TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sakaratul Mautnya Demokrasi dan Butuhnya Dunia pada Khilafah



Hari Kamis, 20 Agustus 2020 bertepatan dengan 1 Muharram 1441 H yang merupakan tahun baru Islam telah diputar sebuah film fenomenal, ditonton lebih dari 250.000 penonton. Film ini berjudul Jejak Khilafah di Nusantara. Tidak heran jika masyarakat begitu antusias dengan film ini, bagaimana tidak sejak dekade terakhir ini kata Khilafah  telah menjadi buah bibir di hampir semua kalangan. Dari para politisi, akademisi, petani sampai emak-emak. Kenapa kata Khilafah ini menjadi menarik diperbincangkan? 

Mencuatnya istilah khilafah  tidak lepas dari peran para pengemban dakwah yang senantiasa konsisten mendakwahkan Syariah dan khilafah.  Pro kontra yang terjadi ditengah masyarakat semakin tambah ‘naik daun’. Rupanya ada pihak-pihak tertentu yang terusik jika  sampai ummat memahami dan meyakini khilafah sebagai sistem pemerintahan yang wajib ditegakkan . Maka untuk mencegah hal itu terjadi, di framinglah Khilafah sebagai sistem pemerintahan yang “mengerikan”. Lebih tepatnya di monsterisasi.

Tidak berhenti disitu, organisasi yang dianggap lantang menyuarakan khilafah dipersekusi. Siapapun yang memiliki kecenderungan terhadap organisasi tersebut dihadang, sampai yang membelanya pun bernasib sama. Begitu masif penjegalan ide ini, para tokoh dikalangan antek berusaha memutarbalikkan fakta seputar khilafah sampai memlintir ayat dengan maksud mengaburkan  eksistensinya dalam kajian dalil syar’i. 

Padahal sebetulnya para imam madzab yang merupakan ulama muktabar telah selesai membahas kewajiban imamah/ khilafah. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan secara dalil.

Apalagi melihat realitas kehidupan saat ini yang secara gamblang bisa dilihat kerusakan terjadi dimana-mana. Pemerintahan yang korup menjadi hal biasa, kekayaan alam  dikuasai segelintir orang, pergaulan bebas yang merusak aset negara yaitu generasi, pendidikan yang belum dirasakan semua  kalangan dan sebagainya.  Tahun-berganti tahun,  tanpa ada perubahan yang signifikan, bahkan demokrasi tengah sakarotul maut.  Mulai hilang kepercayaan ummat terhadap sistem demokrasi sekuler. Hal ini wajar , sebab sistem perpolitikan hari ini nyatanya tidak mampu menjawab persoalan yang ada. 

Menyerukan Khilafah tidak sekedar untuk mengenangnya  secara historis pernah tegak. Namun pentingnya khilafah selain karena wajib secara syar’i juga berkaitan dengan relevansinya terhadap persoalan hari ini. Sistem demokrasi sekuler tidak bisa diharapkan untuk bisa memelihara urusan manusia. Justru banyak bukti menunjukan kebobrokannya, karena tidak lagi menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Hari ini, ummat butuh sebuah sistem kepemimpinan yang bersih dari segala motif kepentingan. Sistem yang menutup pintu para koruptor berkuasa, dan memberi hukuman yang berat bagi yang terlibat didalamnya. Butuh sistem yang hanya memilih pemimpin dengan standar taqwa, yang menetapkan hukum hanya berdasar Syariat Islam saja. Sehingga tidak ada ruang individu menguasai kepemilikan umum, ummat mendapat hak atas kepemilikan tersebut. 

Umat butuh kepemimpinan yang menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan primer yang pemenuhannya dijamin oleh negara, menjadikan akidah Islam sebagai landasannya sehingga pemikiran asing akan dibuang jauh-jauh dari kepala generasi muslim. Pendidikan yang demikian yang akan membentuk kepribadian islami yang akan membentengi dari pergaulan yang rusak. 

Lantas dalam sejarah adakah sistem kepemimpinan yang mampu mewujudkan semua itu selain Khilafah Islamiyah? Ternyata tidak. Hanya Khilafah yang telah terbukti selama 1400 tahun memimpin dengan menegakkan hukun-hukum sang pencipta yang memberi rahmat kepada seluruh alam. Sungguh realita hari ini semakin menunjukan bahwa dunia butuh khilafah. Wallahu A’lam.[]

Oleh : Rohmah Suntari S.Pd 
Alumni UIN Sunan Kalijaga

Posting Komentar

0 Komentar