TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Antara Good Looking dan Sertifikasi

Lagi, isu radikalisme kembali dihembuskan, namun kali ini yang menjadi kambing hitamnya adalah anak yang good looking alias anak yang berpenampilan menarik.  Pernyataan ini diungkapkan oleh Menteri Agama Fachrul Razi di sebuah acara webinar yang bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara’, yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB (2/9). 

Awalnya ia menjelaskan paham radikalisme ini harus diwaspadai saat dia pertama kali masuk dan dengan cara apa dia masuk. “Cara masuk mereka gampang, pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-lama orang situ simpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan,” ucapnya

Oleh karena itu, Fachrul mengatakan Kemenag membuat program penceramah bersertifikat mulai September ini. Mereka akan mencetak 8.200 penceramah dari semua agama. Kemenag bekerja sama dengan majelis keagamaan, ormas agama, BPPT, BPIP dan juga Lemhannas. Penceramah yang bersertifikat ini nantinya akan dibekali wawasan kebangsaan dan Pancasila.

Pernyataan ini tentunya menuai banyak kritikan. Mulai dari anak muda yang memang good looking, santriwan dan santriwati yang jagoan Bahasa Arab dan para hafiz Qur’an tentunya yang merasa dicurigai sebagai penebar paham radikal. Tuduhan ini dirasa tidak adil dan salah sasaran. Bahkan dalam rapat kerja Menag dengan anggota DPR telah disampaikan beberapa kritikan dari sejumlah pihak yang merasa tersinggung dengan pernyataan Menag tersebut.

Aduh, Mamak pun langsung sakit kepala dan mulai memasak air untuk menyeduh kopi biar strong ngadepin berita yang beginian. Entah mengapa kata-kata radikal ini menjadi momok yang mengerikan bagi pemerintah, sampai-sampai pemuda good looking dicurigai, ulama harus diberi label sertifikasi (macam sapi kurban aja dikasih label).

Seandainya saja Mushab bin Umair hidup di zaman wikwikland ini, sudah pasti beliau jadi tersangka utama penebar paham radikal. Karena Mushab bin Umair adalah salah satu sahabat Rasulullah yang ‘good looking’ ketampanannya membuat wanita jatuh bangun.  Seorang idola di kalangan kaum muda Quraisy. Paling menarik tampilannya, paling tampan wajahnya dan juga kaya raya. Bahkan digambarkan Mushab adalah penduduk Makkah yang paling wangi aroma tubuhnya.

Usianya masih muda saat memeluk Islam, tanpa ragu sedikit pun beliau rela disiksa dan diusir oleh keluarganya sendiri demi berjalan di jalan Allah. Mushab pula menjadi duta pertama kaum Muslim untuk berdakwah di Yastrib (Madinah) karena kepandaiannya, tutur katanya yang sopan dan tentunya Bahasa Arab-nya juga lancar. Meskipun saat itu Mushab masih muda, namun beliau terpilih di antara banyak sahabat senior untuk mengajarkan Islam kepada kaum Anshar.

Bukan perjuangan yang mudah bagi pemuda seusianya kala itu. Namun dengan pesonanya, keilmuaannya dan kepiawaiannya bertutur kata membuat kaum Anshar menerima Islam tanpa kekerasan. Sungguh luar biasa kisah pemuda ‘good looking’ ini bahkan beliau menyertai Rasulullah SAW di medan jihad dan syahid saat Perang Uhud. 

Sebut juga Sultan Muhammad Al-Fatih yang sejak usia 7tahun sudah hafal Al-Qur’an 30 juz, tidak pernah meninggalkan shalat malam semenjak usia baligh, fasih berbicara dalam 5 bahasa asing yang salah satunya Bahasa Arab dan tentu saja sebagai anak Sultan beliau pun good looking. Tapi bukan itu yang dikenal oleh masyarakat seantero dunia, beliau dikenal sebagai “Sang Penakluk” karena berhasil menaklukan Kota Konstantinopel di usianya yang baru menginjak 22 tahun. Beliaulah Panglima terbaik yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW 800 tahun sebelum Kota Konstantinopel ditaklukan.

Atau tahukah kalian Mu’adz bin Jabal yang kala itu berusia 18 tahun dan datang bersama rombongan dari Yastrib untuk berbaiat kepada Rasulullah? Beliau tidak pernah absen dari pertempuran yang diikuti oleh Rasulullah. Mu’adz pun menonjol karena kefakihannya tentang ajaran Islam, begitu tingginya kefakihan dan keilmuan Mu’adz, sampai-sampai Rasulullah mengatakan : “Umatku yang paling tahu tentang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal.”

Itulah beberapa contoh pemuda yang good looking, hafiz Qur’an dan tentunya mereka tak perlu sertifikasi ulama untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Karena dakwah itu wajib bagi setiap Muslim. Apakah pantas pemuda-pemuda yang saat ini mengikuti jejak langkah Mushab bin Umair ataupun menapaki langkah Muadz bin Jabal, atau mencontoh kegigihan Muhammad Al-Fatih dicap sebagai penebar paham radikal?

Macam judul sinetron saja, _Dunia Kebalik_, yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Yang menentang Islam dibilang pembela HAM yang berjalan dalam syariat Islam dianggap radikal. Bicara tentang khilafah dilaporkan, yang menikam dikatakan orang gila yang penting nasionalis. Yang bercadar didiskualifikasi, yang umbar aurat dianggap emansipasi. Yang good looking dicap radikal, yang pesta gay dianggap lumrah.

Entah sampai kapan ‘sinetron’ ini akan berlansung. Semoga saja para pemuda good looking ini tak patah arang dan tetap semangat menebar kebaikan, semangat berjuang mendakwahkan Islam. Meski tak masuk kualifikasi dan tak punya sertifikasi, karena bukan manusia yang berhak menentukan semua itu dan pastinya dakwah itu tak perlu sertifikasi.[]

Oleh: Dian Salindri, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Posting Komentar

0 Komentar