Ulama dan Pujangga Islam Bumi Melayu, Raja Ali Haji Pengarang Gurindam 12

Kegemilangan kerajaan Johor-Riau dikenali juga sebagai zaman kegemilangan kesusasteraan Islam di Nusantara,  telah melahirkan beberapa orang tokoh kebudayaan Islam dan salah seorang yang begitu terkenal ialah Raja Ali Haji (1809-1870M) 

Raja Ali Haji Raja Ali Haji dilahirkan di Pulau Penyengat, Wilayah Kepulauan Riau, Indonesia pada tahun 1808 dari ayah bernama Raja Ahmad (bergelar Engku Haji Tua) dan seorang ibu bernama Hamidah binti Panglima Malik Selangor. Raja Ali Haji adalah cucu dari Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan IV dari Kerajaan Riau-Lingga dan merupakan keturunan bangsawan Bugis. 

Keluarga Raja Ahmad ini termasuk orang-orang yang gemar menulis. Sebagai sasterawan, Raja Ahmad pernah menghasilkan tiga buah karya iaitu Syair Engku Putri, Syair Perang Johor dan Syair Raksi. Darah sasterawan yang ada pada diri Raja Ahmad tumbuh dan berkembang lebih besar pada diri Raja Ali Haji. 

Ketokohan beliau bukan saja di bidang sejarah dan bahasa, tetapi juga terkenal sebagai seorang ahli undang-undang dan adat istiadat Melayu.  Dua buah buku karangan beliau dalam bidang undang-undang dan adat istiadat Melayu yaitu “Muqaddimah fi Intizam al-Waza’if al-Mulk” (Raja Ali Haji: 1304H) dan “Thamarat al-Muhimmah Diyafah li al-Umara’ wa al-Kubara’ li ahl al-Mahkamah.” (Raja Ali Haji: 1304H). 
Dua buah karya undang-undang Raja Ali Haji ini dapat menunjukkan kepada kita bahwa beliau adalah seorang yang pintar dan banyak memahami tentang adat istiadat Melayu dan undang-undang Islam terutama yang berkaitan dengan pemerintahan. Dalam menghasilkan kedua-dua karya ini, beliau banyak menggunakan sumber-sumber dari al-Qur’an dan juga karya-karya dari ulama-ulama Islam. 

Sewaktu beliau melahirkan buku “Thamarat al-Mahimmah”, beliau menggunakan buku-buku rujukan seperti kitab “Fath al-Wahhab” karangan Zakariyya Ibn Yahya al-Ansari, kitab “Fath al-Mu`in” karangan Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malabari dan kitab “Ihya’ `Ulum al-Din” karangan Imam al-Ghazali.

Raja Ali Haji mendapat pendidikan di lingkungan istana kerajaan Penyengat dari para ulama yang datang dari berbagai negeri untuk mengajar agama Islam. Untuk menambah wawasan, Raja Ali Haji sering mengikuti perjalanan ayahnya ke berbagai daerah untuk berdagang. 

Dan beliau  pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah. Kemudian tinggal di sana selama setahun untuk memperluas pengetahuan agama. Di Mekah, beliau sempat belajar beberapa bidang ilmu Islam dan bahasa Arab daripada Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fatani. Berbekal pengembaraan intelektual dan pengalaman yang telah dilaluinya, Raja Ali Haji membesar menjadi pemuda berwawasan luas. 

Meskipun usianya masih muda, ia sudah dikenal  sebagai seorang ulama yang seringkali diminta fatwanya oleh pihak kerajaan. Pada tahun 1845, Raja Ali bin Raja Jafaar diangkat menjadi Yamtuan Muda, dan Raja Ali Haji dikukuhkan sebagai penasihat keagamaan negara. 

Pada tahun 1858, Yang Dipertuan Muda Riau IX Raja Abdullah Mursyid telah mangkat dan Raja Ali Haji diberi amanat untuk mengambil alih segala urusan yang berkaitan dengan undang-undang Islam. Meskipun ia memiliki kedudukan penting di pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga, namun tugasnya sebagai penulis dan karya tetap bejalan sebagaimana biasa. dan hasil karyanya meliputi berbagai bidang, seperti keagamaan, kesusasteraan Melayu, politik, sejarah, falsafah dan juga undang-undang. 

Raja Ali Haji membuktikan dirinya tidak hanya sekadar sejarawan, tetapi juga seorang ulama, pujangga, dan sasterawan yang memiliki komitmen memelihara nilai keislaman serta rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. 

Ia dikenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu dengan karyanya Pengetahuan Bahasa yang menjadi standard bahasa Melayu yang kemudian dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa Indonesia. Ia juga dikenal sebagai sejarawan dengan karyanya berjudul Tuhfat al-Nafis, dan sebagai sastrawan dengan karyanya Gurindam Duabelas. 

Raja Ali Haji wafat pada tahun 1873 dan dimakamkan di Pulau Penyengat, yaitu di kompleks pemakaman Engku Putri Raja Hamida. Untuk melestarikan karya-karyanya, pada awal tahun 1890, segenap sanak keluarganya mendirikan perkumpulan bernama Rusdyiah Club yang bergerak di bidang pembinaan umat serta penerbitan buku-buku Islam. 

Sebagai ulama dan kalangan elit kerajaan, pemikiran Raja Ali Haji lebih banyak berkisar kepada administrasi pemerintahan dan budaya Melayu pada masa itu. Pemikiran tersebut, sebahagian besar tertumpu dalam berbagai karyanya. Pemikiran Raja Ali Haji dinyatakan melalui himbauan  moral yang ditujukan kepada elit kerajaan yang berkuasa, agar melaksanakan kekuasaan mereka berdasarkan nilai dan norma Islam. 

Sebagai seorang ulama, pujangga, sejarawan dan budayawan, Raja Ali Haji banyak melahirkan karya berupa naskah dan cetakan dalam huruf Arab, antaranya: •Bustan al-Katibin Li al-Subyan al-Mutaallimin, Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat, (tahun 1983). Kitab Pengetahuan Bahasa, diterbitkan oleh Al-Mathba at Al-Ahmadiyah/Al-Ahmadiah Press, Singapura (tahun 1345 AH). Syiar Hoekoem Nikah, Syair Siti Shianah Shahib al-Ulum wa al-Amanah, Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat (tahun 1983). Gurindam Dua Belas dan terjemahannya dalam bahasa Belanda oleh E. Netscher De Twaalf Spreukgedichten, diterbitkan oleh Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap II, Batavia (tahun 1854). 

Besarnya pengaruh Islam di Kepulauan Riau semakin nyata dan terpampang jelas, bukan saja  pahlawan seperti Raja Haji Fisabilillah yang berasal dari kerajaan Riau Lingga yang terinspirasi dari Islam, sastrawan Raja Ali Haji juga karya sastranya berisikan nilai Islam salah satunya adalah gurindam 12.  

Bila saat ini Islam phobia masih mewarnai kehidupan umat Islam dan negara masih khawatir atas perkembangan Islam, jauh sebelumnya sejarah sudah membuktikan bahwa Islam adalah  rahmatan lil’alamin (rahmat buat manusia dan seluruh alam).[]

Referensi : Pengaruh khilafah othmaniyyah turki dalam pentadbiran kerajaan johor bagi memartabatkan sebuah negara islam merdeka di asia tenggara1abd jalil borham jalil@ump.edu.my

Oleh: Riana Magasing M.Pd 
(Pendidik dan Tim penyusun kurikulum muatan lokal budaya melayu)

Posting Komentar

0 Komentar