TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ahmad Sastra: Krisis Ekonomi atau Resesi karena Penerapan Kapitalisme Sekuler Liberal



TintaSiyasi.com-- Banyaknya pengangguran akibat resesi yang terjadi di tengah pandemi Covid-19 mendapat tanggapan Dosen Filsafat Dr. Ahmad Sastra, M.M. Menurutnya, secara makro bangsa dan negara ini mestinya makin dekat kepada Allah, bertobat dan kembali kepada Allah. 

"Bangsa ini harus sadar bahwa krisis ekonomi atau resesi ini adalah akibat kesalahan penerapan sistem ekonomi, yakni kapitalisme sekuler liberal. Sebab bukan hanya individu, negara pun bisa depresi jika tak mampu menghadapi masalah," tuturnya dalam Forum Grup Discussion (FGD) #6 : Indonesia di Tepi Jurang Resesi, Benarkah? di kanal YouTube  Forum Doktor Peduli Bangsa, Sabtu (19/09/2020).

Ia mengajak baik secara individu maupun negara untuk kembali mendekat pada Allah SWT dan kembali menerapkan sistem syariat Islam guna menyelamatkan bangsa dari krisis ekonomi yang menimpa.

Menurutnya, pengangguran akibat terkena krisis ekonomi akan mengganggu stabilitas individu maupun rumah tangga, sebab tak lagi memiliki penghasilan akan berdampak langsung kepada masalah pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan papan. 

"Jika ketiganya (sandang, papan, pangan) terganggu, maka terganggu pula kejiwaannya,” tambahnya.

Ia memaparkan, dalam suasana kehilangan mata pencaharian yang selama ini menopang kehidupan keluarga akan menimbulkan seseorang kehilangan ekspektasi, kesempatan, harapan, atau hubungan, maka mereka akan mengizinkan diri mereka merasakan duka.

"Penelitian menunjukkan, orang-orang yang terkena dampak finansial, kehilangan rumah dan pekerjaan, pada saat masa depresi besar lebih rentan memiliki masalah kesehatan mental," terangnya.

Ia menjelaskan pula, untuk menghindari dampak psikologis akibat pandemi atau resesi, maka mesti ada pendekatan psikospiritual. "Dalam perspektif spiritual, apa yang dialami oleh manusia yang tidak bisa dikuasai atau dikendalikan, maka itu disebut sebagai ujian," tambahnya.

Ustaz Sastra dosen sekaligus penceramah menjelaskan, menghadapi ujian harus tetap bersabar, yakni istiqomah dalam kebenaran meski ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan.

"Jika tak terkendali secara emosional, maka krisis ekonomi ini justru bisa menjerumuskan orang kepada kondisi ketidaksabaran. Hal ini bisa berakibat fatal, sebab orang yang tak bersabar bisa terjerumus kepada tindakan-tindakan kontraproduktif, seperti menjarah, mencuri, merampok, bunuh diri maupun lari ke penyalahgunaan narkoba," sanggahnya.

Ia juga mengingatkan, kesabaran harus diikuti oleh sikap optimis akan pertolongan Allah dengan tetap maksimal berusaha mencari pekerjaan baru atau bahkan menciptakan pekerjaan. Ketenangan batin akan mempermudah solusi, sebaliknya makin panik, maka akan semakin sulit untuk mendapatkan solusi di tengah tekanan masalah yang menimpa. 

"Kreativitas dan kolaborasi juga merupakan langkah-langkah terukur di saat mendapatkan ujian akibat pandemi atau resesi," gagasnya.

Ia menegaskan, seorang Muslim harus yakin bahwa saat ada masalah, maka Allah akan menyediakan solusinya, ibarat penyakit, maka akan ada obatnya. Masa-masa sulit yang dihadapi, mestinya menambah kedekatan kepada Allah untuk senantiasa berdoa, bukan malah makin menjauhi-Nya.[]

Reporter: Liza Burhan

Posting Komentar

0 Komentar