+
YUK JOIN di TINTA INTENS 4

Penegakan Khilafah dalam Bingkai Demokrasi, Bisakah?



Beberapa kalangan dari kaum Muslim menganggap bahwa perjuangan khilafah dalam demokrasi dapat dilakukan. Demokrasi hanyalah alat untuk perjuangan kaum Muslim. Metode ini dianggap jalan yang tepat karena sesuai dengan konstitusional negara. Logikanya perubahan harus dilakukan secara bertahap dan pelan-pelan. Oleh karenanya, memasuki sistem politik demokrasi adalah jalannya. Prosesnya adalah dengan membuat partai politik yang legal sesuai aturan. Kemudian partai politik akan bertarung dalam pemilihan umum untuk meraih dukungan dari rakyat. 

Karena aturan dalam demokrasi menyebutkan jika sebagian besar atau lebih dari 50% suara mendukung, maka suara itulah yang dinyatakan sebagai pemenang. Diharapkan dengan masuknya para tokoh Islam akan dapat membuat peraturan sesuai dengan aturan Islam.

Para tokoh ini pun dapat masuk ke dalam kursi eksekutif dan membuat undang-undang yang sesuai dengan syariah. 
Pertanyaannya, apakah benar adanya? Memang cara ini bisa diterima oleh akal. Namun kita harus melihat fakta di lapangan. Beberapa kasus sebelumnya seperti kasus di Aljazair dan Mesir harusnya membuka mata kaum Muslim. 

Partai FIS di Aljazair bahkan memenangkan pemilu dengan 54% suara. Namun yang terjadi adalah militer memberontak, membubarkan parlemen serta membatalkan hasil pemilu. Kemudian apa yang terjadi di Mesir pun demikian. Ikhwanul Muslimin menang dan Mursi menjadi presiden. Namun terjadi lagi pemberontakan militer oleh Al Sisi. 

Jika kita lihat fakta di atas, penegakan khilafah dalam bingkai demokrasi, bisakah? Ternyata, jika kita lihat terakhir kasus majalah Gercek Hayat, menjernihkan mata pikiran kita bahwa penerapan aturan Islam (Khilafah) dalam bingkai demokrasi seperti air dan minyak. Sulit untuk menyatu. Bahkan batil. 

Mengapa demikian? Pertama, demokrasi sendiri adalah buatan bangsa Barat untuk melemahkan kaum Muslim dari sisi pemikiran. Demokrasi pertama masuk pada akhir kekuasaan Kekhalifahan Turki. Demokrasi dianggap sama dengan syura dan menjadi legislasi yang sah di akhir kekuasaan Utsmani. Kemudian karena pemilihan itu pula kekhalifahan dihapuskan. Padahal sebelumnya, kekhalifahan selalu diatur oleh hukum syara. Pengadilan dalam masa kekhalifahan Utsmani hanyalah pengadilan Islam. Namun di akhir karena telah dibuat parlemen, pengadilan terbagi menjadi dua, yakni pengadilan negara dan pengadilan agama. Demokrasi telah mengerat kaum Muslim dan memecah kaum Muslim menjadi dua kubu, liberal dan konservatif. 

Kedua,  karena demokrasi adalah anak dari sistem sekularisme. Sekularisme sendiri paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Sekularime berarti menjauhkan kaum Muslimin dari aturan Sang Pencipta. Dasar sistem demokrasi adalah rakyat sebagai pemilik kehendak, kedaulatan dan pemilik dalam pelaksanaannya. Karena rakyatlah yang memiliki segalanya, maka rakyat yang mengatur dirinya sendiri. Tidak seorang pun berhak dan dapat mengalahkan kekuasaan rakyat. 

Oleh karena itu, rakyatlah yang bertindak sebagai pembuat dan penentu hukum. Rakyat yang membuat aturan sesuai dengan kehendaknya. Rakyat yang membatalkan dan menghapus aturan yang dikehendakinya. Sistem inilah yang seperti ini diharamkan dalam Islam. Karena ia adalah hasil buatan manusia dan bukan merupakan hukum-hukum syar'i. 

Sistem demokrasi bertentangan dengan hukum Islam. Kaum Muslim diperintahkan untuk menyesuaikan seluruh amal perbuatannya dengan aturan dari Allah. Seorang Muslim adalah hamba Allah. 

Maka ia harus menyelaraskan kehendaknya sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Demikian pula umat tidak berhak memiliki dan menuruti kehendaknya sesuai dengan hawa nafsunya. Sebab kedaulatan bukan berada di tangan umat melainkan di tangan hukum syara. Umat tidak memiliki hak tasyri (hak membuat hukum dan undang-undang). Hanya Allahlah satu-satunya Musyarri (Pembuat Hukum). Seandainya umat bersepakat menghalalkan khamr, riba atau zina, maka kesepakatan itu tidak bernilai. Sebab ia bertentangan dengan hukum Islam.  

