TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Akankah Mencetak Generasi Amnesia Sejarah?

Lagi-lagi masyarakat dibuat kaget oleh kebijakan pemerintah. Kali ini pemerintah melalui Kemendikbud menyampaikan wacana penghapusan mata pelajaran sejarah. Tentu saja hal ini menuai reaksi cepat dari publik. Ragam pendapat masyarakat kita temui terkait dengan pentingnya mata pelajaran sejarah di sekolah tingkat SMA sederajat. Ada sebagian orang yang mungkin acuh terhadap pelajaran sejarah, ada juga yang menganggapnya sekedar kebutuhan informasi masa lalu. Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa pelajaran sejarah adalah sangat penting dan wajib diajarkan di semua jenjang sekolah.

Tentu keragaman pendapat diatas ada alasannya masing-masing. Ada yang beranggapan bahwa pelajaran sejarah hanyalah cerita masa lalu yang tidak akan terulang di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang. Jadi keberadaannya tidak berpengaruh dalam kehidupannya sekarang, maka ada atau tidak adanya pelajaran sekolah tidak menjadi masalah. Sementara ada pendapat lain, yang mana keberadaan pelajaran sejarah dianggap sebagai pengetahuan atau informasi  dan sekedar menunjukkan sebuah perjalanan suatu bangsa belaka. Di sisi lain ada yang perpendapat bahwa keberadaan pelajaran sejarah adalah sangat penting dan wajib untuk dipahami oleh setiap generasi. Dengan alasan bahwa sejarah mempunyai arti penting bagi kemajuan sebuah bangsa.

Dengan munculnya polemik yang merespon wacana pelajaran sejarah tidak masuk kurikulum wajib bagi siswa SMA dan sederajat, melainkan digabung dengan pelajaran IPS. Maka kepala Badan Penelitihan dan Pengembangan dan Pembukuan Kemendikbud Totok Suprayitno menegaskan bahwa kabar pelajaran sejarah akan keluar dari kurikulum tidak benar. “Kemendikbud mengutamakan sejarah sebagai bagian penting dari keragaman dan kemajemukan serta perjalanan hidup bangsa Indonesia, pada saat ini dan yang akan datang,” kata Totok dalam keterangan resmi yang diterima CNN Indonesia pada Sabtu (19/9). Sementara itu, ia juga mengatakan bahwa Kemendikbud terus mengkaji rencana penyederhanaan kurikulum pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional (cnnindonesia, 19/9/2020).

Meski akhirnya direvisi, masyarakat harus faham bahwa rencana penyederhanaan kurikulum berefek tidak wajibnya pelajaran sejarah untuk SMA sederajat, adalah berbahaya karena hal itu bisa menghilangkan memori tentang jasa ulama bagi negeri dan menghapus tragedi sejarah kekejaman PKI dan lain-lain. 

Sementara pernyataan berbeda dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dalam menanggapi polemik  akan dihapuskannya mata pelajaran sejarah dalam penyederhanan kurikulum, Retno Listyarti menilai wacana untuk menjadikan mata pelajaran sejarah sebagai pilihan (tidak wajib) di jenjang SMA, bahkan menghapus di jenjang SMK adalah tidak tepat. Semua anak, menurut Retno, baik di SMA ataupun SMK  berhak mendapatkan pembelajaran sejarah dengan bobot dan kualitas yang sama. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Bagaimana mau menghargai kalau pelajaran tersebut tidak diberikan,” tegas Retno di Jakarta (medcom.id, 20/9/2020).

Terlepas apakah itu dihapus, dijadikan mata pelajaran pilihan ataupun penyederhanaan, yang pasti akan berpengaruh besar pada  pemahaman generasi muda terhadap sejarah bangsanya. Generasi muda sebagai generasi penerus akan kehilangan identitas dirinya, karena mereka tidak mampu memahami  dan tidak mengenali latar belakang yang menjadikan dirinya seperti sekarang ini. Hal ini akan sangat berbahaya, karena mereka bisa saja akan mencari jadi dirinya dengan melihat yang sekarang ada di hadapan mereka. Karena keberadaan maklumat atau informasi sebelumnya, yang akan dikaitkan dengan fakta saat ini adalah sangat penting. Kekosongan informasi akan membentuk pemahaman yang salah terhadap fakta atau masalah  yang hadapi saat ini, yang berdampak pada perbuatan atau penyelesaian masalah yang salah pula.

Fakta-fakta sejarah yang seharusnya dipahami generasi muda atau siswa, seperti, bagaimana perjuangan para pendahulu yang banyak di pandegani oleh para ulama dalam berjuang melawan penjajah belanda dan yang lainnya. Begitu juga bagaimana pengaruh dan kontribusi kekhilafahan Islam di wilayah nusantara sebelum ada Indonesia.

