TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pertumbuhan Ekonomi Minus, Kemungkinan Resesi dan Depresi Semakin Serius



Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2020 sebesar minus 5,32 persen dibandingkan triwulan II-2019, atau year on year (yoy). Dan kalau dibandingkan dengan triwulan I-2020, atau quarter to quarter (qtq), angkanya minus 4,19 persen. Pertumbuhan ekonomi minus pada triwulan II-2020 ada keinginan upaya pemulihan (recovery) pada triwulan III-2020 agar tidak jatuh ke resesi ekonomi.

Ada banyak definisi tentang perhitungan resesi ini, biasanya didefinisikan sebagai pertumbuhan ekonomi negatif yang dialami suatu negara selama dua triwulan berturut-turut yaitu setelah triwulan II-2020 minus dan data triwulan III-2020 kembali minus.

Dari sini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, bahwa Indonesia masih belum memasuki fase resesi. Menurutnya, sebuah negara baru dapat dikatakan masuk ke fase resesi apabila realisasi pertumbuhan ekonomi secara tahunan atau year on year (yoy) terkontraksi (minus) selama dua triwulan berturut-turut.

Namun, Mardigu Wowiek dan beberapa ekonom mengatakan bahwa Indonesia secara umum sudah resesi sejak di berlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dimana masyarakat  bawah atau di bottom of pyramid sudah tidak punya “income” lagi karena selama 3 bulan tidak bisa bergerak banyak khususnya mereka berpendapatan harian.

Untuk menangani pertumbukan ekonomi ini, pemerintah seolah akan mengambil strategi nasional memberikan bansos menggunakan uang pinjaman yang jadi banyak perdebatan. Fokus menciptakan demand akan baik jika supply-nya merupakan produksi lokal. Akan tetapi supply dari produksi lokal sejak 3 tahun terus merosot ditambah uang bansosnya dari hutang. Padahal, karena pasien positif covid-19 masih terus meningkat memunculkan gelombang ke-II bulan-bulan ini, pemerintah harusnya mengurangi peningkatan pandemi ini terlebih dahulu.

Ketua Komite Tetap Ketenagakerjaan Kadin Indonesia, Bob Azzam, juga menyarankan penangan wabah vurus korona dengan efektif yang utama agar ekonomi Indonesia tidak mengalami kontraksi di triwulan III-2020 mendatang dan selamat dari jurang resesi. Diharapkan kasus aktif juga bisa ditekan agar melambat sehinnga memberi rasa percaya diri perekonomian dan adanya pergerakan ekonomi masyarakat.

Kemudian setelah itu ada dorongan stimulus ekonomi yang cepat dan tepat. Pemerintah harus memilih (prioritizingleading sector yang punya efek berlapis untuk mengangkat perekonomian Indonesia. Subsidi konsumen pada leading sektor memang harus ditingkatkan dan pelaksanaannya harus efektif.


EkonomiKapitaslis Rentan Bobrok Menuju Kematiannya

Virus corona menjadi pandemi yang sangat ditakuti manusia saat ini, sudah banyak nyawa telah hilang. Bukan sektor kesehatan saja yang terpukul, kegiatan ekonomi juga ikut hancur karena menurunnya transaksi ekonomi manusia disaat sosial distancing dan lockdown di negara mana pun. Negara-negara yang menjalankan perekonomian kapitalistik, sangat terlihat dampak pandemi atas kehidupan manusia.

Perusahaan yang merupakan lembaga utama ekonomi kapitalis tidak bisa bergerak efektif seperti biasanya, ini karena manusia mendapatkan pembatasan kegiatan yang tidak memungkinkan untuk keluar rumah untuk bekerja atau bertransaksi. Sedangakan pekerjaan online tidak bisa menjadi solusi atas semua kerjaan manusia. Sehingga, ada anggapan bahwa pandemi ini merupakan tanda dari ketidakefektifan  dan tanda akhir ekonomi kapitalis.

Paul Mason menulis artikel berjudul "Will coronavirus signal the end of capitalism?" yang diterbitkan di Al Jazeera. Opini tersebut berkaca dari peristiwa pandemi black death,  yang disebabkan oleh bakteri Yersina pestis, menyebar dari Mongolia ke Eropa barat pada tahun 1340. Pandemi tersebut menyerang pusat-pusat kota Eropa dan merenggut nyawa setidaknya sepertiga dari semua manusia saat itu.

Ketika pandemi black death selesai, di Eropa muncul pemberontakan, institusi-institusi jatuh, dan seluruh sistem ekonomi dirubah ulang. Sejak saat itu mulai suatu proses perubahan ekonomi yang mengakhiri sistem feodalisme dan beberapa orang berpendapat, memicu bangkitnya sistem kapitalisme.

Menelaah pandemi black death ini, covid-19 dianggap sebagai mimpi buruk bagi kapitalisme dan menyebabkan dampak yang lebih kompleks pada sistem ekonomi. Kali ini fondasi runtuh, semua kehidupan ekonomi dalam sistem kapitalis didasarkan pada memaksa orang untuk pergi bekerja, bertransaksi dan menghabiskan uang.

