Polemik POP, Apakah Bisa Meningkatkan Pendidikan Indonesia?



Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi seluruh umat manusia. Dengan Pendidikan yang baik dan bermutu, maka akan terciptalah generasi-generasi unggul dan intelektual. Pengertian Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Secara Etimologi, kata Pendidikan itu berasal dari Bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, Pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. (Wikipedia)

Bicara tentang fakta Pendidikan di Indonesia, nyatanya sungguh miris dan sangat mengecewakan. Di Indonesia, kegiatan contek menyontek saat ujian, itu sudah biasa. Murid nakal dan tidak bisa ditegur juga sudah biasa. Pacaran di lingkungan sekolah, pun itu juga sudah biasa. Bahkan ada juga orang berani melawan gurunya sendiri. Ya, itu semua sudah terjadi berulang-ulang kali di negara kita ini. 

Tidak hanya soal murid, ternyata tenaga pendidik di Indonesia pun masih banyak sekali yang tidak kompeten. Banyak guru yang tidak mengajar dengan sepenuh hati. Banyak juga guru yang tidak memiliki kemampuan dalam mengajar sehingga kesulitan untuk mentransfer ilmu kepada murid-muridnya.

Kemudian tidak hanya soal murid dan guru. Ternyata di Indonesia tercinta ini masih banyak sekali wilayah-wilayah terpencil yang tidak tersentuh nikmatnya bersekolah dengan nyaman. Banyak sekolah-sekolah yang tidak layak lagi untuk dijadikan tempat belajar mengajar. Banyak juga guru dan murid yang harus rela berjalan jauh untuk pergi ke sekolah dikarenakan jarak yang cukup jauh dan kondisi jalanan yang buruk. Dan banyak juga anak-anak yang harus putus sekolah karena orang tuanya sudah tidak sanggup lagi untuk membiayai sekolahnya.

Semua itu sangatlah wajar. Karena menurut survei kualitas Pendidikan yang dikeluarkan oleh PISA (Programme for International Student Assessment), Indonesia menempati peringkat ke-72 dari 77 negara. Pengamat menilai kompetensi guru yang rendah dan sistem pendidikan yang terlalu kuno menjadi penyebabnya. Ini data pada tanggal 3 Desember 2019 yang lalu. Data ini menjadikan Indonesia bercokol di peringkat enam terbawah, masih jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. (detiknews.com, 6 Desember 2019)

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang Program Organisasi Penggerak (POP) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Mendikbud mengatakan bahwa Program Organisasi Penggerak adalah episode keempat dalam kebijakan Merdeka Belajar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Organisasi Penggerak adalah program pemberdayaan masyarakat secara massif melalui dukungan pemerintah untuk peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah berdasarkan model-model pelatihan yang sudah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. (kompas.com, 12 Maret 2020)

Sebelumnya, tiga organisasi besar Indonesia yaitu Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bergabung dalam POP ini, tetapi kemudian tiga organisasi penggerak ini memilih untuk mundur. Pengamat pendidikan asal Surabaya, Moch Isa Anshori, turut menanggapi mundurnya PGRI, NU dan Muhammadiyah dari Program Organisasi Penggerak (POP) oleh Kemendikbud. Isa menuturkan, mundurnya ketiga organisasi besar ini, menandakan ada kesepakatan yang tidak sejalan. (tribunnews.com, 26 Juli 2020) 

Mundurnya ketiga organisasi penggerak tersebut bukanlah tanpa alasan. Namun menurut mereka, terdapat ketidakjelasan atau tidak transparannya seleksi organisasi peserta POP dan adanya beberapa peserta yang diragukan kemampuannya dalam dunia pendidikan karena tidak diketahui rekam jejaknya. Selain itu, waktu pelaksanaan program juga bisa dibilang sangat singkat, padahal anggaran dana yang dikeluarkan sangat besar untuk program ini. Tidak tanggung-tanggung, Mendikbud Nadiem pada Maret lalu memberikan anggaran Rp 595 Miliar untuk POP. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim berharap organisasi penggerak seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dapat kembali bergabung dalam POP. Hal tersebut bertujuan agar organisasi masyarakat tersebut bisa bekerja sama kembali disektor pendidikan. Adapun dasar hukum pelaksanaan POP adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 32 Tahun 2019 tentang Pedoman Umum Penyaluran Bantuan Pemerintah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada hakikatnya, POP ini memiliki tujuan yang bagus yaitu untuk meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah melalui berbagai pelatihan kompetensi. POP ini sangat diharapkan dapat meningkatkan kompetensi 50.000 guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan di 5.000 PAUD, SD, dan SMP, selama 2020-2022. POP rencananya akan melibatkan beberapa ormas dan relawan pendidikan yang memiliki pengalaman dan rekam jejak yang baik dalam implementasi program pelatihan guru dan kepala sekolah. Namun, setelah berjalannya POP ini, ternyata perlu banyak hal yang harus dievaluasi kembali. Akhirnya, pada 24 Juli 2020 yang lalu, Mendikbud Nadiem Makarim memutuskan untuk melakukan evaluasi lanjutan untuk menyempurnakan POP ini.

