TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Percuma Menutupi Sejarah, Apalagi Menghalangi Khilafah


Tahun baru Islam kali ini terasa beda, untuk menyambut 1 muharam kali ini ditengah pandemic tidak seperti biasa adanya pawaiyang berkeliling seluruh kota. Namun kali ini perbedaan itu semakin jelas dan tak kalah meriahnya, terutama jagat dumay sangat heboh dengan viralnya sebuah film dari sineas muda berbakat tanah air dari seorang pakar sejarah Islam yang luar biasa. Film Jejak Khilafah Di Nusantara yang trailernya saja sudah bikin merinding, sekian lama ditunggu hari itu datang juga tinggal menghitung jam, menit dan detik dan error pula. Ada apa ini? Semua orang bertanya, lah mau nonton aja dibanned why?

Satu jam tertunda selama jam penayangannya, semua melakukan yang terbaik mempersembahkan film terbaik yang pernah ada di dunia ini. Dan doa terpanjat diantara butiran airmata yang merindu akan khilafah yang mampu terungkap melalui sejarahnya. Akhirnya film pun dapat diputar meski beberapa kali terputus, semua manusia geram dibuatnya. Film tentang kebenaran Islam saja dihalangi, tapi yang mempertontonkan maksiat dengan gampang bisa diakses di negeri ini. Ada apa dengan negeri ini?

Terang saja film Jejak Khilafah di Nusantara membuat rezim panic luar biasa, Khilafah yang mereka hapus di dalam buku pendidikan agama Islam kini terungkap tanpa bisa dibendung lagi. Dan tentu saja kerugian besar dialami oleh rezim ini jika semua orang mulai berpaling arah melihat khilafah yang akan segera tegak seperti yang dijanjikan Allah, maka runtuh sudah kapitalis dan pastinya mereka dengan adanya hal ini membuat mereka semakin miskin ilmu, apalagi memang tabiat dari kapitalis adalah mencari manfaat sebanyak-banyaknya. Sehingga kerugian materi pasti lebih terasa disaat pandemic di tengah perang pemikiran dahsyat dari para pejuang yang luar biasa untuk dinul Islam.

Khilafah menjadi sebuah ancaman nyata bagi rezim, pertanda lonceng kematian kapitalis akan berdentang keras, dan kematian tragisnya akan ditangisi oleh mereka para pengemban mabdanya. Berbeda dengan Islam yang Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah dan dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin. Khilafah bukti nyata peradaban Islam yang telah disembunyikan oleh kapitalis dan para antek-anteknya. Sejarahnya dikaburkan, buktinya tak mampu dikuburkan, maka sudah saatnya ia kembali kepermukaan.

Dari film inilah akhirnya terkuak bagaimana perjalanan khilafah Islamiyah itu sampai ke Nusantara berawal dari Raja Sriwijaya yang meminta kepada Khalifah Umar Abdul Aziz untuk dikirimkan seorang guru. Berlanjut ke Samudera Pasai dimana keturunan Abbasiyah pernah singgah dan menetap disana dan akhirnya wafat. Seperti yang diketahui bahwa setelah para Khulafa Rasyidin tiada, Islam berlanjut dipimpin oleh dinasti Ummayah, Abbasiyah dan akhirnya Utsmaniyah. Pada masa Utsmaniyah lah Nusantara banyak mendapatkan bantuan dari pengiriman para militernya yang tangguh dan syahid pula di serambi mekkah. Legenda Meriam Secupak Lada yang menjadi fenomenal namun kemudian dirampas oleh Belanda, dan Turk Monster yang menakutkan membuat gentar para penjajah yang singgah ke Aceh.

Masih banyak lagi yang tidak akan mampu terungkap jelas dengan detil melihat film tadi rasanya sangat puas. Semua rasa penasaran terjawab habis dengan gamblang, betapa bodohnya kita tak mengakui hal itu. Hal yang sangat berharga dan mereka yang menghargai sejarah mencoba untuk mengungkapkannya, bahwa kita pernah Berjaya. Meski kita melihat situs sejarah hanya tinggal sebuah bukti-bukti yang terlupakan. Mirisnya, padahal bukti sejarah itulah yang menguatkan bahwa mereka yang pernah hidup itu ada. 

Tidak ada yang salah selama penayangan film Jejak Khilafah di Nusantara, hanya saja jika rezim tidak suka mereka bisa melakukan apa saja untuk menghalanginya. Namun haruskah kebodohan itu dipertontonkan, tidakkah merasa malu pada masyarakat yang sudah mulai terbuka fikiranya. Lelah dan jumud berada di sistem ini, tak ada satu solusi pun yang terlintas di fikiran mereka untuk menyelamatkan umat. Hanya keuntungan materi saja, jika selagi masih bisa dijual untuk mendapatkan segepok uang dan mengenyangkan perut menumpuk hartanya selagi hidup, maka masyarakat yang teraniaya akan terlupakan.

Karena itu adanya khilafah seperti oase di padang pasir, apalagi konon kejayaan Islam abad itu benar-benar menunjukkan kedigdayaannya dimiliki oleh kaum muslimin. Maka dengan adanya khilafah semua kezaliman yang dialami oleh kaum muslimin akan sirna. Itulah ketakutan terbesar oleh rezim ini dan bagai hantu yang terus mengganggu dimalam hari saat mereka ingin terlelap tidur.

Khilafah yang diprediksi barat akan kembali beberapa tahun mendatang, menjadi suatu kekhawatiran yang besar. Tekanan-tekanan yang dialami para pengemban dakwah juga semakin besar, namun tentu saja tak menghalangi mereka untuk menyampaikan risalah dakwah ini kepada umat dengan berbagai cara. Salah satunya adalah pembuatan film jejak khilafah di nusantara yang berhasil menarik mata manusia dari trailer walanya saja sudah membuat panic. 250.000 orang mendaftar untuk bisa menonton film ini, bayangkan saja betapa takutnya rezim ini hingga memilih untuk memblok film ini.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS. Ali Imran : 54)

Maka seperti apapun rezim mencoba untuk melakukan makar, maka mereka lupa bahwa Allah sang pembuat makar yang lebih baik lagi. Semoga film ini menjadi sebuah jejak yang bisa membuka jalan untuk umat melihat dengan terang benderang akan khilafah. Yang hakikatnya khilafah adalah perisai umat, maka tak perlu takut dengan khilafah ia akan datang membawa kedamaian dan ketenangan. Wallahu ‘alam.[]

Oleh: Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom
(Aktivis Muslimah Peradaban Aceh)

Posting Komentar

0 Komentar