Sehingga ada pernyataan Jika wabah besar abad ke-14 memicu imajinasi pasca-feodal, maka mungkin saja Covid-19 ini memicu imajinasi pasca-kapitalis. Pasca-feodal adalah kapitalisme, sedangakan pasca-kapitalis masih belum diketahui. Semoga Islam lah yang menjadi sistem pasca-kapitalis.

Sistem ekonomi kapitalis memang sudah menjadi biang kehancuran ekonomi dunia. Sering terjadi resesi bahkan depresi, seperti Great Depression karena serangkaian peristiwa jatuhnya pasar saham pada tahun 1929 dan 1930 dan krisis lainnya. Resesi ekonomi kapitalis sudah kejadian berulang yang menjadi siklus, krisis ekonomi kapitalis awalnya memiliki siklus 10 tahunan namun ada kemungkinan lebih pendek lagi untuk tahun-tahun ini.

Kebobrokan sistem kapitalisme menyebabkan perekonomian dalam negeri maupun skala dunia mudah goncang dan rentan krisis. Ini karena, sistem ekonomi kapitalisme berdiri di atas sektor non riil dan sistem ribawi. Dengan sektor ini rentan bubble economy, awal terjadi krisis ekonomi setelah meledaknya bubble. Hal ini semakin diperparah karena resesi ekonomi yang terjadi akibat pandemi dimana individualisme menghancurkan sendi-sendi kamanusian dalam membantu sesama, memunculkan ego menyelamatkan diri sendiri yang menjadi senjata bermata dua bagi kehiduapan kapitalisme.


Efek Resesi Terhadap Rakyat

Resesi ekonomi yang terjadi di suatu negara tidak hanya berdampak bagi perekonomian negara saja, masalah resesi tentunya sangat berdampak juga bagi masyarakat. Negara terdiri dari kumpulan masyarakat bersama dengan sistem yang mengaturnya, sehingga apapun yang terjadi pada negara akan berdampak pada masyarakatnya, lamgsung atau tidak. Ada beberapa dampak yang akan dirasakan masyarakat jika terjadi resesi, setidaknya:

Pertama, terjadi banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dimana-mana. Ini karena menurunnya kinerja ekonomi dan permintaan barang menurun membuat perusahaan mengurangi produksi atau tidak lagi beroperasi. Akibatnya terjadi penurunan penjualan juga income perusahaan sehingga terjadi adanya pengurangan para pekerja. Pengurangan pekerja ini tentunya untuk mengurangi biaya produksi. Pada saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah banyak perusahaan yang sudah melakukan PHK. Ada sekitar 3,7 juta pekerja sektor formal mengalami PHK akibat pengaruh pandemi di Indonesia.

Kedua, daya beli masyarakat anjlok. Saat resesi, karena penghasilan berkurang menyebabkan daya beli masyarakat akan menurun. Masyarakat lebih memilih untuk menahan keuangan mereka untuk berhati-hati. Sudah banyak para pelaku usaha yang merasakan dampaknya yakni turunnya daya beli masyarakat terhadap produk mereka yang diakibatkan corona. 

Ketiga, investasi pasar modal juga ambruk. Instrument investasi terkena imbas resesi karena menurunnya nilai portofolio atau asset perusahaan seperti saham. Pasar modal di Bursa Efek Indonesia (BEI) ada pada kondisi yang tidak menentu sejak munculnya virus corona di Indonesia. Saham-saham emiten berjatuhan, termasuk perusahaan negara atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

 

Resesi Menuju Depresi

Pengamat ekonomi dari Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan perekonomian Indonesia tidak hanya terancam masuk jurang resesi tapi juga depresi. Apalagi jika pandemi ini tidak diatasi dengan cepat. Kontraksi perekonomian pada triwulan II-2020 terlalu dalam sehingga pemulihan membutuhkan waktu lama. Oleh karena itu, diprediksi triwulan III dan IV tahun 2020 perekonomian akan kembali minus. Jika kondisi ini terjadi maka Indonesia menghadapi depresi ekonomi. Keadaan ini akan terjadi diperparah jika pandemi memang belum bisa diselesaikan.

Depresi tentu saja merupakan resesi ekonomi yang berlangsung dalam waktu lama dan tidak bisa diatasi. Efek dari depresi ini akan berlangsung antara 18-43 bulan. Ditambah lagi, Penanganan pandemi saat ini masih lambat belum memberikan dampak pada perekonomian, khususnya sektor kesehatan. Ini terlihat dari realisasi penanganan kesehatan kemaren yang baru Rp 6,3 triliun atau capai 7,19% dari anggaran yang ditetapkan sebesar Rp 87,55 triliun. Sehingga, bisa kita simpulkan bagaimana kita bisa percaya pandemi akan turun jika realisasi anggaran terhambat jauh sekali.

Semoga resesi dan depresi tidak terjadi. Namun, tabiat ekonomi kapitalisme yang rentan krisis hal itu menjadi sulit terealisasi. Ini lah perlunya pergerakan pergantian kepada ekonomi Islam yang lebih stabil yang didasari secara kokoh pada ekonomi real. Sehingga Islam sebagai sistem ekonomi post-capitalism segera terealisi. []

 

Oleh : Taofik Andi Rachman, M.Pd.

dari berbagai sumber

 


Posting Komentar

0 Komentar