Kontribusi kekhilafahan sangatlah luar biasa dalam mencerahkan pemikiran umat manusia saat itu yang mampu merubah dari kondisi kegelapan menuju cahaya keimanan terhadap Islam. Dan hingga saat ini Indonesia menjadi Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Apabila fakta-fakta ini tidak di ajarkan maka akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan dan kemajuan bangsa. Karena memori generasi muda akan kosong dan tidak paham masa-masa kejayaannya di masa silam.

Fakta-fakta yang lain seperti bagaimana bangsa ini menghadapi tragedi dan kekejaman pemberontakan PKI yang menelan banyak korban dari para pahlawan dan kalangan ulama. Generasi muda tidak paham dengan bahaya yang mengancam di depan mata, jika semua informasi terkait dengan sejarah bangsa ini tidak diajarkan.

Mereka akan menjadi generasi yang acuh dan abai, yang tidak mempunyai ketajam berpikir terhadap munculnya gejala-gejala sosial yang ada saat ini. Mereka tidak mempunyai informasi apapun tentang sejarah yang bisa dikaitkan dengan kondisi fakta hari ini. Dan yang mengerikan mereka tidak paham dengan sejarah kelam bangsa ini. 

Sudah seharusnya bagi sebuah bangsa yang ingin maju dan mampu menyelesaikan semua permasalahan di bidang pendidikan, khususnya terkait mata pelajaran sejarah, segera melakukan sebuah rekonstruksi pembelajaran  pada mata pelajaran sejarah tersebut. Hal penting yang harus dilakukan adalah dengan menyajikan konten dalam materi sejarah dengan seobyektif mungkin, tidak ada fakta-fakta yang dikaburkan dan tidak ada yang dikuburkan. Artinya dengan memberikan informasi yang benar dan lengkap tidak ditutup-tutupi atau dikurangi. Dan tidak menghilangkan peristiwa-peristiwa penting demi kepentingan tertentu.

Sehingga generasi muda akan berpikir kritis dan peka serta mau melakukan analisa terhadap peristiwa-peristiwa sejarah dengan sebaik-baiknya. Dengan harapan mereka mampu membedakan dan mengevaluasi kesalahan-kesalahan di masa lalu agar tidak terulang kembali dimasa yang akan datang.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memperbaiki metode mengajarkan sejarah, yaitu bukan dengan cara hafalan. Karena hafalan saja tidak akan mengantarkan pada pemahaman apa-apa. Maka dari itu metode hafalan dalam mempelajari sejarah akan membawa pada kejenuhan dan kebosanan. Sehingga wajar apabila generasi muda atau siswa SMA/SMK sangat tidak tertarik untuk mempelajari sejarah. Bahkan menganggapnya tidak penting sama sekali. 

Menjadikan sejarah sebagai mata pelajaran yang penting dan menarik bagi siswa dan generasi muda adalah mutlak dibutuhkan.  Mempelajari sejarah harusnya lebih ditekankan pada pemahaman makna dan hakekatnya. Sehingga menerapkan metode yang mampu menggali pemikiran siswa yang kritis dan analitis adalah mutlak harus dilakukan. Sebagaimana memahamkan pada generasi muda bahwa peristiwa-peristiwa sejarah itu memang benar-benar pernah terjadi, bahwa nusantara saat itu benar-benar ada hubungan dengan kekhilafahan Turki.  Dan pemahaman pada peristiwa yang lain,  generasi muda harus paham terhadap kekejaman komunis. Yang mana memang komunis dan agama itu jelas-jelas bertentangan. Dan generasi muda diwajibkan untuk mengambil pelajaran dari peristiwa-perirtiwa tersebut. Sehingga akan mampu menentukan kearah mana mereka akan membawa bangsa ini di kehidupan selanjutnya.

Dengan peristiwa-peristiwa sejarah tersebut di atas, diharapkan generasi muda mampu meneguhkan hatinya untuk senantiasa membela dan memperjuangkan kebenaran, mampu mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu sehingga bisa mengantisipasi dan mencegah terjadinya sejarah kelam akan terulang kembali. Dan yang tidak kalah penting, generasi muda akan mampu mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik dan mewujudkan peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia. Allah berfirman :

 “Dan semua kisah dari rosul-rosul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Hud : 120)

“ Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Yusuf :111)

Begitulah bagaimana Islam memandang pentingnya mempelajari sejarah. Untuk mewujudkan pemahaman yang benar pada generasi muda bangsa ini, maka informasi terkait sejarah bangsa harus diberikan dengan sebenar-benarnya dan  selengkap-lengkapnya. Memberi kesempatan seluas-luasnya pada generasi muda untuk mengeksplorasi diri dan mengembangkan diri. Sehingga mampu membawa perubahan hakiki  dan menjadikan bangsa yang berperadaban tinggi yang menghargai sejarahnya  dan mampu menjadi pemimpin dunia di bawah naungan sistem paripurna, yakni sistem Islam yang membawa keberkahan dunia akhirat. InsyaAllah.
Wallahua’lam bishowab.[]

Oleh: Sri Kayati, S.Pd
(Anggota Komunitas Setajam Pena)


Posting Komentar

0 Komentar