Menurut Ustadzah Noor Afeefa, lahirnya POP tidak bisa dilepaskan dari paradigma kekuasaan dalam sistem kapitals neoliberal, yakni Reinventing Government. Dengan paradigma ini, negara hanya berfungsi sebagai regulator, bukan penanggung jawab dan penyelenggara langsung urusan kebutuhan publik. Disamping itu, lanjutnya, diharuskan pula adanya distribusi fungsi, wewenang, dan tanggung jawab negara kepada masyarakat dan swasta. Paradigma inilah yang diimplementasikan dalam problematic pendidikan, khususnya kompetensi guru. Problem ini dianggap sebagai tangguung jawab bersama. Namun, pemerintah hanya sebagai regulator (pembuat regulasi global) dan pemasok dana “seperlunya”. Selebihnya akan diserahkan kepada masyarakat dan swasta sebagai bentuk partisipasi pembangunan. (muslimahnews.com, 29 Juli 2020)

Pendidikan pada hakikatnya adalah tanggung jawab penuh dari negara untuk masyarakatnya. Konsep “berbagi peran” dalam POP ini sejatinya sangat menyalahi syari’at Islam. Karena dalam Islam, negaralah yang mengemban amanah menjadi pelaksana langsung dalam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakatnya, pun dalam hal ini termasuk juga masalah pendidikan. Negara jelas tidak boleh melemparkan tanggung jawab ini kepada swasta ataupun kepada masyarakat.

Jika kita ingin mencontoh seorang pemimpin dalam tanggung jawabnya terhadap pendidikan, patutlah rasanya kita mencontoh Sultan Abdul Hamid II, seorang benteng terakhir Khilafah Turki Utsmani. Seperti yang diceritakan dalam buku ‘Di Balik Runtuhnya Turki Utsmani’ karya Ustadz Deden Heriansyah, bicara tentang Sultan Abdul Hamid II, rasanya akan banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dalam perjalanan kehidupan beliau. 

Selain karena beliau adalah seorang yang mencintai ilmu pengetahuan, namun beliau juga menjadikan Islam sebagai prinsip hidup yang tidak bisa ditawar-tawar. Di masanya, Eropa saat itu sedang dalam masa kebangkitan dengan sains dan teknologi, tetapi hal itu tidak membuat Sultan Abdul Hamid II silau dengan gemerlapnya.

Sultan Abdul Hamid II selalu berusaha mendudukkan peradaban Barat dengan adil. Yang baik diambil dan yang buruk dibuang. Cara pandang yang adil ini justru yang mengantarkan Khilafah Turki Utsmani pada masa itu mendapatkan perkembangan pesat di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II. Benjamin C. Fortna dalam bukunya yang berjudul ‘Imperial Classroom: Islam, The State and Education in the Late Ottoman Empire’ menuliskan bahwa sistem pendidikan di masa kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II adalah “tremendous expansion in the number of state school in the empire”. Kemajuan besar-besaran dalam berbagai kualitas layanan pendidikan pada saat itu.

Saat kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II, terdapat berbagai macam jurusan ilmu pendidikan. Ada sekolah hukum, sekolah tinggi keuangan, sekolah tinggi dagang, sekolah dokter hewan, sekolah tinggi kesenian, sekolah tinggi polisi juga ada. Di zamannya pula yakni pada tahun 1900, Universitas Turki modern, Darul Funun yang kemudian dikenal dengan Universitas Istanbul didirikan.

Tentunya, selain dapat menciptakan generasi-generas unggul, terdapat guru-guru, tenaga pendidik yang sangat berkompeten didalamnya. Tenaga kependidikan tersebut benar-benar mendidik murid-muridnya dengan baik dan benar sesuai dengan syari’at Islam. 

Yang patut di contoh dari Sultan Abdul Hamid II adalah, beliau menjadikan sistem pendidikan tetap menegakkan ilmu-ilmu syari’ah dalam metode pembelajarannya. Beliau adalah seorang yang sangat dekat dengan para ulama, berkawan dengan kelompok-kelompok Islamis, pembela persatuan Islam. Prinsipnya mendorong beliau untuk menciptakan sebuah atmosfer belajar yang terangkum dalam tiga poin antara lain :

Tidak terlalu memfokuskan pada materi sastra dan sejarah umum dari program sekolah. Sebab ini justru mengantarkan anak-anak muda muslim pada rasa cinta pada bangsa lain yang berbeda pandangan hidup dengan Islam.

Menjadikan Tafsir, Fiqh, Akhlak sebagai materi pelajaran di sekolah-sekolah Utsmaniyah.

Mencukupkan dan fokus pada belajar sejarah Islam, termasuk di dalamnya sejarah kesultanan Utsmaniyah.

Dari sisi lain, kita pun masih harus ingat bahwa Islam yang Berjaya lebih dari 1300 tahun lamanya, banyak sekali melakukan kontribusi di dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Selama masa kejayaan Islam, banyak bermunculan para cendikiawan muslim yang melakukan terobosan-terobosan baru yang akhirnya sangat berpengaruh bagi dunia.

Solusi dari berbagai macam problematika kehidupan kita sebenarnya sudah ada sejak dulu. Yaitu Islam. Tapi hanya kita saja yang masih menyombongkan diri dengan begitu percaya diri membuat aturan-aturan sendiri yang sama sekali tidak sesuai dengan syari’at Allah. Islam, adalah sebuah agama yang sangat sempurna. Bahkan Islam bukan hanya sekedar agama, namun Islam adalah sebuah ideologi, sebuah pandangan hidup bagi seluruh umat manusia. Sudah terbukti kesuksesannya selama lebih dari 1300 tahun. Islam lah solusi terbaik bagi masalah-masalah kita. Allahu’alam bishshawwab.[]

Oleh : Widya Paramita 
Komunitas Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar