TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Akibat Buruknya Penanganan Pandemi, Indonesia Di-Lockdown 59 Negara



Akibat tingginya angka Pandemi, Terdapat 59 Negara yang melarang Warga Negara Indonesia (WNI) masuk ke Negaranya. Terkait dengan hal ini, Pemerintah Indonesia mencoba melobi Negara-Negara ini untuk melonggarkan aturannya, sehingga WNI bisa masuk kembali. Namun, banyak Negara tetap menolak atau tak memberikan kepastian. Bukan hanya karena tingginya jumlah kasus Corona di Tanah Air, sebagian negara juga mempertimbangkan kemampuan pemerintah Indonesia mengatasi wabah. (waspada.co.id, 09/09/2020)

Hingga Jumat (11/09/2020), total kasus virus corona di Indonesia mencapai 207.203 kasus, dengan kasus positif yang meningkat 3.737 menjadi 210.940, pasien sembuh meningkat 2.707 menjadi 150.217, dan pasien meninggal meningkat 88 menjadi 8.544. yang sebelumnya pada Kamis (10/09/2020), jumlah kasus positif virus corona tercatat 207.203 kasus, sembuh 147.510, dan meninggal 8.456 kasus.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengakui adanya komunikasi dengan negara lain untuk melonggarkan larangan masuk bagi WNI. Ia menambahkan pelonggaran itu tidak dibuka bagi warga Indonesia secara umum, melainkan untuk kunjungan bisnis dalam proyek strategis nasional dan perjalanan dinas pemerintah yang mendesak. Ia menuturkan “Intinya agar ekonomi bisa berjalan tanpa mengorbankan isu kesehatan”.

Pandemi covid-19 telah memukul berbagai sektor terutama sektor ekonomi. Sinyal resesi ekonomi semakin jelas bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab, laju perekonomian diperkirakan kembali negatif pada kuartal III, setelah terkontraksi 5,32 persen pada kuartal II 2020. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahkan memperkirakan ekonomi nasional berada di kisaran 0 persen sampai minus 2 persen pada kuartal III 2020. Ekonom INDEF Eko Listyanto mengatakan dampak resesi sebenarnya sudah terjadi saat ini. Mulai dari kinerja pasar modal yang tidak setinggi kondisi sebelum pandemi virus corona atau covid, dunia usaha merugi, tingkat pengangguran meningkat, hingga jumlah orang miskin bertambah. (cnnindonesia.com, 09/09/2020)

Karena alasan ekonomi Pemerintah tidak berani mengambil kebijakan Lockdown. Bahkan Pemerintah cenderung lebih mengedepankan kepentingan para pemilik modal atas nama ekonomi dibandingkan dengan kesehatan. Meski tengah mengalami pandemi, Pemerintah tetap ngotot untuk membangun Ibu Kota baru, membuka Pariwisata, menyetujui pengembangkan wisata medis di dalam negeri bahkan Pemerintah telah melonggarkan kebijakan PSBB dengan meminta masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru “New Normal Life”.

Islam sesungguhnya telah memberi solusi yang benar dalam berbagai persoalan manusia. Sebagai diin yang sempurna, berasal dari dzat yang Maha sempurna pasti ada penyelesaian terbaik dalam Islam. Sebagaimana firman Allah, 

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ 

“Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (TQS An-Nahl [16]:89). Bahkan penyelesaian Islam bukanlah penyelesaian yang asal-asalan, tapi sesuai fakta, tuntas, pendekatan manusiawi sesuai dengan fitrahnya. Ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala, 

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila Dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (TQS Al Anfaal [8]:24)

Desain kesehatan yang digali dari Islam meniscayakan dalam penyelesaian Islam terwujudnya dua tujuan pokok penanggulangan pandemi dalam waktu singkat.

Pertama, menjamin terpeliharanya kehidupan normal di luar areal terjangkiti wabah. Kedua, memutus rantai penularan secara efektif, yang tercepat sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan keadaan yang mengantarkan pada kematian. Karena Islam memandang secara sahih bahwa keselamatan nyawa manusia lebih utama daripada apapun juga termasuk ekonomi, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak” (HR At Tirmidzi).

Kedua tujuan pokok ini tercermin pada dua prinsip strategi efektif dalam memutuskan rantai penularan wabah. Prinsip Pertama, penguncian areal wabah (lockdown syar’i). Rasulullah Saw bersabda, “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Muslim). Ini menandakan bahwa tidak boleh seorang pun yang berada di areal terjangkit wabah keluar darinya. Juga tidak seorang pun yang berada di luar areal wabah memasukinya. 

Prinsip ini sangat efektif untuk memutus rantai wabah apalagi terhadap wabah yang belum diketahui dengan baik karakteristik virus dan manivestasi klinisnya, baik dari orang yang terinfeksi dengan gejala maupun tanpa gejala. Dengan prinsip ini, wilayah yang tidak terkena virus akan tercegah dari kasus impor (imported case) sehingga dapat melakukan aktivitas seperti biasa.

Prinsip kedua 3T (Trace, test, and treat/ lacak, uji dan obati). Setiap penyakit dapat disembuhkan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw dengan lisannya yang mulia, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.” Maka tugas negaralah untuk menemukan obat sesegera mungkin dengan mengembangkan teknologi kedokteran dan medis mutakhir yang berkhidmat pada kemanusiaan. 

Rasulullah Saw juga menegaskan, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari); “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR Abu Hurairah).

Kedua hadis ini dapat diimplementasikan antara lain dengan massive testing yang cepat dengan hasil yang akurat kepada setiap orang yang berada di areal wabah. Sebab, mereka semua berpotensi terinfeksi dan berisiko sebagai penular. Selanjutnya, yang positif terinfeksi segera diisolasi dan diobati hingga benar-benar sembuh.

Lockdown yang dilakukan oleh 59 negara terhadap Indonesia menunjukkan buruknya kebijakan yang dikeluarkan dalam penanganan wabah. Padahal Indonesia adalah Negara dengan jumlah muslim terbesar dunia, namun sayangnya sikapnya tidak mencerminkan demikian. Sudah saatnya kita melirik dan mengambil kebijakan dari Islam. Kebijakan Islam pasti benar karena ia berasal dari Dzat yang Maha Benar.[]


Oleh: Novida Sari (Ketua Forum Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal)


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Memang negara ini salah urus. Saat mengedepankan ekonomi justru malah menganjlokkan ekonomi

    BalasHapus