TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ancaman Sekularisasi, Moderasi di Balik RUU HIP




Generasi merupakan penentu maju atau mundurnya suatu bangsa. Bangsa yang besar ditopang oleh generasi yang berkualitas. Setiap bangsa tentunya mengharapkan generasi yang dimilikinya adalah generasi yang mempunyai keunggulan. 

Namun lihatlah realitas generasi hari ini sangat jauh dari yang diharapkan. Degradasi moral, semakin lunturnya keimanan, prestasi miring seperti tawuran, seks bebas, HIV/AIDS, penyimpangan seksual hingga gemar melakukan kebohongan demi sebuah konten aplikasi media social seakan menjadi rantai setan yang membelenggu kehidupan generasi dan sangat sulit untuk dipisahkan.

Survei yang dilakukan IDN Research Institute dan Alvara Research Center terhadap 1400 milennia menunjukkan mereka mulai permisif terhadapa kemaksiatan. Walaupun persentasenya kecil, hal itu perlu dikuatirkan. Hasil survei menunjukkan 2,4 persen (kurang lebih 33 orang) menganggap tidak ada persoalan dengan pergaulan bebas. Sebanyak 14,9 persen responden menganggap clubbing bukan masalah, 2,4 persen millennial mengatakan lokalisasi bukanlah persoalan dan 1,9 persen (kurang lebih 26 orang) yang mendukung LGBT.¹

Parahnya, institusi yang berperan membentuk karakter generasi justru turut terjebak dalam agenda sekularisasi. Pernyataan Menag Fachrul Razi bahwa generasi bangsa yang hebat tidak bisa dilepaskan dari proses pendidikan keluarga2. Bagaimana mungkin keluarga mampu diwujudkan sebagai tempat Pendidikan utama bagi generasi bangsa3 jika justru negara malah memperkarakan pembentukan generasi yang sesuai tuntunan Syariah Islam Kaffah ?
Bagaimanapun banyak kalangan menilai justru Kementrian Agama lekat dengan proyek deradikalisasi yang meminggirkan peran Islam sebagai Syariah kaffah. 

Komitmen Kemenag memajukan Pendidikan agama dan keagamaan tentu sebatas aspek ruhiyah semata. Persis seperti terminology sekular. ‘silahkan menjadi Muslim yang berakhlak baik, namun jangan sampai masuk ranah Islam ideologis.’ 

Buktinya, Kemenag telah merevisi mata pelajaran Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Al-Qu’ran dan Hadis, serta Bahasa Arab dalam 155 buku pelajaran agama Islam tahun ajaran baru 2020/2021 dengan menekankan khilafah tak lagi relevan di Indonesia. Padahal para sejarahwan Barat mengakui, masa kecemerlangan generasi sepanjang peradaban manusia hanya mampu direalisasikan pada masa kekhilafahan. 

Selain melakukan upaya penghapusan ajaran Islam berupa Jihad dan Khilafah dari ratusan buku pelajaran agama Islam untuk Madrasah. Kemenag melalui Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi juga mengemukakan bahwa Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) diharapkan akan menjadi trendsetter riset Islam "Sebagai lembaga pendidikan yang bertaraf internasional, UIII diharapakan menjadi trendsetter akademik, riset, serta budaya Islam baik, di tingkat regional maupun internasional,"UIII merupakan proyek strategis nasional untuk Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia yang memperjuangkan islam wasathiyah (moderat).5

Pengarusan konsep moderasi agama sangat massif dilakukan, mulai level negara sampai level kampus. Di kampus, konsep moderasi agama sudah dimasukkan dalam kurikulum perkuliahan di program studi Magister Hukum Keluarga Islam (HKI) di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.6 Dan Kampus UIN Raden Intan Lampung juga tak turut ketinggalan untuk menunjukkan dukungannya atas konsep moderasi kampus. Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof Dr Moh Mukri MAg bentuk Pusat Kajian Moderasi Beragama. 

