TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Refleksi 1 Muharram 1442 H : Demokrasi Gagal Wujudkan Kesholihan Sosial, Khilafah Berhasil Wujudkan Kesholihan Sosial



Momen Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram tentunya jadi momen istimewa bagi umat Islam. Selain mengenang peristiwa hijrah Rasul Saw dari Mekah ke Madinah, yang lebih penting adalah melakukan refleksi hijrah itu sendiri. Hijrah sebagai peristiwa perpindahan tempat dan keadaan dari yang buruk menjadi baik, dan dari yang tidak islami menuju yang islami. Mestinya keadaan umat Islam dari waktu ke waktu menjadi semakin lebih baik, lebih makmur dan sejahtera. Bukankah recharge semangat hijrah yang notabenenya adalah semangat perubahan terus menerus ada, bahkan menjadi irama hidup umat Islam setiap momen 1 Muharram?!

Esensi hijrah adalah perubahan. Sedangkan berpikir tentang perubahan itu sangatlah berat. Berpikir perubahan tidaklah disandang oleh mereka yang malas dan penakut. Berpikir perubahan hanya bisa dijalankan dengan modal keyakinan dan keberanian. 

Terdapat 2 prasyarat terjadinya perubahan yakni, kesadaran akan fakta yang rusak dan kesadaran akan fakta baru sebagai pengganti fakta yang rusak. Saat ini umat Islam hidup dalam pengaturan sistem Demokrasi yang berasas sekulerisme. Sekulerisme itu memisahkan agama (Islam) dari kehidupan. Realnya, memisahkan Islam dari pengaturan kehidupan berpolitik dan bernegara. Walhasil halal dan haram tidak menjadi ukuran. Kebahagiaan materi menggantikan kebahagiaan meraih ridho Allah SWT. Lantas, darimana rumusnya Demokrasi bisa mewujudkan kesholihan individual maupun sosial?

Jelas Demokrasi tidak akan mampu mewujudkan keshalihan. Yang ada, Demokrasi telah menjauhkan umat dari ajaran Islam yang mulia. Kalau bukan karena aqidah Islam, umat akan terjun bebas tanpa pengerem melesat menuju kehancurannya lebih mudah. Sekarang kondisi umat begitu menyedihkan. 

Tidak lagi bisa dibanggakan dari aspek pendidikannya. Bukankah adanya pesta seks oleh 37 pasangan ABG SMP yang baru - baru ini terjadi, sudah parah mencoreng dunia pendidikan?? Tidak perlu mencari pembelaan ini dan itu. Kejadian gaul bebas, zina dan tawuran di kalangan pelajar sudah cukup menjadi bukti bahwa pendidikan sekuler itu bobrok. Betul, kita memang tidak bisa menutup mata ada individu - individu pelajar yang mulai sadar mempelajari agamanya dengan baik. Dan fenomena tersebut sangat langka. Pendidikan sekuler betul - betul melahirkan kerusakan sosial, bukan kesalehan sosial.

Begitu pula kebijakan ekonomi hanya mencerminkan kebrutalan penguasa atas rakyatnya. Penyerahan kekayaan alam kepada korporasi, penarikan iuran BPJS bahkan menaikkannya, iuran Tapera, liberalisasi listrik yang menyebabkan membengkaknya tagihan listrik, utang negara yang tembus sekitar Rp 6000 trilyun (per Juni 2020), monopoli perdagangan lewat kartel, pengesahan UU Minerba yang jadi bancaan korporasi, korupsi makin menjadi dan lainnya, semua itu hanya mencerminkan hilangnya keshalihan sosial para penyelenggara negara. Hal demikian diikuti pula oleh hilangnya keshalihan sosial di tengah rakyatnya.

Rakyat menjadi egois, individualis dan materialistik. Di tengah himpitan kehidupan yang semakin sulit, bekerja hingga tidak kenal waktu menjadi rutinitas sehari - hari. Orang tua merasa tenang dengan hanya mencukupi putra - putrinya dengan berbagai fasilitas hidup. Akibatnya anaknya kurang perhatian dan menjadi broken home. Berbagai tindakan menyimpang dilakukan sebagai penyalurannya.Demikianlah sedikit potret kerusakan kehidupan dalam sistem Demokrasi.

