TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Selebritis Mendadak Politis



Di negeri demokrasi seperti halnya Indonesia ini pastinyaakan selalu menyelenggarakan kegiatan pemungutansuara. Kegiatan ini bertujuan untuk memilih presiden, gubernur, walikota, bupati hingga wakil rakyat. Sepertihalnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang khususnya akan diselenggarakan di Kabupaten Bandung. Situasi politik mendekati pilkada sejauh ini masih terlihatdinamis. Bahkan, sejumlah selebritis ikut aktifmeramaikan pesta demokrasi lima tahunan itu. (jabarekspres.com, 06/08/2020)
 
Saat-saat pemungutan suara seperti ini, seluruh partaipolitik akan terjun untuk mencalonkan diri dan berlombameraih suara terbanyak. Hal inilah yang melatarbelakangi beberapa partai politik beranimenggandeng publik figur guna meraih suara sebanyak-banyaknya.
 
Menurut Pengamat Komunikasi Politik UnikomBandung yang juga Direktur Eksekutif Lingkar KajianKomunikasi dan Politik (LKKP) Adiyana Slametmenuturkan, sejumlah partai politik saat ini sedangberlomba-lomba menggaet publik figur dari kalanganselebritas untuk mendongkrak perolehan suara demi meraih kemenangan. Jika partai politik dapat mengusungfigur dari kalangan selebritas, artinya mempunyai modal dasar atau awal meraih kemenangan. (jabarekspres.com, 06/08/2020)
 
Sementara itu, menurut pandangan beberapa politisi, dengan menggandeng selebritas bisa menjadi modal dasar yang berimplikasi pada pemilih. Sebab, keberadaanselebritis bisa mendongkrak voters (pemilih) denganembel-embel artis. Hal ini disebabkan karena selebritisyang terkenal lewat berbagai media -dimana media inimenjadi wadah sempurna bagi selebriti- untukmendulang popularitas dan celah diri yang sudah tenaruntuk dipilih oleh masyarakat. Ketenaran yang sudahterbangun menjadi keuntungan bagi partai politik agar tidak perlu bersusah payah melakukan promosi calonyang diusungnya.
 
Selain itu, dengan masuknya para artis ke dalampartainya justru bisa menghemat dan mengontrolanggaran saat kampanye. Popularitas publik figur yang tinggi tentu akan mempermudah untuk melakukansosialisasi dan meminta dukungan. Kemudahan untukmelakukan sosialisasi inilah yang diyakini oleh para elite partai politik untuk dapat menghemat ongkos politik.
 
Dari sisi masyarakat sebagai voters, seolah mereka pun terbuai oleh aksi para selebritis yang masuk ke dalam politik. Hal ini terlihat masyarakat seperti sudah jenuh dengan oligarki yang terjadi di pemilu maupun pilkada. Sehingga inilah yang menyebabkan masyarakat lebih memilih orang yang berada di luar pusaran status quo,sekalipun masyarakat tahu bahwa orang tersebut minim pengetahuan tentang perpolitikan.
 
Di sisi lain, bagi sang artis sendiri, hal yang menggiurkanuntuk terjun ke dunia politik adalah saat kedudukannyaterpilih sebagai anggota legislatif misalnya, maka akanmenaikan pamornya pun sumber penghasilannya untukmemenuhi kebutuhan hidup yang terbiasatinggi. (kompasiana.com, 26 Juli 2018, Artis JadiAnggota Legislatif, Apa Untungnya bagiRakyat?, Herman Wijaya)
 
Dari sini terlihat jelas khas dari kapitalisme yang selalumengaitkan segala sesuatu dengan materi. Apapun itubidangnya, selama materi terlihat lebih menguntungkanmaka akan terus dijalani, walaupun pemahaman danpengalaman belum mumpuni.
 
