Walau Dimusuhi Kaum Sekuler, Khilafah Pasti Tegak



Tidak dapat dipungkiri kabar menggembirakan bagi kaum muslim ditengah kondisi kemerosotan dunia akibat terjangan virus corona hari ini adalah kembalinya Hagia Sophia di Istanbul sebagai masjid. Setelah beberapa waktu lamanya semenjak keruntuhan pemerintahan Islam yaitu Khilafah Islamiyah Hagia Sophia hanya dijadikan museum. Kekhalifahan terakhir dipimpin oleh Ottoman, dibubarkan pada tahun 1924 masa awal pembentukan negara Republik Turki yang sekuler. 

Khilafah Islamiyah itu sendiri adalah sistem pemerintahan Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah yang mengurusi urusan umat Islam di seluruh dunia. Dalam pelaksanaan pengurusannya khilafah menjalankan seluruh syariat islam yang bersumber pada warisan rasulullah yaitu Al Quran dan Sunnah. 

Corak pemerintahan Islam yang khas seperti khilafah Islamiyah ini dalam sistem kehidupan modern tidak dapat lagi dijumpai. Pasalnya negara di seluruh dunia berdiri diatas asas sekulerisme yang memisahkan agama dengan kehidupan. Di dunia ini ada berbagai macam bentuk dan sistem negara kecuali Khilafah yang berdasarkan Islam.

Hagia Sophia dibangun sebagai katedral di bawah Kekaisaran Bizantium Kristen dan melambangkan kebesaran konstantinopel ketika itu, Hagia Sophia kemudian diubah menjadi masjid oleh Muhammad Al Fatih dari Ottoman pada tahun 1453 setelah konstantinopel jatuh melalui penaklukan yang dipimpinnya.  

Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel sebab terinspirasi, termotivasi dan bertekad kuat mewujudkan bisyarah rasulullah tentang akan tertaklukannya Konstantinopel, dan hal itu berhasil diwujudkannya. Kemudian sultan-sultan pengganti selanjutnya dalam Kekhilafahan Turki Ustmani menaungi 2/3 dunia dengan cahaya Islam. Warga negaranya menjunjung tinggi Hukum Islam dan berasal dari berbagai latar belakang Suku, Agama dan Ras.

Keberadaan negara Turki hari ini adalah sebagai bagian negara sekuler yang tidak lagi mendasarkan hukumnya pada Islam. Ikatan warganya pun berubah bukan lagi ikatan Islam tetapi nasionalisme sempit. Jika pada masa kekhilafahan ikatan Islam dijadikan dasar dan oleh sebabnya mampu memimpin 2/3 bagian dunia.  Menjadi negara republik Turki yang sekuler, ikatan yang dibangun berubah nasionalisme sehingga Turki tidak lagi memimpin 2/3 dunia tetapi hanya sebatas bangsa Turki saja. 

Nasionalisme atau Kebangsaan Turki belum dikenal saat kekhilafahan, hingga datangnya serangan politik dan kebudayaan dari Barat (Khususnya Inggris dan sekutunya). Kemudian mencapai titik klimaksnya pada era Mustafa Kemal Atturk (Pendiri Negara Sekuler Turki) meruntuhkan sistem Islam yakni Khilafah Islamiyah pada 03 Maret 1924. Sikap sombong dan kebanggan atas bangsa, merendahkan agama dan memisahkannya dari kehidupan digencarkan oleh Mustafa Kemal. 

Kembalinya Hagia shopia menjadi masjid membangkitkan gelora kembali kepada kekhilafahan adalah hal yang sangat wajar. Turki sekuler hari ini dibangun diatas puing-puing reruntuhan khilafah, dan khilafahlah yang berjasa menaklukkan Konstantinopel yang sekarang wilayahnya menjadi wilayah Turki. Penaklukan itu sendiri sebab pembuktian bisyarah rasulullah yang menunjukkan sebuah keyakinan pada Islam begitu tinggi. Jika beberapa hari setelah Turki membuka kembali Hagia Sophia sebagai masjid kemudian tersebar seruan Gercek Hayat agar pemerintah meluncurkan kembali kekhalifahan adalah sebuah kewajaran.  