Tentunya manusia secara fitrah mendambakan kehidupan yang lebih baik. Dengan aqidah Islam yang melekat di dadanya, umat Islam akan senantiasa mempunyai energi untuk mengubah keadaannya menuju kebaikan. Sedangkan kebaikan hanya akan lahir dari kehidupan yang diatur oleh Islam dalam seluruh aspeknya tanpa terkecuali. Hal demikian harus senantiasa didengungkan di tengah - tengah masyarakat. Penerapan Islam oleh Khilafah yang akan melahirkan kehidupan yang aman sentosa. 

Ajaran Islam telah menekankan adanya kesinambungan keshalihan individual dengan keshalihan sosial. Di dalam Surat al - Ashr ayat ke-3, Allah SWT tidak memandang cukup adanya individu yang shalih, akan tetapi dibarengi individu tersebut melakukan aktifitas saling menasehi dalam Islam dengan kesabaran. Artinya dakwah itu menjadi sarana untuk mewujudkan keshalihan sosial. 

Beberapa contoh nash Syar'ie yang berbicara tentang keshalihan sosial di antaranya berikut ini. Dalam beberapa hadits dinyatakan yang artinya: "Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu mau menolong saudaranya".

"Bukanlah termasuk golongan kami, siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang sementara ia mengetahui tetangganya kelaparan".

"Maka demi Allah, sungguh Alloh memberikan hidayah kepada seseorang lantaran seruanmu, itu lebih baik bagimu dari unta merah" . Dan masih banyak nash lain yang berbicara tentang keshalihan sosial. 

Kalau kita perhatikan dengan seksama bahwa terwujudnya keshalihan sosial dalam nash - nash tersebut selalu dibingkai oleh keimanan kepada Allah SWT. Maknanya adalah dengan keimanan itulah menjadi landasan terwujudnya keshalihan individu yang selalu bergerak membangun keshalihan sosial. Dan keshalihan sosial itu juga akan mampu mempengaruhi keshalihan individu. Kontrol negara dan masyarakat mampu mengkondisikan keshalihan individu.

Bukti sejarah Khilafah telah mewujudkan keshalihan individu dan sosial. Saat Khalid bin Walid pulang dengan pasukannya dari medan Mu'tah, rakyat Madinah di sepanjang jalanan kota mengatakan agar lebih baik pasukan Islam kembali membawa kemenangan dan atau syahid. Adalah Maiz dan Ghomidiyah yang bersedia untuk dirajam oleh Rasulullah Saw, tanpa mereka ragu. Masyarakat Madinah pun membantu proses perajaman mereka. Landasan mereka adalah aqidah Islam. Mereka ingin membantu saudaranya terbebas dari dosa zina. Sungguh sebuah potret kehidupan yang berpadu dengan serasi antara keshalihan individu dan keshalihan sosial. 

Kondisi pasar Madinah di masa Umar ibn Khaththab yang dikontrol oleh qadhi hisbah yakni Syifa, menjadikan para pedagang harus mengetahui tata cara berdagang dalam Islam. Di masa Umar bin Abdul Aziz pun demikian. Para muzakki dengan segera mengeluarkan zakatnya. Hingga Sang Khalifah pun kesulitan mencari mereka yang berhak untuk menerima zakat. Demikianlah sekelumit potret kehidupan Islam dalam naungan al - Khilafah. 

Oleh karena itu, mari kita jadikan 1 Muharram 1442 H sebagai refleksi untuk merenungi dan menyadari kewajiban kita bersama mewujudkan tatanan kehidupan Islam dalam naungan al - Khilafah. Semoga dengan bersama menyaksikan film Jejak Khilafah di Nusantara, semakin membuncah kerinduan dengan tegaknya al - Khilafah. Hingga pada akhirnya yang dibutuhkan adalah gerak perjuangan bersama umat dalam menegakkannya. []


Oleh: Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 

Posting Komentar

0 Komentar