TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Antara Aku, KPOP dan Ayah



Lagi, seorang gadis remaja kewarganegaraan Turki nekat mengakhiri hidupnya sendiri. Belum diketahui apa motif dibalik perbuatannya tersebut, namun info yang beredar di jagad maya mengenai sebab kematian gadis itu muncul dugaan bahwa ia bunuh diri atas permintaan ayahnya. Hal ini diperkuat dengan curhatan gadis tesebut di media social twitter miliknya, dia seringkali menceritakan bagaimana perlakuan kasar sang ayah kepada dirinya. Bahkan dia menceritakan bahwa ayahnya sangat membenci dirinya karena mengidolakan bintang K-POP ternama.

Sungguh miris ketika mendengar kabar tersebut, seorang ayah yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anaknya justru menjadi sosok menakutkan yang menghantarkan sang anak kepada ajalnya. Seorang ayah yang sejatinya adalah sosok panutan dan tempat bekeluh kesah bagi sang anak, justru menjadi sosok yang tak ingin dilihat dan diajak bicara oleh anaknya sendiri.

Sebagaimana ibu, seorang ayahpun memiliki tanggung jawab yang sama tehadap anak-anaknya. Ayahlah yang menjadi pemimpin dalam keluarganya. Qudwah dan teladan yang melekat di dalamnya bermuara dari aqidah Islam, ditangannya jualah harapan kemuliaan Islam akan diteruskan pada generasinya.

Sosok ayah di era sekuleris meminggirkan perannya yang vital. Mencari nafkah dari sumber yang halal misalnya sangat sulit sekali, beban ekonomi yang kian hari kian berat meningkatkan emosi dan berujung depresi. Ini karena nilai-nilai sekuler mencampakkan agama dalam lingkup kehidupan. 

Peran optimal Ayah mengedukasi anak-anak dalam membentuk ketaqwaan dan keimanan seakan hanya kewajiban disatu sisi saja, tapi kurang optimal diperkokoh kembali dalam keluarga.

Dialah yang mengarahkan dan memastikan setiap anggota keluarganya senantiasa berada dijalan yang benar. Seorang ayahlah yang seharusnya mempersiapkan anak-anaknya agar menjadi bagian dari kebangkitan peradaban, bukan hanya sekedar generasi tanpa ilmu yang larut dalam aktivitas sia-sia. Tidak hanya sebagai pendidik, seorang ayah pun memiliki tanggung jawab untuk mencari nafkah yang halal dan baik untuk keluarganya.

Peran ini sulit jika menyerahkan pada pihak tertentu saja, lingkunganlah yang memperkuat perannya. Kebijakan dan keputusan harus mensuasanakan keimanan dan ketaqwaan ditengah-tengah umat. Sebab semua tugas seorang ayah ada dan saling berkaitan didalam sebuah sistem. Maka dari itu, diperlukan bantuan dan penjagaan dari negara agar dapat terwujud dengan optimal. Islam telah membuktikan melalui teladan Rasulullah Saw, seorang ayah mampu membentuk generasi hebat yang bertakwa dan berkepribadian islam. 

Mental baja pantang menyerah saat berlaga di medan juang, tentu generasi ini lahir dari sosok ayah yang beriman, tanpa bekal menjadi ayah yang kokoh dan kebal terhadap serangan budaya liberal maka generasi akan mengalami krisis kepemimpinan berkepanjangan. Sedikit darinya bisa diharapkan untuk mewujudkan kemuliaan Islam. Sudah saatnya memaksimalkan peran ayah dengan naungan Islam dalam bingkai Khilafah ala minhajinnubuwah. Wallahu a’lam.[]

Oleh : Annisa, S.Pi

Posting Komentar

0 Komentar