Prostitusi Online di Kalangan Artis Bikin Miris



Belum lama ini, lagi publik dikejutkan dengan maraknya artis yang tersandung kasus prostitusi online. Masih ingat dibenak kita kasus artis yang sangat menghebohkan jagad dunia hiburan. Kasus tertangkapnya artis peran VA dalam dugaan prostitusi online menjadi salah satu yang paling menghebohkan. 

VA ditangkap di hotel kawasan Surabaya pada 5 Januari 2019 lalu. Sebelum ditangkap, VA sempat membuat sebuah status yang menjadi buah bibir publik, yakni “menjemput rezeki”. Lanjut, artis H salah satu selebritas yang terciduk lantaran dugaan kasus prostitusi online. Diamankan oleh Satreskrim Polrestabes Medan pada Minggu 12 Juli 2020. Yang terbaru, artis FTV yang berinisial VS ditangkap di salah satu hotel bintang empat di kawasan Telukbetung Selatan pada Selasa 28 Juli 2020. Dengan barang bukti berupa uang tunai Rp 15 juta dan transfer rekening sebesar Rp 15 juta. (Kompas.com, 30/7)

Kasus Prostitusi online bukanlah hal yang baru di Indonesia. Bahkan, prostitusi ini bisa tumbuh subur di dalam negeri. Terbukti dari tahun ke tahun kasus prostitusi tidak pernah sepi dari pemberitaan. Meski, sudah dipastikan yang ada di lapang jumlahnya jauh lebih besar dari yang tertangkap oleh polisi.

Di era digital seperti saat ini, pekerja prostitusi tidak ingin ketinggalan dalam memanfaatkan teknologi yang memang sudah disediakan. Untuk melancarkan aksinya dan memudahkan pekerjaan mereka, maka diperlukan media yang mampu mendukung pekerjaan tersebut. Seperti : Website, Forum, Jejaring sosial, Aplikasi. 

Dulu kita menganggap lokalisasi adalah masalah utama di prostitusi. Kita berpikir bahwa jika menutup lokalisasi, prostisusi akan berkurang. Tapi sebenarnya hari ini telah datang masalah baru yaitu prostitusi tanpa batas-batas geografis ialah prostitusi online.

Di Indonesia sendiri sebuah perbuatan prostitusi antar si pelacur (pekerja seks komersial) dengan pelanggannya bukanlah tindak pidana menurut KUHP Indonesia, sehingga segala bentuk kegiatan prostitusi yang dikelola atau di-manage sendiri oleh dirinya dengan pelanggannya tidak bisa dikategorikan sebagai delik yang diancam dengan hukuman termasuk juga pelacuran online yang dikelolanya sendiri dengan pelanggan/pelanggan-pelanggannya. (Kompasiana.com 8/1/2019)

Karena pelacur dan pengguna jasa pelacur jelas tidak dikenai pidana hukum di Indonesia, tetapi hanya mucikari yang bisa dikenai pidana. Sebagaimana dalam KUHP Pasal 296 hanya menentukan hukuman bagi mucikari yaitu setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain (pelacuran), dan menjadikannya sebagai pencaharian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 4 bulan. Islampos (2018)

Apalagi mereka yang tertangkap adalah seorang artis yang sering muncul di televisi. Yang itu bisa dilihat oleh semua orang dari remaja hingga orangtua. Lantas jika hukum yang dipakai tidak memberikan efek jera terhadap pelaku prostitusi, bisa jadi remaja yang menonton memaklumi kegiatan tersebut dan menjadikan hal itu sebagai sebuah pergaulan yang kekinian. 

Di dalam Islam, praktik prostitusi jelas haram. Islam hanya membolehkan seseorang melakukan hubungan seksual dalam bingkai pernikahan. Pernikahan inilah yang menjadikan ikatan sehingga sesuatu yang awalnya haram menjadi halal dan berpahala. Islam mengatur bahwasannya pelacuran adalah perbuatan zina.

Dalam surah an-Nur ayat 33 ditentukan larangan perdagangan orang untuk dilacurkan atau perdagangan pelacuran. Dan dalam surah an-Nur ayat 2 ditentukan hukuman cambuk 100 kali bagi pezina laki-laki dan pezina perempuan yang terbukti melakukan zina.

Dalam hadis Rasulullah saw ditentukan hukuman rajam bagi pezina laki-laki dan pezia  perempuan yang pernah menikah atau pezina yang sedang terikat dalam perkawinan (muhshan dan muhshanah).

Penyelesaian prostitusi membutuhkan diterapkannya kebijakan yang didasari syariat Islam. Harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait pelacuran atau prostitusi.

Akan tetapi pelaksanaan hukum hadd bagi pezina hanya bisa dilaksanakan oleh institusi negara, tidak bisa dilakukan oleh individu ataupun kelompok masyarakat. 

Sudah saatnya Negara ini mengambil Islam yang bisa mengatur tata kehidupan secara menyeluruh. Terlebih kita ketahui bahwa zina dan riba adalah penyebab terbesar datangnya murka Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi saw.: "Jika zina dan riba telah merajarela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri" (HR al-Hakim, Al-Mustadrak, 2/42). 

Sungguh miris keadaan sekarang ini. Setiap hari kita disajikan dengan berita-berita yang mengelus dada. Belum selesai masalah kemaren timbul lagi masalah baru. Beginilah dampak yang terjadi jika dasar hukum yang dipakai bukan syariat Islam. Tidak menyelesaikan masalah secara keseluruhan tapi hanya sebagian. Alhasil masalah akan berulang lagi dan lagi. 

Maka sudah sepatutnya kita mengambil hukum Islam dan meninggalkan hukum jahiliyah dari kapitalis-sekuler. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Maidah 49-50:

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik" 

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?". 

Wallahu a'lam. 

Oleh : Khoirotiz Zahro V, S.E.

Posting Komentar

0 Komentar