Padahal, untuk terjun ke dunia perpolitikan dibutuhkanpengetahuan dan pemahaman yang betul-betul mendalamkarena ini semua berkaitan dengan hajat dan urusanpublik. Teringat hadis Rasulullah saw.:
 
"Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, makatunggulah kehancurannya." (HR. Bukhari)
 
Dalil ini seharusnya menjadi reminder bagi masyarakatluas akan bahayanya bila suatu urusan diambil alih olehseseorang yang tidak menguasainya. Sebagaimana kitalihat, banyak dari kalangan selebritis pedangdut, pesinetron hingga pelawak yang tiba-tiba dikabarkanmenjadi kader di suatu partai. Padahal tak sedikit latarbelakang keseharian dan kapabilitasnya nyaris tidakpernah mendapat gemblengan dari partai politik tertentuuntuk pengalaman politiknya. Jadi bisa dilihat, selebritistersebut sama sekali awam bila masuk ke dunia politik.
 
Inilah potret buram negeri ini dimana popularitasdimanfaatkan hingga ke bidang perpolitikan. Tak melihatbobot yang dikaderkan, yang penting popularitasnyatinggi sehingga bisa meminimalisir anggaran partaitersebut untuk berkampanye.
 
Sungguh berbanding terbalik dengan Islam. Bila aturanIslam diterapkan di sebuah negara maka akan sulit untukmendapatkan orang yang ambisinya mengejar kedudukanKhalifah (pemimpin) maupun wakil umat. Hal ini pernahterjadi pada Abdurrahman bin Auf yang menolakmenjadi khalifah hingga dua kali. Bahkan beliau lebihmemilih mati ketimbang harus menjadi pemimpin.Ini bukan berarti beliau memilih menghidar dari amanah, tapi karena pandangan Islam terhadap sebuah jabatanadalah bukan sebuah kemuliaan, melainkan tugas yangwajib ditunaikan dengan penuh kesungguhankarena kelak akan dimintaipertanggungjawaban. Sebagaimana sabda Rasulullahsaw.:
 
"Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawabterhadap apa yang dipimpinnya. Imam/khalifah akandimintai pertanggungjawabannya atas rakyat yang dipimpinnya." (HR. Bukhari)
 
Inilah yang menjadi dasar takutnya orang-orang yang beriman untuk menempati jabatan sebagai pengurusrakyat. Ditunjuk saja mereka berpikir seribu kali, apalagiberlomba mencalonkan diri agar terpilih.
 
Namun, bila ternyata seseorang terpilih untuk menempati amanah kepemimpinan tersebut, maka ia akan sedemikian all out dalam menjalankan tugasnya. Sebagai contoh yang pernah terjadi di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang sampai-sampai kondisi kesehatannya tidak begitu menjadi fokus utamanya. Sejarah mencatat, selama kurang lebih 3 tahun masa kepemimpinannya, beliau berhasil mengurus rakyatnya hingga tidak ada yang berhak menerima zakat karena semua kebutuhan sudah terpenuhi.
 
Selain itu, sebelumnya (saat setelah beliau diangkatsebagai khalifah) beliau berpidato di hadapan rakyatnya, "Wahai para manusia, sesungguhnya tidak ada lagi kitabsuci setelah al-Qur’an, tidak ada lagi nabi setelah NabiMuhammad saw. Tugas saya adalah bukan mewajibkan, tetapi sebagai pelaksana. Seorang yang melarikan diridari seorang imam yang zalim, dia tidak salah.Ketahuilah ketaatan kepada makhluk hidup itu tidakdiperbolehkan, apabila sampai melanggar Sang Pencipta."
 
Sungguh luar biasa perkataan seorang pemimpin yang amanah ini. Terlihat jelas ketakutan akan tidak mampunya ia dalam mengurusi urusan rakyatnya. Semua ini hanya akan terjadi manakala Islam diterapkan di setiap aspek kehidupan, termasuk bernegara. Dan Islam hanya akan tegak di bawah naungan institusi Islam kaffah. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh : Khansa Mubshiratun Nisa
Mentor Kajian Remaja
 

Posting Komentar

0 Komentar