Pasca Pemutaran Film Jejak Khilafah di Nusantara, Semua Mata Tertuju pada Khilafah


Pemutaran perdana film dokumenter berjudul Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN) pada 1 Muharam 1442 H (Kamis, 20 Agustus 2020) telah sukses ditonton sekitar 250 ribu pasang mata. Bahkan panitia menayangkan ulang film tersebut pada hari Minggu, 23 Agustus 2020. Tentu sebagai upaya untuk mengobati rasa kecewa pemirsa yang tidak bisa melihat film tersebut secara penuh akibat dibanned oleh pihak Penguasa.

Berbagai reaksi terjadi pasca Pemutaran film JKDN. Pertama,  pihak yang pro dengan isi film tersebut. Tentunya ini diwakili oleh pihak yang sudah belajar sejarah dengan benar. Umat yang rindu bendera tauhid berkibar. 

Mengingat film tersebut adalah hasil penelitian dan penelurusan bukti-bukti non fisik dan bukti fisik beberapa situs-situs bersejarah dari wilayah barat hingga timur Nusantara. Bahwa dengan jelas dan tegas ada banyak keterkaitan antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara dengan Khilafah. Hal ini sudah tidak bisa di elakkan. Mulai dari makna kaligrafi di batu nisan para wali dan sultan hingga adanya meriam dan makam tentara Turkey Utsmani di beberapa wilayah di Nusantara. Juga peninggalan berupa koin emas dan perak bertuliskan negara khilafah utsmaniyah selaku penerbitnya. Juga beberapa teks surat raja dan sultan di Nusantara kepada Khalifah.

Bagi yang sepakat dengan isi film tersebut, mereka semakin yakin bahwa sejarah pasti akan terulang kembali. Sesuai janji Allah SWT bahwa umat Islam akan dimenangkan setelah lama mengalami kezaliman dengan tegaknya Khilafah yang kedua kalinya. Melibas peradaban barat yang semakin sekarat.

Kedua, pihak yang kontra. Tidak bisa dipungkiri pasca runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah pada 1924 Masehi silam, umat sudah semakin jauh dari Islam. Di negeri-negri muslim diterapkan sistem Kapitalis demokrasi oleh para penjajah. Sehingga ketika umat mengingat kembali khilafah bahkan sekedar dari sisi sejarah, banyak pihak yang menolaknya. Satu-persatu tokoh sejarah dan cendekiawan muslim dan non-muslim muncul ke permukaan menyampaikan bahwa tidak ada hubungan khilafah dengan Nusantara. Mereka mengatakan bahwa khilafah di nusantara adalah halu dan mitos semata. Bahkan ada yang menyatakan jika khilafah tegak, negri ini akan bubar.

Berbagai tudingan negatif muncul menyerang ide khilafah. Bahkan saking tidak pahamnya, mereka menyebut khilafah sebagai khilafahisme. Padahal khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan Islam yang menerapkan Al-Qur'an dan Sunnah. Sedangkan ideologinya adalah Islam.

Ketiga, pihak yang kepo. Dengan pemutaran film dokumenter sejarah JKDN dan berbagai diskursusnya di media, hal ini menjadikan masyarakat semakin penasaran dengan khilafah. Umat yang awalnya tidak tahu akhirnya melek khilafah. Apalagi dengan kemudahan mengakses berita melalui gawai,  masyarakat yang tadinya tidak perduli akhirnya bertanya-tanya sebenarnya adakah hubungan Nusantara dengan khilafah. Terlepas kemudian mereka pro ataupun kontra. Yang pasti beberapa pekan ini diskursus khilafah semakin kerap di media. 

Tidak bisa dipungkiri, meskipun umat telah jauh dari masa sejarah kegemilangan Kerajaan-kerajaan Islam dan walisongo. Umat Islam di negri ini masih memiliki perasaan Islami. Ditambah mereka juga semakin cerdas dalam memilih dan memilah berita dan sejarah. Serta sikap pesimis pada peradaban barat yang materialistis. Menjadi peluang dakwah bagi pejuang khilafah.

Selain itu, hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk membalikan opini. Sudah menjadi tugas dan PR bagi para pejuang khilafah untuk menjadikan pihak kontra dan kepo menjadi pro. Wallahu a'lam bi ash-showab.[]

Oleh: Najah Ummu Salamah
Forum Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar