TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Pandemi – Resesi Ekonomi, Hanya Islam Solusinya


Dampak pandemi virus corona di sektor ekonomi telah dirasakan oleh banyak orang di banyak negara. Buruh mengalami pemutusan hubungan kerja, karyawan menerima pemotongan gaji, perusahaan gulung tikar, daya beli masyarakat menurun, bahkan mereka yang bekerja di sektor informal juga turut terdampak.Kondisi inilah yang disinyalir memicu terjadinya resesi ekonomi di berbagai negara. Pada bulan Juni 2020 Bank Dunia memproyeksikan dunia akan mengalami resesi global terburuk dalam 80 tahun terakhir. Hingga 6 Agustus 2020, beberapa negara telah melaporkan mengalami resesi, yaitu Perancis, Italia, Hong Kong, Singapura, Jerman, dan Korea Selatan. Demikian juga Amerika Serikat pasca Departemen Perdagangan AS melansir kondisi ekonominya yang berkontraksi negatif di 30 Juli 2020. Terakhir (6/8/2020) Filipina mengumumkan mengalami resesi. Adapun Australia memberi sinyal ‘mungkin’ resesi (23 Juli 2020) pasca merilis kondisi ekonominya yang mengalami kontraksi atau pertumbuhan ekonomi negatif.                          
Resesi ekonomi menjadi perbincangan yang ngehits di masyarakat akhir-akhir ini.Sebelum membahas terlebih jauh tentang risiko resesi ekonomi yang dihadapi Indonesia.

Ada baiknya kita tahu apa itu resesi ? Resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung dalam beberapa bulan, umumnya dalam tiga bulan lebih. Saat resesi artinya, pertumbuhan ekonomi bisa sampai nol persen, bahkan minus dalam kondisi terburuknya. Sejumlah indikator yang bisa digunakan suatu negara dalam keadaan resesi antara lain terjadi penurunan pada PDB, merosotnya pendapatan riil, jumlah lapangan kerja, penjualan ritel, dan terpuruknya industri manufaktur. Bermunculan broadcast mengabarkan Indonesia sudah masuk jurang resesi. Namun, ada pula pihak yang tak percaya Indonesia sedang resesi. PEREKONOMIAN Indonesia tidak kebal dari dampak wabah virus corona. Ini terlihat dari realisasi pertumbuhan ekonomi yang anjlok pada kuartal I 2020, atau periode Januari-Maret 2020. Indonesia memang mengonfirmasi kasus pertama positif virus corona pada Maret 2020. Namun, sejumlah negara mitra dagang Indonesia sudah terjangkit virus tersebut sejak akhir 2019 hingga awal 2020. Kondisi tersebut turut berdampak pada kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 2,97 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I 2020. Adapun secara kuartalan (qtq), ekonomi Indonesia terkontraksi 2,41 persen. "Dengan berbagai fenomena di kuartal I 2020, maka PDB Indonesia atas dasar harga konstan pada kuartal I 2020 Rp 2.703 triliun dan atas dasar harga berlakunya Rp 3.122 triliun. Tumbuh 2,97 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (5/5/2020). Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 melambat cukup dalam dari 5,07 persen pada kuartal I 2019. Dipastikan, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin terpuruk pada kuartal II 2020. Pasalnya, periode tersebut merupakan fase infeksi virus corona sudah mewabah di Tanah Air. Sementara itu, VP Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menjelaskan, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2020 tersebut sudah merupakan bukti nyata bahwa ekonomi Indonesia melemah. "Ini mengindikasikan bahwa produktivitas perekonomian baik dari sisi permintaan dan produksi mengalami penurunan," ungkapnya kepada Kompas.com, Senin (20/7/2020). Penurunan aktivitas ekonomi nasional berdampak langsung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh sebagian besar sektor usaha. Termasuk pada sektor ekonomi non-formal akibat kebijakan PSBB di berbagai daerah di Indonesia

Penguasa bisa saja berlindung di balik alasan pandemi, sehingga berharap resesi bisa dimaklumi. Namun, jangan lupa, resesi tidak kali ini saja menyapa kita. Indonesia sudah berkali-kali disambangi resesi. Menurut mereka(Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam buku The History of Money From Ancient time to Present Day, menguraikan sejarah kronologi krisis secara komprehensif), sepanjang abad 20 telah terjadi lebih dari 20 kali krisis besar melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan secara rata-rata, setiap lima tahun terjadi krisis keuangan hebat.

Sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan di abad 20 telah menyebabkan krisis siklik (berulang). Atas kondisi resesi berulang ini, Indonesia perlu tobatan nasuha di bidang ekonomi. Yakni meninggalkan sistem ekonomi kapitalisme yang berdasar riba, judi, dan ekonomi non riil. Serta menerapkan sistem ekonomi Islam yang memiliki fondasi yang solid. Ekonomi Islam berdasar pada ekonomi riil, sehingga tidak akan mengalami ekonomi gelembung. Allah Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk beriman dan bertakwa. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96)s

Ibnu Mas’ud menjelaskan, “Takwa adalah menaati Allah dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa mengingat Allah serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran (kufr) di dalamnya.” (Tafsir Ibnu Katsir: Dar at-Thayyibah, 1999). Maka, solusi atas resesi yang kerap terjadi di Indonesia adalah semua penguasa dan rakyat bertakwa di bidang ekonomi dan juga di seluruh kehidupannya.

Riba dan judi harus dibersihkan. Ekonomi berbasis pada ekonomi riil saja. Mata uang menggunakan standar emas yang stabil. Kepemilikan umum seperti tambang harus dikembalikan pada pemiliknya yakni semua rakyat. Jika semua tambang di Indonesia dikelola negara dan hasilnya dikembalikan untuk kemaslahatan khalayak, rakyat akan tercukupi kebutuhannya. Ekonomi akan bergerak dan pertumbuhannya positif. Indonesia bisa lepas dari resesi dengan menerapkan ekonomi Islam dan hijrah ke Islam kaffah dengan pemimpin yang amanah. Wallahu’alam bishowab.[]

Oleh: Lilik Rosyidah

Posting Komentar

0 Komentar