TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ukhuwah Islam dalam Bingkai Khilafah

Ilustrasi


Setelah Rasulullah saw wafat, tugas kenegaraan dan pengaturan urusan rakyat dilanjutkan oleh para Khalifah. Kekuasaan Islam meluas hingga hampir 2/3 dunia yang membentang mulai Jazirah Arab, Syam, Afrika, Hindia, Balkan dan Asia Tengah. Meski demikian hal itu tak mendorong para Khalifah untuk menyeragamkan warga negara, maupun berupaya memberangus pluralitas. 

Wilayah yang begitu luas, Daulah Islam memiliki keragaman budaya, keyakinan, dan agama yang sangat besewaktu-waktu bisa memunculkan konflik. Namun faktanya hingga berakhirnya kekhilafahan Islam, tak ada satu pun pemerintah Islam yang mewacanakan adanya keseragaman atau upaya penghapusan pluralitas agama, budaya dan keyakinan dengan alasan mencegah konflik.

Penerapan syariat Islam saat itu terbukti mampu menciptakan keadilan, kesetaraan dan rasa aman bagi seluruh warga negara baik muslim ataupun non muslim. Dalam buku Holy War, Karen Amstrong menggambarkan saat-saat penyerahan kunci Baitul Maqdis kepada Umar bin Khattab memasuki Yarusalem dengan dikawal oleh Uskup Yunani Sofronius. 

Sang Khalifah meminta agar dibawa segera ke haram al-sharif dan disana ia berlutut berdoa di tempat nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam melakukan perjalanan malamnya. Sang uskup memandang Umar penuh dengan ketakutan. iya berfikir ini adalah hari penaklukan yang akan dipenuhi oleh kengerian yang pernah diramalkan oleh nabi Daniel. Pastilah, Umar ra adalah sang anti Kristus yang akan melakukan pembantaian dan menandai datangnya Hari Kiamat. Namun kekhawatiran Sofronius sama sekali tidak terbukti. "Setelah itu, penduduk Palestina hidup damai, tentram, tidak ada permusuhan dan pertikaian meskipun mereka menganut tiga agama besar yang berbeda Islam, Kristen dan Yahudi.

Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang telah dilakukan tentara Salib tahun 1099 Masehi. Ketika mereka berhasil menaklukkan Palestina dengan kengerian, teror dan pembantaian hampir ke seluruh kota. Selama dua hari setelah penaklukan, 40.000 kaum muslim dibantai. Pasukan Salib berjalan di jalan-jalan Palestina dengan menyeberangi lautan darah. Keadilan, persatuan, dan perdamaian tiga penganut agama besar yang diciptakan sejak tahun 1837 oleh Umar bin Khattab hancur berkeping-keping. Meskipun demikian ketika Shalahuddin Al Ayyubi berhasil membebaskan kota Quds pada tahun 1187 Masehi, beliau tidak melakukan balas dendam dan kebiadaban yang serupa. 

Karen Amstrong menggambarkan penaklukan kedua kalinya atas Yarusalem ini dengan kata-kata berikut, "Pada tanggal 2 Oktober 1187, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Yarusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yarusalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin menepati janjinya dan menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Dia tidak berdendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang Al Qur'an anjurkan (16:127) dan sekarang karena permusuhan dihentikan, ia menghentikan pembunuhan (2:193-194)".

Di Andalusia kaum Muslim, Yahudi dan Kristen hidup berdampingan selama berabad-abad, di bawah naungan kekuasaan Islam. Tidak ada pemaksaan kepada kaum Yahudi dan Kristen untuk masuk agama Islam. Sayangnya peradaban yang inklusif dan agung ini berakhir di bawah mahkamah inkuisisi kaum Kristen ortodoks. Orang-orang Yahudi dan Muslim dipaksa masuk agama Kristen. Jika mereka menolak akan diusir dari Andalusia atau dibantai secara kejam dalam peradilan inkuisisi.

Pada tahun 1519 Masehi, pemerintahan Islam memberikan sertifikat tanah kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kekejaman inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia. Pemerintah Amerika Serikat pun pernah mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada Khilafah Islamiyyah atas bantuan pangan yang dikirimkan kepada mereka pasca perang melawan Inggris pada abad ke 18. Surat jaminan perlindungan juga pernah diberikan kepada Raja Swedia yang diusir tentara  Rusia dan mencari suaka politik ke Khalifah pada tanggal 7 Agustus 1709 M.

Pada tanggal 5 September 1865 Khalifah memberikan izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah berimigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah Khalifah. Sebab di Rusia, mereka tak mendapatkan kesejahteraan hidup.

Inilah rangkaian sejarah yang menunjukkan bahwa penerapan Islam melalui institusi tetap melindungi dan mentolerir adanya keragaman. Tidak menyeragamkan, tidak memberangus pluralitas, tidak memaksakan non muslim memeluk Islam dan tidak ada pengusiran terhadap non muslim dari wilayah kekuasaan Islam. Yang terjadi justru perlindungan terhadap non muslim. Pemerintah Islam dengan syariat Islamnya benar-benar mampu mewujudkan persatuan tanpa menghapus keragaman.[]

Oleh Nanik Farida Priatmaja
Sumber: Panduan Lurus Memahami Khilafah Islamiyyah Menurut Kitab Kuning

Posting Komentar

0 Komentar