Pramuka, Praja Muda Bedah Rumah

Sumber foto: okezone.com

Pramuka adalah kegiatan kemandirian legendaris. Pada tahun 1950-1960, gerakan Scouting, cikal bakal Pramuka di Indonesia memang sangat berkembang pesat, hingga melenceng kepada dimanfaatkannya  beberapa kelompok Scout menjadi gerakan underbow partai politik dan alat politik pada masa itu. 

Melihat itu Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno,  akhirnya membubarkan gerakan kepanduan yang ada di Indonesia untuk kemudian dijadikan satu organisasi. Organisasi ini diberi nama Gerakan Pramuka. Peresmiannya diikuti oleh pengesahan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno (sejarahlengkap.com 11/10/16).

Kepramukaan pada akhirnya fokus pada pembinaan kemandirian, ketelitian untuk skill life bertahan hidup di alam. Dan ternyata pergeseran tujuan Pramuka hari ini kembali terjadi. Sebagaimana dilansir berita Jatim.com, tanggal 5 Agustus 2020,  Kwartir cabang (Kwarcab) Pramuka Kabupaten Sidoarjo kerjasama dengan Kwarda Pramuka Jawa Timur membantu bedah rumah warga yang kurang layak huni.

Program “Pramuka Peduli Sesama” yang dimulai tanggal 4 Agustus dan berakhir tanggal 7 Oktober 2020. Setiap rumah akan mendapatkan bantuan Rp 50 juta. Total ada tujuh rumah yang mendapat bantuan bedah rumah.

Kepala Kwarcab (Ka Kwarcab) pramuka kabupaten Sidoarjo H. Nur Ahmad Saifuddin meninjau langsung kondisi rumah Sugiono, Desa Tanjegwagir, Kecamatan Krembung, salah satu yang beruntung untuk rumahnya diperbaiki. 

Mengapa Pramuka dilibatkan dalam kegiatan ini? Tidak ada yang salah memang, sebab membantu hukumnya Sunnah, bahkan wajib jika memang dalam keadaan darurat antara hidup dan mati. Namun untuk dilibatkan dalam kegiatan bedah rumah sungguh keterlaluan. Jelas bukan pada kewenangannya.

Secara tak langsung Pramuka mengambil alih tugas pemerintah dalam menyediakan perumahan yang layak. Tinggal menggelontorkan dana dan kemudian mencari voluntier guna menyelesaikannya. 

Bertahan dan mandiri di alam tidak sama dengan pembangunan rumah yang sebetulnya tugas negara. Sebab perumahan adalah salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh negara. Alasan berikutnya adalah bahwa posisi negara jika dalam Islam adalah periayah ? Pengurus) 

Rasulullah bersabda : "Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Makna hadis diatas sangatlah gamblang, mengurusi rakyat adalah prioritas penguasa, dengan segala potensi yang ada, negara harus berusaha maksimal mewujudkan perumahan yang layak huni dan murah yang mampu terjangkau oleh masyarakat, berikut juga diperhatikan tata letak agar tidak menzalimi kepentingan umum. 

Masalah pendanaan, tentu butuh sesuatu solid dan dalam jumlah yang besar, lantas darimana darimana negara mendapatkan dana guna membangun perumahan yang layak? Baitul maal jawabannya, samasekali tak sama dengan APBN hari ini yang rentan defisit sebab pemasukan utamanya adalah utang berbasis riba dan pajak.

Dan jika kegiatan ini dalam rangka peduli sesama, rasanya lebih baik menyerukan perubahan menuju perbaikan hakiki, yaitu ganti kapitalisme. Sebab program peduli sesama ini hanya buang energi dan tak akan menyentuh perbaikan kesejahteraan secara hakiki. Wallahu a' lam bish showab.[]


Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar