuju kemajuan peradaban negeri, malah sibuk menanggulangi biaya sosial dan dampak lainnya akibat ulah oknum yang tidak punya good behavior tadi. Inilah yang terjadi pada bangsa kita hari ini. Naasnya bangsa ini mayoritas adalah muslim yang pendahulunya sudah kasih contoh cara jadi umat terbaik.

Saudara kita di bawah kepemimpinan Islam dulu sukses menjadi warga dari sebuah good nation yang memiliki good behavior. Perubahan bangsa Arab yang dulunya paling bar-bar kemudian menjadi yang paling beradab di bumi saat dipimpin Rasulullah. Kemudian dilanjutkan oleh para khalifah yang menggantikan beliau dengan sistem pemerintahan Islam yang memimpin bukan hanya Arab tapi hingga dua per tiga dunia. Sistem pendidikan Islam bukan hanya mencetak banyak ilmuwan peletak dasar teknologi yang berguna untuk peradaban manusia, namun juga menjadikan mereka para ulama yang faqih fid diin. Ditopang dengan sistem ekonominya yang mengharamkan penguasaan individu atas sumber daya alam milik rakyat. Sehingga dapat dirasakan berkah yang Allah berikan pada negeri mereka. Islam yang penuh kebaikan seperti ini kok ya selalu dimonsterisasi. Alih-alih malah sibuk mengatasi berbagai masalah negeri. Kalau terus begini, mau dibawa ke mana masa depan bangsa ini?[]

Oleh: Monicha Octaviani

Posting Komentar

0 Komentar