TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Aktivis Idealis Terpasung Pakta Integritas



Menjadi seorang mahasiswa adalah sebuah kebanggaan. Identitasnya bukan sekadar "embel-embel" sarjana. Tapi lebih jauh dari itu. Mahasiswa adalah status dimana darah kebenaran sangat panas. Mereka yang sadar peran dan fungsinya akan berusaha sekuat tenaga menegakkan kebenaran. 

Melihat peran dan fungsi mahasiswa sebagai agent of change, iron stock, social control, dan moral force, seharusnya memberikan semangat kepada mahasiswa karena perubahan besar berada dalam genggaman mereka.   Kalau Bung Karno saja menyampaikan "Berikan aku 10 pemuda, maka akan ku goncang dunia", maknanya darah muda itu punya kekuatan yang besar. 

Masih ingatkah kita dengan peristiwa reformasi? Tragedi semanggi? Kesadaran para mahasiswa tentang perubahan kepemimpinan telah mampu mengguncang istana negara. Turunnya Presiden Soeharto memberikan angin segar bagi pergerakan kepemudaan di Indonesia. 

Sayangnya, perubahan itu hanya sekadar tuntutan ganti pemimpin. Sehingga saat ini kita masih melihat kesalahan dan ketidakadilan dalam mengurusi urusan rakyat. Maka, gerakan-gerakan kepemudaan yang diinisiasi oleh para mahasiswa masih dirindukan. Karena mereka adalah harapan rakyat. 

Namun, bagaimana jadinya jika pergerakan mahasiswa terpasung dalam selembar kertas? Sebagaimana kabar yang terjadi di salah satu perguruan tinggi ternama di negeri ini. Sebuah kampus bonafit, salah satu kampus nomor wahid di lndonesia. Di tahun ajaran baru 2020 ini, mengeluarkan selembar kertas yang disebut pakta integritas. 

Pakta integritas ini diberikan kepada para mahasiswa baru. Mereka diwajibkan menerima, setuju dan menandatangani perjanjian tersebut. Meski di dalamnya terdapat kalimat bertuliskan "Menandatangi pakta ini tanpa paksaan", tetap saja mahasiswa wajib mengumpulkannya. 

Beberapa poin yang dianggap kurang dapat dimengerti ada di poin 10 dan 11. Poin 10 berbunyi, , “Tidak terlibat dalam politik praktis yang mengganggu tatanan akademik dan bernegara.”

Pasal 11 berbunyi, “Tidak melaksanakan dan/atau mengikuti kegiatan yang bersifat kaderisasi/orientasi studi/latihan/pertemuan yang dilakukan sekelompok mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan yang tidak mendapat izin resmi pimpinan fakultas dan/atau pimpinan UI.”

Kedua poin ini telah membuat gaduh para civitas akademika, aktivis hingga netizen. Berbagai macam spekulasi muncul. Merisaukan hati para mahasiswa yang memiliki gairah perubahan. 

Pertama, ketidakjelasan dalam penjelasan politik praktis yang seperti apa membuat mahasiswa kebingungan. Definisi politik praktis yang tidak diberikan membuat mahasiswa berasumsi sendiri-sendiri. 

Kedua, adanya larangan mengikuti kegiatan tanpa mendapatkan izin dari fakultas maupun kampus. Larangan ini pun tak jelas. Kegiatan seperti apa, siapa yang melaksanakan, hingga tempat pelaksanaannya dimana. 

Walaupun akhirnya oleh Direktur Kemahasiswaan UI, Devie Rahmawati memberikan ralat saat dihubungi pihak Kompas. Beliau menyatakan bahwa pakta integritas yang terlanjur ditandatangani mahasiswa baru merupakan kekeliruan PKKMB UI. 

Oleh karena itu Devie memberikan pakta integritas yang baru. Salah satu isi dari pakta baru itu adalah poin 1 yaitu mahasiswa UI berjanji tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Pancasila. 

Kemudian, “Tidak melakukan/terlibat dalam tindak pidana khususnya penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual, kekerasan seksual, intoleransi, radikalisme, dan terorisme dalam bentuk apa pun” pada poin 8.

Setelah muncul pakta terbaru ini, akhirnya jelas sudah apa yang diinginkan pihak kampus. Dengan adanya pakta ini, kampus lebih dahulu membuat benteng pergerakan mahasiswa. Mereka hanya membolehkan gerakan mahasiswa yang sesuai dengan pandangan pimpinan. 

Dalam poin tersebut tertulis larangan mahasiswa mengikuti kegiatan yang berbau radikalisme dan terorisme. Pertanyaannya standar apa yang dipakai untuk mengetahui kegiatan tersebut termasuk radikalisme atau terorisme? 

Jika standar yang dipakai sesuai opini yang digaungkan pembuat kebijakan saat ini, jelaslah gerakan-gerakan Islam menjadi sasarannya. Perkumpulan mahasiswa yang bergerak atas dorongan iman, dan senantiasa beramar ma'ruf nahi munkar akan menjadi sasaran gaung radikalisme atau terorisme. 

Padahal, pergerakan mahasiswa seperti ini didasarkan pada panggilan iman. Acuan mereka adalah Alquran dan Sunnah. Salahkah bila hal seperti itu dilakukan oleh para mahasiswa? Atau apakah hal itu akan menghalangi prestasi mahasiswa di bidang akademik?  

Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang dengan kedua-duanya, yaitu kitab Allah (Alquran) dan Sunah ku.” (HR Al-Hakim)

Dalam firman Allah QS. Ali Imran 104 tertulis, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Hadis dan ayat di atas menunjukkan sebuah kewajiban bagi kaum muslim untuk menjadikan Alquran dan Sunah sebagai penuntun hidup. Termasuk senantiasa ber-amar ma'ruf nahi munkar dimanapun berada, dan dalam usia berapapun. 

Oleh karena itu, tidak ada yang salah jika para mahasiswa itu berkumpul, melakukan kegiatan, menyampaikan pendapat dengan landasan iman. Apalagi mengkaji Islam. Baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Asalkan  kegiatannya tidak bertentangan dengan hukum syara'. Wallahu'alambishowab.[]

Oleh : Asy Syifa Ummu Sidiq 
(Mantan Aktivis Kampus) 

Posting Komentar

0 Komentar