Pak, Politik Negeri Ini Oleng Kok Dibiarkan Saja?

Kian hari perpolitikan di negeri ini kian karut marut. Persoalan demi persoalan kian rumit. Polemik RUU HIP membuat umat marah dan menolak mentah-mentah. Aksi penolakan digelar berjilid-jilid oleh tokoh, ulama dan umat Islam di berbagai daerah. Suaranya sama RUU HIP berbahaya, menjadi alat penguasa, patron dan korporasi. Tawaran RUU BPIP, sebagai pengganti RUU HIP bernasib sama, ditolak umat.  

Di sisi lain pilkada serentak tetap hendak digelar 9 Desember 2020 walau di tengah meroketnya kasus positif Covid-19. Alasannya KPU sudah menghabiskan dana sekitar 1 triliun untuk persiapan. Energi dan dana sudah banyak dikeluarkan, sayang jika ditunda. (CNN Indonesia, 29/7/2020)

Politik dinasti dan politik oligarki yang menjadi prevalensi (kewajaran) demokrasi kian menambah oleng politik negeri ini. Kebobrokan politik negeri ini kian terbongkar dengan munculnya kasus ngetop bernama POP ( Program Organisasi Penggerak). POP yang merupakan bagian dari merdeka belajar, program andalan Menteri Pendidikan. Penunjukkan Nadiem Makarim yang berlatar pengusaha sebagai menteri pendidikan dinilai banyak pihak tidak tepat. Sehingga perkawinan tidak sah antara pendidikan dengan korporasi menambah pelik persoalan negeri. Arah pendidikan berpondasi sekuler kapitalistik kian membuat generasi negeri ini terpuruk. SDM hanya diarahkan menjadi perbudakan modern.

Kegagalan dalam bidang ekonomi diawal pemerintahan jilid dua Joko Widodo, dijawab dengan kebijakan memberantas radikalisme. Sehingga proyek deradikalisasi yang notabene agenda AS untuk memerangi Islam, dilaksanakan oleh rezim ini. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Rezim dapat menutupi kegagalan ekonomi, menghadang dakwah Islam politik sesuai pesanan asing dan tentu singgasana aman. Inilah gambaran rezim yang menerapkan demokrasi. 

Radikalisasi  menyasar ulama dan muslim yang taat. Tujuannya membendung kebangkitan Islam dengan strategi belah bambu. Strategi AS memetakan Islam menjadi empat kubu yaitu Islam fundamentalis, Islam tradisionalis, Islam modernis (moderat) dan Islam liberal semakin mengaduk aduk lumpur persoalan umat. Radikalisme hanyalah kambing hitam senada dengan pernyataan pengamat politik Siti Zuhro, persoalan negeri ini bukan radikalisme. Demikianlah dalam perjalanannya perekonomian yang berlandaskan sistem demokrasi kapitalisme ini kian kritis, karena solusinya tak beranjak dari anjuran para kapitalis. Hutang kian membumbung tinggi. 

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani merinci posisi utang pemerintah per akhir Juni 2020 meningkat menjadi Rp 5.264,07 triliun. Utang tersebut bertambah Rp 484,8 triliun dari posisi akhir 2019 Rp 4.779 triliun (Okezone.com, 23/7/2020)

Belum lagi ditengah bencana pandemi Covid-19 kasusnya kian tinggi justru dilakukan pembubaran gugus tugas Covid-19. Dan menyerahkan penanganannya di bawah penanggulangan ekonomi. Tentu ini kian mencerminkan  seperti apa rezim ini bekerja. 

Wajar jika kemudian tokoh nasional seperti Said Didu, Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun, akadenisi Rocky Gerung hingga eks Ketum Muhammadiyah Din Syamsudin menunjukkan keprihatinan mendalam dan terdorong membentuk gerakan moral untuk menyelamatkan Indonesia. Mereka membentuk Koalisi Aksi Menyelamatkan Negeri (KAMI). (Kumparan, 2/8/2020)

Pak, politik negeri ini sedang oleng, mengapa kok dibiarkan saja? Ibarat kapal, negeri ini sedang berlayar ditengah ombak dan badai tinggi. Dalam kondisi ini seharusnya internal negeri harus kuat. Bahkan harus saling menjaga dan mencegah jangan sampai ada yang melubangi kapal. Kita semua bisa tenggelam, pak! 

Pak, sebagai nahkoda kapal Bapak harus mampu menyelesaikan persoalan internal baik ABK maupun penumpang. Sehingga mampu menghadapi turbulensi yang tak dapat diprediksi. Jangan biarkan politik oleng Pak, kita semua bisa karam!

