TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pesan Muharram



Ada yang berbeda di hari pertama penanggalan Hijriah kali ini, yaitu penayangan film dokumenter 'Jejak khilafah di Nusantara' (JKDN). Sebagai sebuah sekuel sejarah, film tersebut menyajikan sudut pandang atau point of view yang berbeda dibanding sinema lain yang pernah ada. Maka kehadiran film ini, berhasil mengundang perhatian untuk menikmati perhelatan akbar.

Berbagai kalangan ikut ambil bagian menyaksikannya, baik ulama, pelajar, praktisi pendidikan, tokoh masyarakat dan lain sebagainya. Menjawab kerinduan umat akan sosok pelindung yang akhir-akhir ini selalu disebut-sebut namanya. Menjadi buah bibir di mana-mana. Semakin dihujat dan dicela, justru semakin dicari tahu keberadaannya.

Inilah keunikan aktivitas dakwah, laksana membangun pemikiran umat. Memasang batu bata selapis demi selapis agar terbentuk bangunan yang kokoh. Menjadi pemikiran yang mantap berlandaskan akidah. Berbagai fakta baik atau buruk, menjadi jalan masuk untuk terus mendakwahkan Islam. 

Seperti itulah sajian film tersebut. Meski sejarah bukanlah subyek pemikiran, artinya tidak dijadikan sumber hukum, akan tetapi sebagai obyek pemikiran (mawdhu'u tafkiri), ia menjadi bahan pendukung untuk memahami Islam. 

Sayangnya tidak mudah menonton film yang satu ini. Pemblokiran yang terjadi berkali-kali, adalah bukti bahwa ada pihak tertentu yang tidak ingin film ini dilihat banyak orang. Meski ada yang penasaran dan meragukan kredibilitas film tersebut, namun tidak menyurutkan semangat umat. Terbukti 11,8 ribu Tweet #Jejak Khilafah di Nusantara merajai jagad media sosial. 

Bahkan sanggahan Prof Peter Carey, seorang Jawanis asal Inggris, yang disampaikan asistennya Cristopher Reinhart telah menegaskan tidak adanya hubungan antara kerajaan Islam di Jawa dengan Turki Utsmani, tetap tidak menghentikan umat menonton film tersebut. Film epik sejarah yang satu ini, memang dirindukan ribuan manusia.

Pakar sejarah tentu tidak hanya Carey, masih banyak yang mendukung kebenaran adanya hubungan Khilafah di masa lalu dengan Nusantara. Salah satunya adalah Ketua Takmir Masjid Keraton Kasunanan Surakarta, KH Muhammad Muchtarom. Menurut beliau, adanya Masjid Agung makin mempererat hubungan Kesultanan Utsmaniyah dengan keraton Surakarta khususnya kaum Muslimin saat itu. 

Utsmaniyah bahkan kerap mengirimkan utusan-utusannya baik untuk menjalin hubungan ekonomi maupun dengan mengirimkan para cendekiawan muslim untuk mensyiarkan Islam. Pada masa Pakubuwana III, Utsmaniyah dipimpin Sultan Mahmud I (1730-1754), Sultan Osman III (1754-1757), Sultan Mustafa III (1757-1774), dan Sultan Abdul Hamid I (1774-1789). (Republika.co.id, 21/8/2020)

Inilah yang dilakukan musuh-musuh Islam. Bias pemikiran, agar umat semakin jauh dari agamanya.  Distorsi sejarah pun dilakukan. Tidak hanya memblokir penayangan film JKDN, bahkan sebelumnya juga puluhan spanduk penolakan Khilafah dipasang di jalan protokol Kota Cirebon. Framing buruk mengarah pada Khilafah, untuk membuat jeri siapapun yang mengusungnya. 

Karenanya diperlukan dakwah dengan berbagai kemasan cantik, agar lambat laun tersibak tirai hitam yang menyelimuti benak umat. Tidak hanya melalui lisan, tapi juga tulisan, film dan uslub lainnya. Selamanya perang antara yang haq dan batil akan terus terjadi. Akidahlah yang akan menuntun kita tegak di posisi yang tepat, yaitu menyongsong bisyaroh dan menjadi bagian darinya.

Keberadaan Khilafah memang ditakuti, sebab dialah yang akan menjaga hak-hak umat, melindungi, menerapkan Islam, serta mendakwahkannya ke seluruh sudut penjuru dunia. Karenanya ia menjadi tajul furudh atau mahkota kewajiban. Tatkala ia tegak, musnahlah seluruh dominasi kekuatan kufur.

Sebagaimana disampaikan oleh Asy Syaikh Atha' bin Khalil Abu Ar-Rusythah, 
"Sesungguhnya Khilafah adalah agenda vital kaum muslimin. Dengannya hudud akan ditegakkan, kehormatan bisa dijaga, berbagai pembebasan menjadi nyata. Kemudian Islam dan kaum muslim menjadi mulia" 

Momen hijrah sangat tepat bagi titik balik perjuangan. Sebab hijrah menjadi pemisah antara yang haq dengan yang batil, antara Islam dengan kekufuran. [Lihat, Ibn Hajar, Fath al-Bari, Juz VIII/576 dan 577]. Karenanya pesan Muharram adalah pesan hijrah, meninggalkan pemikiran rusak dan beralih ke Islam. 

Kemudian kembali pada jati diri kaum muslim sebagai 'Khoiru ummah' atau umat terbaik. Serta menjalin ukhuwah, menjadi 'Ummatan waahidatan'  yang mampu mengguncang dunia. Tsumma takuunu khilaafatan 'ala minhajin nubuwwah.[]


Oleh: Lulu Nugroho
Muslimah penulis dan pengemban dakwah dari Cirebon

Posting Komentar

0 Komentar