TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Akar Masalah dan Solusi Praktik Aborsi



Sepertinya negeri ini tidak pernah  luput dari masalah, walaupun  dilanda wabah. Bagaimana tidak, tersiar kabar, polisi menyebut klinik aborsi di Jalan Percetakan Negara III, Jakarta Pusat (Jakpus) telah mengugurkan 32 ribu lebih janin. Polisi mengatakan keuntungan yang diraup klinik aborsi ini mencapai Rp 10 miliar.

"Dihitung dari 2017, ada 32 ribu lebih janin, 32.760 janin yang sudah digugurkan. Ini yang sudah kita hitung, masih kita dalami lagi," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya. Kombes Yusri Yunus saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (23/9/2020).

Klinik ini melayani praktik aborsi ilegal dari Senin sampai Sabtu. Yusri menambahkan klinik yang beroperasi dari pukul 07.00 WIB sampai 13.00 WIB itu meraup untung sekitar Rp 10 juta per harinya. (Detik. com, 23/9/2020)

Praktek aborsi ini dilakukan secara terang-terangan walaupun tanpa izin. Mereka juga membuat patokan tarif sekitar Rp 2 juta untuk mengaborsi janin berusia di bawah 5 minggu dan Rp 4 juta untuk janin yang telah berumur di atas 5 Minggu.  Rata-rata mereka melayani 5-6 pasien tiap harinya.

Jangan tanya,  berapa keuntungan yang mereka peroleh.  Tapi bagaimana pratik ilegal ini bisa bertahan. Apakah hukum  dinegeri ini tidak mampu mebuat  jera para pelaku yang melayani praktik tersebut?

Kita ketahui , sanksi  atas pelaku  praktik aborsi ilegal dijerat Pasal 346 KUHP dan atau Pasal 438 ayat 1 KUHP, dan atau Pasal 194 jo Pasal 75 UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar.

Mustinya negara sudah mengambil peran dan mewanti-wanti  dengan hukum yang ada mampu mencegah hal ini terjadi. Nyatanya,  praktik  aborsi ini  kian marak dikarenakan,  sekularime telah mengakar  di tiap sendi  negeri ini. Ajaran agama diabaikan,   malah mengadopsi hukum  kolonial.  

Hukum yang membebaskan setiap orang untuk berbuat apa saja, termasuk melakukan seks bebas yang berujung pada aborsi.  Alhasil, makin menjamurnya penyakit masyarakat  seperti  perselingkuhan, seks bebas, dan aborsi itu sendiri.

Juga, kehidupan masyarakat yang  individualistik dan materialistik diperparah  oleh kampanye pornografi dan pornoaksi melalui media  televisi, surat kabar, majalah, maupun  akses internet.

Di sisi lain, pemerintah absen dalam membina ketakwaan masyarakat dan terkesan membiarkan menjamurnya lokasi prostitusi dan bahkan ingin dilegalkan dengan nama lokalisasi prostitusi yang berujung banyaknya aborsi. 

Lanjut, sanksi hukum terhadap pelaku aborsi  jarang memberi efek jera dan tidak mampu memproteksi  masyarakat. 
Jika saja solusi Islam diterapkan maka  praktek ini akan tercabut hingga keakar-akarnya. Dengan membuang sekularisme dan kapitalisme, diganti  dengan sistem  Islam yang berideologi Islam.

Pada tataran praktis, negara wajib untuk menutup setiap pintu kemaksiatan dengan melarang seks bebas termasuk pacaran, menutup total lokalisasi, melarang media yang memuat konten pornografi dan pornoaksi. Maka permasalahan aborsi akan tuntas.

Lalu, pada  tataran ideologi, aborsi dan segala pemicunya  dapat diberhentikan dengan cara menerapkan  Islam di dalam institusi negara secara kaffah untuk  mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ … (٢٤)[

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (QS. Al-Anfâl [8]: 24)

Wallâhu Alam Bis-Showab.[]

Oleh: Zenia Rumaisya
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Posting Komentar

0 Komentar