Sebagai bagian dari penumpang kapal, tentu tak layak jika hanya berdiam. Karena diam dan tak mengambil bagian penting untuk memperbaiki berarti bunuh diri dan menunjukkan kehinaan, padahal umat Islam umat terbaik. Predikat terbaik tentu disandang karena melakukan aktifitas terbaik. Yaitu menyeru pada Islam, mengajak yang ma'ruf dan meninggalkan yang munkar. 

Apalagi umat sebenarnya memiliki kunci yang mampu membuka jalan solusi. Hanya kunci itu belum disadari sebenarnya ada di tangan umat. Sehingga harus diungkapkan dan disadari keberadaannya. 

Pak, sebagai bentuk tanggungjawab untuk menyelamatkan kapal, kami serukan satu-satunya kunci terbaik menuju solusi. Silakan Bapak, ABK dan semua penumpang menyatukan visi, memahami akar persoalan ini dan mengambil langkah strategis untuk membuka pintu solusi. Agar kapal kita sampai di dermaga tujuan, 'baldatun thayibatun warabbun ghafur'. 

Pertama. Bapak harus memahami akar masalah yang menerpa negeri ini adalah karena menerapkan demokrasi. Demokrasi dibangun oleh landasan ideologi batil, yaitu sekulerisme. Pemisahan agama dari kehidupan telah menempatkan manusia sebagai pembuat hukum. Padahal manusia hanyalah makhluk lemah yang untuk kemaslahatan dirinya sendiripun tak mampu. Pantas sistem ini rusak dan merusak negeri. Terlebih demokrasi menjadi kendaraan korporasi demi kepentingan korporasi. Bahkan sistem demokrasi adalah alat penjajahan Barat Pak. Sebagai alat agar AS tetap menjadi negara pertama. Jika ingin merdeka dan mandiri maka tak ada jalan selain membuang demokrasi.

Kedua. Pak, seharusnya negeri ini membangun sistem politik atas pondasi ideologi Islam. Karena hanya ideologi Islam yang shahih dan pasti mampu menyelesaikan semua persoalan. Ideologi dari Allah yang menciptakan manusia, dijamin sesuai fitrah manusia, memuaskan akal dan menenteramkan batin. 

Ketiga. Pak, Politik sebagai tata cara manusia menyelesaikan urusan hidupnya dengan apa. Nah Islam memberikan penyelesaian yang paripurna terhadap semua persoalan kita. Solusi terbaik yang memberikan predikat terbaik bagi pemimpinnya. Sungguh mulia pemimpin yang menerapkan Islam. Bahkan pemimpin itu adalah 'junnah' (perisai/pelindung) itu sendiri dan juga sebagai raa'in (pengatur urusan umat dengan syariat). Sungguh kemuliaan tak terhingga bagi pemimpin yang menerapkan syariat-Nya.

Keempat. Pak, sungguh Islam adalah Dien yang 'kamil' (sempurna) dan 'syamil' (menyeluruh). Satu aturan diterapkan akan memberikan kebaikan dan  memperkokoh seluruh sendi kehidupan lainnya. Tentu negara akan menjadi adidaya dunia karena sistem Islam otomatis akan mewujudkan menjadi negara pertama.

Kelima
Untuk mewujudkan cita-cita itu, tawaran Islam politik harus terus diserukan secara luas, sebagai proses menuju perubahan. Perubahan hakiki, mengakar dan mendasar. Hingga Semua persoalan dikembalikan dalam timbangan Islam dan hanya mampu diselesaikan oleh Islam. Karena Islam datang dengan panduan utuh dan menyelesaikan semua persoalan secara tuntas. 

Demikian Pak lima hal penting yang menjadi kunci untuk menyelamatkan negeri ini dari praktik politik kotor karena berakar dari ideologi bathil hasil karya akal dan hawa nafsu manusia. Sedangkan  keagungan politik Islam sangat nyata secara empiris dan historis terbentang di 2/3 dunia. Bahkan jejak khilafah di Nusantara sangat nyata adanya. Banyak Ilmuwan Barat yang jujur mengakui dan memuji ketinggian Islam dalam buku-buku karya mereka. Pak mari kembali menerapkan politik Islam. Sungguh Islam itu tinggi dan tidak ada yang mampu menandinginya. Wallahu a'lam bishawab.[]


Oleh: Sri Rahayu 
Institut Kajian Politik dan Perempuan

Posting Komentar

0 Komentar