Wacana Khilafah Pasca Konversi Hagia Sophia



Langkah Erdogan dalam mengubah status Hagia Sophia telah membatalkan gebrakan Mustafa Kamal Pasha dalam mendirikan Turki Modern. Disamping banyak kecaman yang menekannya dari negara Barat, dukungan umat islam sedunia membanjiri keputusan Erdogan. Hingga pelaksanaan sholat jumat pertama, bangunan tersebut telah dipenuhi jamaah sejak pagi harinya. Secara sadar, perubahan status Hagia Sophia telah menyulut gelora keislaman umat muslim.

Majalah Gerek Hayat salah satunya, dalam sampul edisi 27 – 2 agustus lantang menjudulinya tentang seruan kekhilafahan kembali. Momentum yang sangat tepat setelah mengingat kembali siapa bangsa Turki di masa lalu, sebagai imperium penakluk Byzantium. Di Indonesia, mayoritas masyarakat muslim memberikan pengharapan positif terkait terbitan majalah tersebut.

Di negara asalnya, Gerecek Hayat dibanjiri komentar kecaman dari Partai Gerakan Nasionalis selaku koalisi AKP (partai Erdogan) dan para oposisi. Dengan mengatakan kasus ini telah ditutup, Devlet Bahceli politikus Partai Gerakan Nasionalis berpidato “kebangkitan kekhilafahan berarti konflik baru dan gangguan domestik yang tak terduga. Tidak ada yang berhak melakukannya.” 

Namun, memang berdasarkan jajak pendapat yang dilansir dari sindonews.com, bahwa mayoritas warga Turki tidak terlalu bersemangat tentang kemungkinan kembalinya kekhilafahan. Hampir 59% dari 2500 warga dalam 12 proinsi, penghapusan khilafah adalah keputusan bagus.

Walaupun secara historis banyak bukti kegemilangan yang ditorehkan oleh khilafah, hal ini belum cukup menarik minat pemegang kuasa untuk mengembalikannya. Adalah hal wajar, saat khilafah mendapat banyak tuduhan, umat berbalik untuk bernaung pada nasionalisme wilayah dan bangsa, sebab senasib penjajahan. 

Khilafah sebagai dorongan emosional belum cukup untuk membawanya menjadi konstitusional negara dunia (red: imperium) lagi. Kecintaan pada tokoh kemerdekaan seperti Kamal di Turki cukup untuk tidak mengotak-atik peletakan dasar negara olehnya. 

Melalui perjanjian Sykes Picot antara Prancis dan Britania Raya menyepakati pembagian kendali wilayah atas Asia Barat di bawah pimpinan Ottoman. Hal inilah yang menjadi sumbangsih terbesar nasionalisme di Asia Barat.

Namun bukan tidak mungkin khilafah akan hadir kembali memimpin dunia, jika umat islam menyadari pentingnya menyatukan frekuensi. Bahwa wilayah hanyalah sebagai wilayah yang tidak membatasi umat untuk dikomandoi oleh khalifah tunggal. Melihat realitas bahwa hukum internasional yang disepakati kini tidak memberi kepuasan akan keadilan terutama menyangkut hak muslim di negara tertindas. Kemunduran ekonomi dilihat dari penguasaan kapital yang banyak menimbulkan kerusakan dan peninasan terhadap kaum lemah (ploletar). 

Gelora keislaman tidak cukup jika hanya dilandaskan pada panggilan nurani, namun harus ada kesadaran bahwa aturan yang dibuat oleh manusia bersifat antropho-centris, yang tidak mampu secara revolusioner menjawab persoalan manusia. Melihat fakta bahwa islam bukan sekedar agama transedental, memiliki pengaturan hablum minannas akan sangat mungkin kedamaian yang diharapkan dunia akan terpenuhi. Perkara yang sangat mungkin terjadi, sebagaimana mungkinya negara dunia dulu menjadi negara bangsa kini.[]

oleh: Nafisah Az-zahrah
Mahasiswi 

Posting Komentar

0 Komentar