Solusi Payah Penguasa Gegabah



Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan pihaknya memilih penggunaan masker dalam menekan penyebaran virus corona (Covid-19) daripada menerapkan karantina wilayah (lockdown) atau pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Seperti disampaikan pak gub, pilih lockdown atau masker, pilih PSBB atau masker, kita pilih pakai masker," kata Jokowi saat memberikan pengarahan penanganan Covid-19 di Bandung, Jawa Barat, Selasa (11/8).

Baca selengkapnya:
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200811114906-20-534425/jokowi-ungkapkan-pilih-masker-daripada-lockdown-dan-psbb?utm_source=facebook&utm_medium=oa&utm_content=cnnindonesia&utm_campaign=cmssocmed

Pernyataan presiden Joko Widodo lebih memilih penggunaan masker daripada PSBB dan Lockdown layak dikritisi:

Pertama, penerapan lockdown tidak dilakukan oleh pemerintah secara total semenjak awal pandemi covid-19 melanda negeri ini. Hal ini disebabkan ketidakmampuan negara menjamin kebutuhan pangan rakyat ketika lockdown. Bantuan yang diberikan pemerintah pun nyatanya tak tepat sasaran dan tak merata bisa dirasakan seluruh rakyat yang terdampak. 

Lockdown secara total merupakan solusi terbaik bagi wilayah yang terdampak wabah. Hal ini bertujuan agar wabah tak meluas, pasien lebih mudah tertangani dan masyarakat yang masih sehat tetap mampu beraktivitas secara produktif. Negara sebagai penanggungjawab utama rakyat seharusnya menjamin kebutuhan pangan rakyat di masa pandemi sehingga rakyat tak kebingungan mencari nafkah saat dalam kondisi sakit.

Kedua, PSBB yang diberlakukan di sejumlah daerah nyatanya juga tak mampu mengurangi penyebaran covid-19. Hal ini disebabkan kurangnya edukasi masyarakat terkait covid-19 dan adanya program pemerintah terkait percepatan dari zona merah ke zona hijau yang menjadikan longgarnya PSBB karena masyarakat merasa sudah tidak ada pandemi.

Penetapan status zona selama ini masih kurang akurat. Pasalnya tak semua masyarakat melakukan tes deteksi Corona. Hanya masyarakat yang diduga terinfeksi saja (misalnya yang telah melakukan perjalanan ke luar kota atau luar negeri) melakukan tes covid-19. Hal ini sungguh membingungkan karena masyarakat saling tidak mengetahui siapa saja yang terjangkiti virus dan yang sehat.

Ketiga, penggunaan masker disinyalir mampu menangkal virus covid-19. Padahal tak sedikit pasien covid-19 dari kalangan medis selalu menggunakan masker ketika mereka bekerja namun masih saja tertular virus tersebut. Sehingga efektivitas penggunaan masker dalam menangkal Corona masih dipertanyakan. Artinya tak cukup hanya memakai masker agar tak terjangkiti covid-19.

Masker hanyalah sebagian kecil alat pelindung diri dari virus. Akan berfungsi efektif ketika didukung dengan ketaatan protokoler setiap individu. Tak jarang meski sudah menggunakan masker namun masih saja tertular karena adanya perbuatan yang longgar terhadap protokoler covid-19.

Pernyataan rezim saat ini memang tak jarang 'aneh' dan menimbulkan ambiguitas di kalangan rakyat. Terkadang malah bikin kontroversi karna tak sesuai dengan fakta di lapangan. Hal ini bukan sesuatu yang aneh. Karakteristik penguasa sistem kapitalis yang begitu abai terhadap rakyat. Berbeda dengan penguasa yang menerapkan sistem Islam dalam kehidupan yang menjadikan rakyat ibarat gembalaan yang wajib dilayani secara maksimal.

Ketika ditimpa wabah, negara islam akan memberlakukan lockdown di wilayah terdampak. Kemudian mendeteksi masyarakat yang terjangkiti dan yang sehat serta memisahkan keduanya. Masyarakat yang sakit, akan dirawat dengan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan gratis kemudian dikarantina hingga sembuh. Adapun masyarakat yang sehat, tetap diperbolehkan beraktivitas seperti biasa dengan tetap mentaati protokoler kesehatan.

Disatusisi pemerintah menjamin kebutuhan pangan rakyat terdampak pandemi dengan bantuan yang tak berbelit-belit dan menyusahkan rakyat. Karena negara Islam menjamin kebutuhan pangan secara individu. Pelayanan medis pun diberikan secara gratis dan berkualitas sehingga rakyat tak perlu ragu dan takut melakukan tes dekteksi virus. 

Inilah karakteristik penguasa yang menerapkan Islam melalui institusi yang penuh tanggungjawab terhadap rakyat. Jauh berbeda dengan penguasa demokrasi yang mengambil solusi "payah" tanda penguasa gegabah.[]

Oleh: Nanik Farida Priatmaja

Posting Komentar

0 Komentar