Dalam melakukan segala sesuatu, kaum Muslim diperintahkan untuk menyesuaikan sesuai dengan hukum syara. Seorang Muslim adalah hamba Allah. Ia harus menyesuaikan keinginan dan tindakannya sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Begitu pun dengan metode dakwah dan perjuangan Islam. Seorang Muslim wajib untuk menaati perintah Allah dan mengambil contoh dari Rasulullah SAW. 

Berdasarkan penelurusan perjalanan dakwah Rasulullah akan tampak metode dan beberapa tahapan dakwah yang jelas ciri-cirinya, yaitu:

Pertama, tahap pengkaderan.  Pada awal dakwah Rasulullah, dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullah mengkader beberapa keluarga dan sahabatnya. Rasulullah berdakwah kepada Khadijah, Ali dan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar pun merekrut beberapa sahabatnya, Utsman, Abdurrahman bin Auf dan lain-lain. Rasulullah SAW kemudian menanamkan Islam dengan metode halqah di rumah sahabatnya Arqam. Rasulullah mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan wahyu yang disampaikan oleh Malaikat Jibril. Rasulullah menanamkan pola pikir dan pola sikap sesuai dengan wahyu dari Allah SWT. 

Kedua, tahap interaksi dan perjuangan politik. Tahap ini adalah tahap ketika Rasulullah berinteraksi dengan masyarakat. Rasulullah SAW mendorong masyakarat di Makkah untuk mengemban Islam. Membentuk kesadaran dan opini umum di tengah masyarakat atas ide dan hukum-hukum Islam. Tentu saja banyak penolakan terhadap dakwah Rasulullah. Sering disampaikan bahwa Rasulullah dicaci, dikatakan penyihir, gila dari kalangan keluarganya sendiri. Bahkan dari dilempari kotoran ketika berdakwah. 

Namun Rasulullah tidak pernah menyatakan perang. Sahabiyah Rasulullah, Sumayyah bahkan disiksa hingga meninggal. Namun Rasulullah tidak mengangkat senjata. Perjuangan pada tahapan ini tidak melakukan kekerasan (laa madiyah) dan tanya melalui jalan pemikiran.  Rasulullah menyampaikan pemikiran yang salah seperti penyembahan berhala. Beliau menyerang dan mencela setiap akidah dan pemikiran kufur.  Ayat Al-Qur’an juga mencela perbuatan yang dilakukan oleh Quraisy seperti memakan riba, membunuh anak perempuan hidup-hidup, mengurangi timbangan dan melakukan perzinaan.  

Ketiga, tahap implementasi Islam. Pada tahap ini Islam telah menjadi kesadaran dan opini umum dalam masyarakat. Maka langkah terakhir adalah dengan menerapkan Islam secara praktis dan menyeluruh sekaligus menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia. Dakwah Rasulullah memang mendapat rintangan di Makkah. Namun di Madinah, Rasulullah mendapat sambutan yang hangat. 

Rasulullah diterima dan hijrah ke Madinah. Itulah momen yang sangat bersejarah. Bahkan menjadi momen yang selalu diperingati oleh kaum Muslim. Kaum Muslim menjadikannya sebagai tonggak sejarah baru. 1 Muharram menjadi momen hijrah dari aturan kufur kepada aturan Islam. Bukan hijrah atau kepindahan semata. Tetapi menjadi pembeda bahwa Madinah diatur dan diterapkan Islam. 

Berbeda dengan Makkah yang masih diatur oleh aturan kufur. Pada masyarakat Madinah, aturan Islam benar-benar diterapkan. Seperti pelaksanaan hukum rajam dan lain-lain. Dalam menyebarkan risalahnya diterapkanlah jihad. Perang-perang seperti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab baru dilakukan oleh Rasulullah ketika di Madinah. Perang ini dilakukan dalam rangka menyebarkan risalah Islam agar tidak ada lagi penghalang dalam menerapkan aturan Islam. Bukan seperti asumsi yang dibangun oleh kaum kafir bahwa kaum Muslim itu gila kekuasaan dan haus darah. 

Begitulah metode dan tahapan dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah. Semoga kaum Muslimin dapat meneladani perjuangan Rasulullah. Semoga kaum Muslimin juga mendapatkan keridhoan dari Allah SWT berupa pertolongan dan kemenangan yang nyata. []


Oleh: Wendy Lastwati
Anggota komunitas Muslimah Menulis Depok

Posting Komentar

0 Komentar