Dengan adanya pusat kajian ini, Rektor berharap UIN sebagai pusat moderasi. “Saya ingin kampus ini menjadi pusat moderasi. Islam yang garis keras, tidak pernah menguasai panggung sejarah dan hanya dicatat menjadi perusak. Kita harus menjadi Islam yang moderat, Islam yang rahmatan lil ‘alamin.”

Dan inilah realitas institusi ‘pembawa arah masa depan’ generasi muda. Lembaga pendidikan Islam selayaknya kampus Islam justru dengan mudah bahkan bangga menjadi corong pemikiran liberal Barat. Pemikiran liberal seperti moderasi agama ini. Para intelektual di dorong untuk terjebak dengan istilah Islami dari konsep-konsep yang ditawarkan Barat. 

Mereka dibentuk memiliki sikap apolitis dan enggan memahami agama, bahkan dengan terang-terang membenci ajaran agama (baca: Khilafah dan Jihad) dan memusuhi siapa saja orang yang menyampaikan dakwah Islam kaffah di kalangan kampus. Dan mirisnya justru materialisme, hedonisme, dan sifat permisif begitu lekat dengan kehidupan mereka hari ini. Tak tampak lagi jati diri muslim selain sekadar nama dan pakaian. 

Pandangan Islam

Sangat jelas bahwa RUU HIP itu akan memperkuat sekularisme semakin radikal. Sekularisme dengan bentuk praktik demokrasi oligarki dan kapitalisme liberal juga bertentangan dengan ajaran Islam. 
Seorang Muslim yang baik tidak akan mengambil ideologi maupun paham di luar Islam karena hal itu tidak akan diterima sedikitpun di hadapan Allah SWT. “Siapa saja yang mencari agama selain agama Islam, sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali Imran [3]:85)

Seorang Muslim akan mencukupkan ketaatan dan ketundukkannya hanya pada Islam. Tak perlu mengambil agama atau isme-isme buatan manusia. Islam hadir dengan akidah dan syariahnya yang lengkap. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, baik terikat hubungan manusia kepada Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri maupun hubungan manusia dengan sesama manusia. 

Karena itu seorang Muslim yang baik pasti akan mengambil Islam secara keseluruhannya (Kaffah). Sungguh tidak pantas bagi seorang Mukmin ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan Syariah sebagai aturan, mereka mencampakkan Syariah dan mencari aturan lain atau isme yang lain. Oleh karena itu dalam Islam tak ada pandangan pemisahan agama dengan kehidupan. Islam harus diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam aspek politik dan kenegaraan. 

Lihatlah saat sekularisme (baca : Islam dipisahkan dari kehidupan) berada di tengah-tengah masyarakat. Lahirlah berbagai kerusakan; tatanan ekonomi yang kapitalistik-liberalistik, perilaku politik yang oportunistik-machiavelistik, budaya hedonistic, kehidupan social yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta sistem pendidikan yang materialistik. 

Hal ini adalah fakta terpampang dalam kehidupan di negeri ini yang telah berlangsung lama. Apakah kita ingin kondisi seperti ini terus berlangsung ? RUU HIP hanya akan membawa negeri ini semakin terjerembab dalam kubangan sekularisme sehingga kerusakan akan semakin parah. 

Tampaknya, PR umat Islam khususnya pengemban dakwah dalam peperangan ideologis ini cukup berat. Namun, sekali maju berperang, pantang menyerah. Hidup mulia atau mati syahid. Allahu Akbar, Wallahu’alam.[]


Oleh: Tri Wahyuningsih 
Pegiat Literasi dan Media

Catatan Kaki : 
1 https://www.idntimes.com/news/indonesia/rosa-folia/imr-2019-persepsi-millenial-soal-poligami-sampai-lgbt-ims2019-1/5
2     hhtps://www.jawapos.com/nasional/30/06/2020/pendidikan-di-rumah-menag-keluarga-keren-lahirkan-generasi-tangguh/
3     Ibidem 2

Posting Komentar

0 Komentar