TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Alumni Kampus Bergengsi jadi Tersangka Mutilasi, Potret Buram Pendidikan


Publik kembali dikejutkan dengan tindakan pembunuhan. Kali ini bukan pembunuhan biasa, tapi pembunuhan yang diiringi tindakan mutilasi. Ya, tersangka memotong tubuh korban menjadi 11 bagian. Bahkan salah satu tersangka merupakan lulusan Kampus ternama. Nah loh, kok bisa, mencoreng nama kampus dong? Ya iyalah.

Berawal penemuan potongan tubuh dalam koper jadi awal terkuaknya kasus ini. Potongan tubuh tersebut ditemukan di apartemen Kalibata City. Tersangka berinial DAF (26) dan LAS (27) merupakan sepasang kekasih yang telah lama tinggal bersama. Saat ini mereka sudah berhasil diamankan di Polda Metro Jaya. Kepada polisi tersangka mengaku membunuh korban karena desakan ekonomi. Sebab  kedua tersangka tidak mempunyai pekerjaan (www.tribunnews.com, 19/9).

Demi Harta Tega Habisi Nyawa

Tersangka bernama LAS, wanita berkulit putih dan berparas manarik. Hingga korban yang sudah beristri pun tertarik. LAS sudah kenal lama dengan korban. Perkenalan terjadi lewat media sosial, kencan pun dilakukan hingga berakhir perzinahan. Diketahui korban seorang HRD perusahaan di Ibukota. Wajar mempunyai kehidupan yang wah, LAS tergiur dengan harta korban, dan hendak memiliki harta tersebut.

Sebelum dibunuh LAS sempat membujuk korban untuk menyewa sebuah apartemen di ibukota. Disinilah peristiwa itu terjadi, usai kencan korban dianiaya oleh kekasih LAS hingga tewas. Setelah itu LAS dan kekasihnya menguras harta korban yang bernilai jutaan.

Yang membuat kita heran, LAS merupakan lulusan kampus ternama di ibukota. Kenapa bisa jadi pelaku pembunuhan. Dari informasi yang  didapat bahwa LAS sudah lama hilang kontak dengan keluarganya di Jawa. Padahal LAS sosok kebanggaan orang tua. Seorang siswa berprestasi, bisa masuk perguruan tinggi lewat jalur Bidikmisi.

Tak disangka, lama tak terdengar kabar pihak keluarga dikagetkan dengan penangkapan LAS. Orang tua mana yang tak remuk hatinya, mendapati anak kebanggaan bakal dihukum mati dipenjara. Salah apa orang tua hingga anak melupakan jasa mereka?

Potret Buram Dunia Pendidikan saat ini

LAS merupakan lulusan FMIPA kampus ternama. Saat kuliah sangat cerdas dan kritis, hingga LAS dinobatkan sebagai ketua salah satu organisasi dikampus. Pasca wisuda LAS sempat mengajar mahasiswa dan pernah bekerja di perusahaan juga. Hanya saja akibat pandemi LAS jadi pengangguran dan tak punya pemasukan.

Disisi lain LAS juga punya reputasi tak elok. Publik pernah dihebohkan dengan aksi LAS yang menjadi pelakor. Las juga tinggal bersama pacarnya tersebut tanpa ikatan pernikahan. Kita tentu heran, anak pintar kok jadi pelakor. Sebuah unprestasi lulusan kampus bergengsi.

LAS adalah potret buram dunia pendidikan saat ini. Dari kasus LAS kita bercermin bahwa kepintaran tak menjamin kita bermanfaat di dunia. Butuh ilmu agama sebagai pelengkap agar kepintaran tersebut menghasilkan daya guna.

Sayangnya, sistem pendidikan kapitalisme saat ini menjauhkan ilmu agama dalam kurikulumnya. Ilmu agama mendapat porsi sedikit dipelajari siswa. Kalaupun ada, itupun hanya sebatas transfer ilmu saja, minim pembinaan dan teladan terhadap siswa. Hingga wajar dihasilkan para lulusan berprestasi, tapi minim akhlak dan budi pekerti. 

Jika kita masih berpegang pada sistem pendidikan saat ini, maka beragam kasus serupa akan terus terjadi. Untuk itu perlu kiranya kita melirik pendidikan islam sebagai alternatif selamatkan negeri ini.

Berkaca dari pendidikan Islam

Pendidikan dalam islam menjadikan aqidah sebagai pondasi utama. Keimanan pada pencipta menjadi landasan tegaknya cabang ilmu diatasnya.

Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/PITEK), memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Pembentukan kepribadian Islam harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan yang sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Salah satu di antaranya adalah dengan menyampaikan pemikiran Islam kepada para siswa.

Pada tingkat TK-SD, materi kepribadian Islam yang diberikan adalah materi dasar karena mereka berada pada jenjang usia menuju balig. Artinya, mereka lebih banyak diberikan materi yang bersifat pengenalan keimanan. Barulah setelah mencapai usia balig yaitu SMP, SMU, dan PT, materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan).

Hal ini dimaksudkan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatannya dengan syariat islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadaran yang dimilikinya telah berhasil melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari segala tindak kemaksiatan kepada Allah Swt.

Dalam lintas sejarah Islam, pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur, majelis-majelis ilmu di selasar masjid yang membahas berbagai ilmu pengetahuan pun bertaburan.

Masjid saat itu menjadi pusat keilmuan dan kegiatan belajar mengajar. Bermunculan para ulama sekaligus ilmuwan yang terintegrasi ilmu eksak dan agama.

Sebutlah Imam Syafi’i. Tak hanya ahli ushul fikih, beliau juga fakih dalam ilmu astronomi. Ada pula Ibnu Khaldun, bapak pendiri historiografi, sosiologi, dan ekonomi. Beliau pun hafal Alquran sejak usia dini. Tak hanya ekonomi, beliau juga ahli dalam ilmu politik. Lalu ada Ibnu Sina, sang bapak kedokteran sekaligus ahli filsafat, Jabir Ibnu Hayyan ahli kimia, Ibnu al-Nafis bapak fisiologi peredaran darah, dan masih banyak lainnya.

Ilmuwan-ilmuwan itu tak hanya cakap dalam sains namun juga berperan sebagai ulama besar. Ilmu dunia dan akhirat berpadu demi kemaslahatan hidup manusia. Begitulah kecemerlangan Islam saat diterapkan.

Itulah potret pendidikan dalam islam yang mampu mengangkat harkat dan derajat manusia. Semua kecemerlangan itu tak akan dicapai dalam penerapan sistem pendidikan kapitalisme sekuler. Maka, jika ingin generasi kita unggul, menghasilkan banyak karya peradaban tentu saja harus mengadopsi sistem pendidikan islam ini.

Karena banyak fakta membuktikan bahwa sistem pendidikan saat ini kerapkali mencetak manusia-manusia yang minus rasa kemanusiaan dan hati nurani. Jadi masih pantaskah kita berharap pada sistem pendidikan saat ini?
Wallahu 'alam bisshowab.[]

Oleh: Yudia Falentina 
(Pemerhati Lingkungan dan Masyarakat)

Posting Komentar

0 Komentar