Upaya dalam Mencari Vaksin Covid-19



Siapapun pasti panik dengan pandemi covid 19 yang tiba-tiba terjadi begitu cepat dan menelan korban jiwa di berbagai belahan dunia. Segala kemampuan baik dana penelitian fantastis dan fasilitas teknologi yang canggih akan dikerahkan untuk menemukan vaksin pandemi ini. Kini upaya mencari vaksin untuk menangkal Covid-19 mendesak diperlukan seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Virus ganas ini telah menyerang seluruh sendi kehidupan manusia dan juga menelan banyak korban jiwa. Semua negara berusaha menemukan vaksin Covid-19 termasuk ajang saling mengklaim siapa penemu pertama di dunia. Namun apakah  vaksin ini akan berhasil menghentikan laju penyebaran virus covid 19? Dan Apakah ada aroma bisnis yang bermain dibalik upaya penemuan vaksin?

Seperti diketahui, Indonesia bersama beberapa negara lain tengah melakukan uji klinis ketiga untuk calon vaksin yang diproduksi oleh Sinovac. Partner Sinovac untuk uji klinis ketiga ini adalah PT Bio Farma. Untuk menemukan dan membuat vaksin, dibutuhkan waktu yang lama dan biaya tinggi. Uji klinis ketiga dilakukan untuk menguji apakan vaksin efektif atau tidak bagi mereka yang divaksin.

Uji klinis pertama telah dilakukan untuk mengetahui apakah vaksin dapat merangsang antibodi. Uji klinis kedua telah dilakukan guna mengetahui dosis yang efektif untuk meningkatkan antibodi. Untuk keperluan uji klinis ini, Indonesia menerima 2.400 vaksin. Setibanya di Indonesia, vaksin tersebut telah dikarantina sebelum digunakan untuk alasan keamanan. Namun, Peluang berhasil dari uji klinis fase ketiga tidak terlalu besar yaitu 10-30 persen

Saat ini tengah diupayakan uji klinis terhadap 1.620 sukarelawan. Sisa vaksin dialokasikan untuk keperluan uji klinis lainnya. Meskipun uji klinis ketiga belum tentu berhasil menguji efektivitas vaksin bagi sukarelawan yang divaksin, pemerintah sudah bersiap untuk meningkatkan kemampuan produksi vaksin.  Menteri BUMN Erick Thohir menjelaskan, Bio Farma saat ini memiliki kapasitas produki awal 100 juta vaksin. Hingga Desember 2020, akan siap 150 juta dosis tambahan. Dengan kemampuan produksi sebesar ini, Erick yakin Indonesia akan bisa mengeskpor vaksin produksi Bio Farma sebagai bagian dari kontribusi Indonesia untuk dunia. Kompas.com, 11/08/2020)

Di waktu yang bersamaan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan telah sukses mengembangkan vaksin Covid-19 pertama di dunia. Vaksin ini diberi nama 'Sputnik V'. Vaksin dikembangkan Gamaleya Research Institute dan Kementerian Pertahanan Rusia. Namun, Otoritas Rusia mengungkapkan pekerja medis, guru, dan masyarakat dari kelompok berisiko akan mendapatkan vaksinasi pertama. Namun banyak ilmuan yang skeptis terkait keputusan Rusia yang mendaftarkan vaksin karena belum masuk ke uji klinis ke- III. (cnbcindonesia.com, 11/08/2020).

Tak ketinggalan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa kemarin (11/8/2020) mengumumkan akan membeli 100 juta dosis vaksin virus corona yang tengah dikembangkan Moderna Inc. Saat ini vaksin mRNA-1273 masih dalam uji coba tahap akhir. Kesepakatan itu bernilai US$ 1,53 miliar atau mencapai Rp 22,34 triliun (kurs Rp 14.600/US$). Kesepakatan juga berisi kemungkinan pembelian 400 juta dosis tambahan.

Sebagaimana diberitakan CNBC International, AS telah menginvestasikan US$ 955 juta atau Rp 15 triliun untuk pengembangan vaksin Moderna, sehingga total investasi mencapai US$ 2,48 miliar atau Rp 36 triliun.

Membahas tentang ambisi Kapitalisme dengan segala kepentingannya menguasai dunia, apapun akan dilakukan demi pertahanan eksistensinya di dunia. Terlepas dari segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kasus virus covid 19 adalah peluang bisnis yang menggiurkan. Sehingga Amerika serikat  cepat sekali bereaksi ketika Rusia mengumumkan sudah menemukan vaksin covid 19. 

Hari ini upaya  vaksin menjadi primadona komoditas dunia yang menguntungkan dan disegerakan. Barangsiapa yang bisa menemukan lebih dulu vaksin covid 19 dan mempatenkannya maka bisa menjadi pundi-pundi keuntungan suatu negara yang mempatenkan vaksin tersebut. Dalam perpeksitif Kapitalisme  yang dipegang oleh negara barat dan mayoritas dunia saat ini, tidak ada yang kebetulan. Semua sudah dipersiapkan secara matang. 

Solusi yang ditawarkan oleh Kapitalisme dan Sosialisme untuk manusia dan kehidupan hanya dari segi manfaat dan keuntungan. Ketika uji coba vaksin ke manusia pun jadi taruhan bisnis, tidak menjadi masalah bagi Kedua ideologi tersebut. Asalkan pundi-pundi keuntungan akan bisa diraih. Kerakusan dan ketamakan ideologi buatan manusia ini tidak  kenal keselamatan manusia .  Yang mereka inginkan adalah keuntungan, sehingga kedua ideologi ini tidak sesuai Fitrah manusia.

Namun, ummat Islam dan dunia harus menyadari bahwa permainan politik Amerika Serikat dengan ideologi Kapitalisme  dan Rusia dengan ideologi Sosialisme rentan mengorbankan nyawa manusia. Penemuan vaksin dapat dimanfaatkan mereka sebagai kepentingan bisnis yang menggiurkan. Mereka tidak mengerti dosa dan balasan hari akhirat. Mereka hanya mengerti bahasa keuntungan dan kepentingan. 

Semoga kebangkitan Islam dan cahaya kemenangan ummat akan segera datang sebelum virus-virus lainnya muncul membunuh manusia. Dan cukuplah virus sekuler dan kapitalisme juga sosialisme-Komunis telah menginfeksi kaum muslimin selama lebih 90 tahun. 

Datangnya Islam sebagai kekuatan global baru kelak akan menghentikan kejahatan-kejahatan Kapitalisme dan Sosialisme-Komunisme yang telah merusak alam semesta, manusia dan kehidupan. 

Khilafah lah yang bisa mengatasi  pandemi  penyakit dan tidak menyebabkan kepanikan global yang ditimbulkan hari ini. Islam satu-satunya harapan dimana ideologi yang lain menyelesaikan masalah hanya untuk kepentingan bisnis.[]

Oleh: Alin FM 
Praktisi Multimedia dan Penulis


Posting Komentar

0 Komentar