Resesi Mengancam, Rakyat Terancam



Perekonomian dunia berada di ambang ketidakpastian akibat pandemi Covid-19, negara maju yang terancam dan terpukul di antaranya: Singapura, Jepang, Jerman, Italia, Perancis, dan Hong Kong. 

Begitu juga dengan perekonomian dalam negeri yang diprediksi kuat pada kuartal II-2000 ini mengalami kontraksi. Belum lagi isu resesi yang berada di depan mata, melihat negara tetangga–Singapura–sudah menelan pil pahit akibat pandemi.

Resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.
Dalam peluncuran Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, tak ada jaminan bagi Indonesia terbebas dari resesi. Terlebih ketika infeksi Covid-19 terus bertambah banyak. Presiden sudah mengingatkan bawahannya agar siaga serempak.

Direktur eksekutif  Indef, Tauhid Ahmad menjelaskan, resesi dapat dilihat masyarakat dari beberapa tanda, antara lain: pendapatan yang menurun, kemiskinan bertambah, penjualan khususnya motor dan mobil anjlok, dan lain sebagainya.
“Misalnya mulai triwulan III-2020, kalau pasar kebutuhan pokok saya kira tidak ada perubahan. Tapi kalau mal-mal masih sepi yaitu menunjukkan resesi. Jadi masyarakat terlihat jelas mulai banyak yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya,” kata Tauhid kepada detikcom, Sabtu (18/7/2020)

Dampak yang ditimbulkan resesi sangatlah buruk meskipun itu adalah hal yang biasa terjadi dalam siklus perekonomian. Melansir The Balance, ada lima indikator ekonomi yang dijadikan acuan suatu negara mengalami resesi, yakni: PDB riil, pendapatan, tingkat pengangguran, manufaktur, dan penjualan ritel.

Negara sekelas Amerika Serikat saja sudah mengalami puluhan kali resesi. Melansir Intosvedia, Amerika Serikat–negara dengan nilai ekonomi terbesar di muka bumi–sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854. Sementara jika dilihat sejak tahun 1980, negeri Paman Sam mengalami 4 kali resesi termasuk yang terjadi saat krisis finansial global 2008.

Bagaimana dengan Indonesia? Jawabannya, negara tercinta kita pernah mengalami resesi di tahun 1998, terbilang parah. Ada kemungkinan risiko tersebut akan terulang lagi di tahun ini dikarenakan virus Covid-19 meskipun diprediksi tidak akan seberat di tahun 1998, di mana saat itu Indonesia mengalami depresi akibat PDB yang minus dalam 5 kuartal beruntun. Sepanjang tahun 1998, PDB Indonesia mengalami kontraksi hingga 13,02%.

Itulah gambaran kecilnya sebuah kerumitan yang dihasilkan oleh perekonomian kapitalis. Resesi menjadi hal yang lumrah dan kerap terjadi meskipun dianggap menjadi hal yang wajar dalam pilar ekonomi hari ini. Apakah ada solusi yang fundamental sehingga resesi tidaklah menjadi bukti rapuhnya sendi perekonomian dalam negeri begitu pun di seluruh dunia?

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat harus berhemat mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat selama resesi. Sebab tidak ada yang mengetahui akan berlangsung sampai kapan jika resesi benar terjadi.

“Kurangi juga belanja yang tidak sesuai kebutuhan dan fokus pada pangan serta kebutuhan kesehatan . Jadi jangan latah ikut gaya hidup yang boros. Pandemi mengajarkan kita apa yang bisa dihemat ternyata membuat daya tahan keuangan personal lebih kuat,” kata Bhima kepada detikcom, Jumat (17/7/2020).

Benarkah itu menjadi jalan keluar yang mendasar atau hanya sekadar parsial? Tentu jawabannya solusi yang ditawarkan di atas hanyalah jalan yang tidak berpengaruh besar mencerabut krisis dari akarnya. Sebelum ada wabah corona, dunia sudaha terancam krisis ekonomi. IMF pernah menyatakan pada tanggal 16 Oktober 2019 bahwa gerak laju perekonomian dunia berada pada kondisi terburuk sejak krisis keuangan global.

Solusi resesi sesungguhnya bukanlah hanya menabung dan menghindari gaya hidup boros, meskipun semua adalah ciri khas yang dibangun oleh Islam dalam mengajarkan hal-hal baik. 

Namun, semua itu hanya bersifat individual semata, tidak akan cukup untuk menggulingkan problematika dalam ruang yang bergerak secara sistemik dan universal. Mungkinkah rakyat miskin mampu menabung? Jangankan menabung atau pun hidup boros, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja tidak bisa. Mau berhemat secermat apa lagi, memenuhi kebutuhan pangan saja tidak sesuai dengan standardisasi yang ada.

Problematika perekonomian yang terjadi hari ini hanya bisa dientaskan dengan solusi yang integral dan sistemis, yakni sistem ekonomi Islam yang memiliki karakteristik tahan krisis karena dibangun dari dasarnya secara kokoh dan bersandar pada ekonomi riil. Bahkan pengaturan pun menciptakan penataan yang mendalam terkait kepemilikan ekonomi. Sehingga terbagi dalam tiga bagian: kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara.

Pengklasifikasian ini sangatlah signifikan sehingga sanggup menghindarkan dari hegemoni atau dominasi kekuasaan dalam bidang ekonomi.Tidak akan berlaku sekelompok pihak yang kuat menindas kaum yang lemah. Tidak akan ada perampasan kepemilikan umum oleh swasta, baik lokal maupun asing. Kita bisa melihat hari ini bagaimana monopoli swasta menguasai sumber daya alam negeri ini, sehingga para pemain kapitalis punya kekuatan yang besar  dan mampu menguasai negara. 

Islam dalam pengaturan ekonominya memiliki pilar yang luar biasa memberikan penjagaan yang utuh pada umat tentang pendistribusian harta kekayaan oleh individu, masyarakat, dan negara. Jaminan pemenuhan kebutuhan dasar pun bukan sekadar iming-iming semata, tetapi fakta yang bisa dirasakan secara nyata, termasuk pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier sekalipun.

Solusi Islam tidaklah parsial, krisis ekonomi bisa ditangkal dengan maksimal. Namun, yang jadi pertanyaan, maukah kita bahu membahu dan berjuang mewujudkannya? Atau mau tetap mengorbankan diri berkubang dalam sistem yang sudah benar-benar tak mampu memberikan perlindungan dan solusi untuk umat?

Islam dirancang sebagai rahmat untuk seluruh umat, termasuk pengaturannya dalam bidang ekonomi agar kesejahteraan menjadi hal nyata bukan fatamorgana. Semua akan terasa lebih bernilai, tidak memiskinkan dan menciptakan penderitaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan, tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (TQS. al-Anbiyaa’: 107).
“ ... Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu ....” (TQS. al-Baqarah: 185). Wallahu a’lam bishshawab.[]


Oleh: RAI Adiatmadja
Founder Komunitas Menulis Buku Antologi

Posting Komentar

0 Komentar