Tak Ada Pelindung, Tak Ada Kemuliaan

20 Agustus 2020 Masehi atau dalam penanggalan Islam 1 Muharrom 1442 umat Islam di dunia khususnya di Indonesia sedang memperingati momentum bersejarah yaitu tahun baru Islam. 

Penanggalan Islam ini dilakukan di masa kekhalifan Umar bin Khattab untuk menandakan proses Hijrahnya Rosulullah SAW dan Umat Islam dari darul kuffur ke darul haq.

Banyak umat Islam yang memperingati momentum ini termasuk salah satunya dari Komunitas Literasi Islam bersama Media Ummat dan Khilafah Channel yang menyelenggarakan nobar film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara yang menjadi trending topic di twitter seharian ini.

Film berjudul Jejak Khilafah di Nusantara ramai dibicarakan di Twitter. Bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharam, pembahasan filmnya menjadi trending topic sampai memunculkan tagar #JejakKhilafahdiNusantara dan #DakwahSyariahKhilafah. (m.detik.com)

Sayangnya, ditengah keramaian nobar Film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara yang menyajikan peranan penting umat Islam di Nusantara beredar penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam. 

Dikutip dari  postingan ketua MUI Provinsi Papua Barat Ustadz Ahmad Nausrau merespon terkait adanya komentar facebook yang isinya berupa penghinaan kepada Rosulullah SAW dan juga Islam.

"Postingan secara biadab dan kurang ajar yg menghina Nabi Muhammad Saw dan ahlul bait serta ajaran Islam di awal tahun baru 1442 H. Pelakunya berdomisili di Kab. Kaimana, Papua Barat. Saat ini pelaku telah ditahan oleh Polres Kaimana. MUI Kab. Kaimana jg telah membuat LP ke Polres Kaimana untuk proses hukum lebih lanjut. Untuk itu atas nama MUI Papua Barat, kami mengutuk keras perilaku bar-bar dan ujaran kebencian ini dan mohon atensi Pak Kapolda Papua Barat untuk ikut mengawal kasus ini hingga sampai ke pengadilan dan pelakunya dihukum seberat-beratnya. Manokwari, 20/08/2020"

Penghinaan terhadap Rosulullah dan ajaran Islam bukanlah sesuatu yang baru. Sebelumnya telah banyak postingan-postingan berupa penghinaan terhadap ajaran Islam, baik rakyat biasa maupun para petinggi-petinggi negeri ini. Mulai dari video remaja yang sholat sambil berjoget, membandingkan konde dengan kerudung sampai kriminalisasi ajaran Islam seperti Khilafah dan jihad.  Tak heran mengapa hal ini sering tejadi, sebab ini buah dari kebebasan berekspresi dan berpendapat yang dianut saat ini sehingga setiap orang merasa berhak untuk berpendapat dan berekspresi sesuai pemikiran mereka termasuk melakukan penghinaan terhadap manusia mulia Rosulullah SAW.

Tidak tegasnya hukum pun menjadi salah satu faktor merebaknya penghinaan semacam ini karena hanya dengan menangis dan meminta maaf maka perkara menjadi selesai, sedikitpun  tidak membuat efek jera pada pelaku dan kehati-hatian bagi masyarakat lain. Penghinaan-penghinaan terhadap Islam dan ajaran Islam akan terus terjadi jika ummat Islam tidak memiliki perisai atau pelindung yang akan melindungi umat Islam beserta ajaran Islam dari musuh-musuh Islam. Hal ini sesuai dengan yang sabda Rosulullah SAW :

”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll). 

Sebagaimana pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul hamid II terhadap Prancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire. Sebuah drama penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Dengan penuh ketegasan sang khalifah akan mengobarkan jihad melawan Inggris dan Prancis kala itu . Hasilnya, mampu menghentikan rencana jahat itu. Dan kehormatan Rosulullah SAW tetap terjaga.

Maka momentum 1 Muharrom 1442 Hijriyah ini menjadi motivasi berharga bagi umat Islam untuk berjuang agar memiliki perisai umat yang mampu menerapkan Islam secara kaffah demi mengembalikan kemuliaan, kejayaan, harkat dan martabat kaum muslimin serta ajaran Islam. Wallahu'alam bi sowwab.[]

Oleh: Ily Uswanas
(The Voice of Muslimah Papua Barat)

Posting Komentar

0 Komentar