Obat Herbal Pembasmi Covid-19, Dimanakah Peran Negara?



Pandemi covid-19 terus meningkat dari waktu ke waktu. Kini jumlahnya mencapai 130.000 jiwa. Peningkatan korban yang besar setelah diterapkan kebijakan new normal life. Rakyat semakin resah dengan keberadaan makhluk kecil yang tak kasat mata. Hal ini ternyata memicu sejumlah kalangan menemukan obat pembasmi virus korona. Salah satunya Hadi Pranoto yang viral karena berhasil mengembangkan serum herbal antibodi covid-19. 

Hadi mengklaim bahwa dirinya pakar mikrobiologi. Dia menegaskan bahwa obat herbalnya memiliki kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Serta mempunyai kualitas dan kemampuan untuk menetralisir covid-19. Selain itu, bahan bakunya berasal dari Indonesia. 

Dilansir dari Kompas, Hadi menyatakan dirinya memiliki tim dan lembaga riset independen yang tidak terkait dari institusi manapun. Risetnya disebut dengan nama Antibodi Covid-19. Selain itu, penelitian sudah dilakukan semenjak tahun 2000. (3/8/2020)

Sayangnya hingga saat ini penemuan obat herbal Hadi belum diketahui komposisinya. Sehingga banyak pro dan kontra dari para pakar. Menurut Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof. dr. Amin Soebandrio, PhD, SpMK (K) menyebutkan dalam etika penelitian, riset yang berjalan tidak dapat dilakukan oleh individu. Dikarenakan perlu prosedur yang terstruktur dan bukti yang jelas. Maka perlu dicurigai jika tidak terdapat syarat tersebut. 

Selain itu, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) menegaskan bahwa Hadi tidak tergabung dalam konsorsium tim peneliti herbal imunomodulator covid-19. Hingga saat ini belum ada satu negara atau lembaga manapun di dunia yang sudah menemukan obat atau vaksin spesifik untuk menangani covid-19. (m.detik.com 4/8/2020)

Adanya kejadian ini memperlihatkan bahwasannya rakyat telah jenuh dengan pandemi covid-19. Maka tak heran kehadiran Hadi Pranoto sebenarnya bentuk kepedulian pada kegelisahan masyarakat yang terhantui oleh covid-19. Artinya rakyat melihat pemerintah telah lamban dalam penanganan covid-19 yang semakin meluas tak ada hentinya. 

Selain itu, hal ini dilandasi adanya ambisi kemanusiaan membantu pemerintah untuk meringankan penanganan covid-19. Sehingga banyak yang berlomba-lomba untuk menemukan obat virus covid-19. Mulai dari mengonsumsi jenis rimpang-rimpangan setiap hari yang berguna meningkatkan antibodi, hingga kalung antikorona dapat menangkal virus masuk ke dalam tubuh. Hasilnya banyak rakyat memercayai hal tersebut guna menjaga kesehatannya.

Jika ditelaah dengan saksama bahwasannya usaha rakyat sangat gigih dalam membasmi virus covid-19. Hanya saja pemerintah tidak memerhatikan hal tersebut. Faktanya yang terjadi tidak adanya jaminan kesehatan yang memadai, serta tak didukung pula keseriusan untuk menyelesaikan pandemi. Terlihat dari awal hadirnya virus, kebijakan pemerintah yang tidak langsung mengkarantina wilayah, hingga akhirnya memutuskan hanya dengan PSBB saja. Mata rantai belum terputus, tetapi sudah menerapkan era new normal life. Kebijakan yang berubah-ubah dan tumpang tindih. 

Tak hera kinerja pemerintah memang diragukan rakyat saat ini. Walaupun sedang berusaha membuat vaksin, tetapi kehalalan komposisinya masih dipertanyakan. Terbukti masih banyak masyarakat yang tidak mau di vaksin. 

Itulah sistem yang saat ini digalakkan negeri ini. Sistem yang hanya berkutat pada kepentingan penguasa, tanpa memikirkan urusan rakyatnya. Rakyat diminta berjuang sendirian dalam menghadapi pandemi. Maka tidak dapat dipungkiri kepercayaan rakyat terhadap pemerintah berkurang sedikit demi sedikit.

Seyogianya, pemerintah serius menangani pandemi covid-19. Mata rantai penyebarannya harus segera diputuskan. Tidak hanya mengandalkan protokol kesehatan saja atau menunggu adanya vaksin selesai, tetapi diperlukan pula tindakan cepat dan sigap. 

Islam Menjaga Peredaran Obat dengan Ketat 

Itupula yang terjadi ketika Islam diterapkan. Islam memandang kesehatan adalah kebutuhan dasar rakyat. Negara bertanggung jawab untuk memenuhinya secara optimal dan terjangkau oleh masyarakat. Artinya memosisikan dirinya sebagai penanggung jawab urusan rakyat.  Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi, penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya.” (Bukhari dan Muslim)

Islam telah sangat memengaruhi bidang farmasi dengan pesat kala itu. Tercermin dengan kembalinya minat terhadap pengobatan natural yang begitu populer dalam pendidikan kesehatan. Perkembangannya terjadi mulai abad ke-12 hingga ke-17 M di Eropa. Dalam praktiknya, banyak melibatkan praktisi seperti herbalis, kolektor, dan penjual rempah-rempah untuk obat-obatan. 

Toko obat bermunculan di era kejayaan Khilafah Abbasiyah. Kehadirannya tak hanya di Baghdad, namun terdapat di kota-kota kecil lainnya. Selain itu ahli farmasi membuka apotek sendiri, sehingga meracik dan membuat aneka obat-obatan. Maka, negara harus menjamin perawatan kesehatan secara gratis tanpa dipungut biaya sedikit pun. 

Selain itu, negara menjamin keamanan peredaran obat yang di apotek dengan pengawasan ketat. Pengawasan ini dilakukan oleh pejabat (semacam badan pengawasan obat-obatan) untuk memeriksa seluruh apotek dan toko obat dengan mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian obat yang diperjual belikan. Hal ini dilakukan, karena Negara harus mencegah penggunaan bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup yang tidak sesuai aturan. 

Itulah aturan Islam dalam mengawasi obat-obat yang beredar di kalangan masyarakat. Inilah bukti bahwasannya, kesehatan rakyat sangat diutamakan. Maka, sudah saatnya pemerintah saat ini mengamalkan pengawasan ketat sesuai apa yang Islam ajarkan. Sehingga rakyat dapat kembali percaya kepada kinerja pemerintah yang sigap dan tepat. Wallahu’alam bi shawab.[]


Oleh: Ummu Athifa
Ibu Rumah Tangga, Member Revowriter dan WCWH

Posting Komentar

0 Komentar