Gercek Hayat adalah majalah mingguan surat kabar Yeni Safak yang terkait dengan pemerintah. Pernyataan itu disertai dengan terjemahan dalam bahasa Inggris dan Arab. "Sekarang Hagia Sophia dan Turki bebas; bersiaplah untuk kekhalifahan," demikian tercantum dalam sampul terbitan Gercek Hayat terbitan 27 Juli. "Jika tidak sekarang, lalu kapan? Jika bukan kamu, lalu siapa?" tanya sampul majalah itu. 

Anehnya seruan kembali ke Khilafah direspon keras oleh kubu sekuler. Asosiasi Bar Ankara mengajukan pengaduan pidana terhadap Ger├žek Hayat dengan tuduhan menghasut orang-orang untuk melakukan pemberontakan bersenjata melawan Republik Turki, menghasut masyarakat membentuk kebencian dan permusuhan dan menghasut orang untuk tidak mematuhi hukum.

Mengapa harus dituduh mengangkat senjata? Sedangkan ajakannya bersifat seruan dan nasihat politik bahwa Khilafah dan kejayaan itu milik Kaum Muslimin. Kekhilafahan (Kepemimpinan Islam) dapat diraih dengan cara damai dalam bentuk perubahan total sistem. Padahal dalam Sejarahnya Daulah Islam yang menjadi cikal bakal Khilafah didirikan tanpa pertumpahan darah. Rasulullah SAW mampu mendirikan Daulah dan dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin dengan cara damai.

Oleh karena itu, ketika seruan kembali kepada Khilafah direspon keras oleh sekuler Turki, hal ini bermakna bahwa Sekularisme adalah harga mati sehingga akan menolak sistem lain selain sekulerisme. Sekularisme adalah ruh Turki Modern. Kembali kepada Khilafah bermakna ancaman bagi sekularisme. Khilafah tegak artinya hancurnya tatanan politik sekuler. Sebab ajakan ke Khilafah bermakna kembali ke Politik Islam. Turki Sekuler akan tinggal kenangan dan tak bisa lagi dikontrol oleh Amerika Serikat dan sekutunya pada zaman sekarang.

Kekhilafahan akan mengembalikan kaum muslimin pada pandangan Islam yang menjadikan Islam sebagai way of life, mendasarkan kehidupannya dengan agama sehingga akan menyelaraskan hidupnya dengan aturan hukum agama dan membangun ikatannya berdasarkan aqidah islam yang menyatukan seluruh umat islam di dunia menjadi satu umat.
Dengan kekhilafahan kaum muslim akan kembali menyatukan agama dan kehidupan. Turki akan hilang identitas sekularismenya dan bagi Barat ini adalah ancaman. Untuk itu Barat tidak akan segan-segan menghalangi kaum muslim kembali kepada Islam begitu saja. 

Berbagai cara akan dilakukan demi gagal bangkitnya khilafah. Dukungan materi dan poitik kepada kubu sekuler akan diberikan demi berlangsungnya negara turki sekuler. 
Karena sekulerisme akan menjamin keberlangsungan hegemoni Barat atas dunia islam dan akan tetap menjadikan mereka negara adi daya. Sementara kehadiran Khilafah akan menjadi pesaing negara adi daya sekarang bahkan mengganti kedudukannya. Jika hari ini kita yang hidup dalam sistem sekuler menyaksikan terjadi reaksi keras atas seruan kembalinya khilafah hakikatnya itu adalah permusuhan sistem sekuler itu sendiri kepada Khilafah.[]


Oleh: Ratih Puji Lestari, S. Pd.

Posting Komentar

0 Komentar